7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 3)

Posted on 27 October 2008

Pagi ini saya pun menyantap makan pagi di hotel Santika. Pagi ini ada satu jenis masakan tradisional yaitu Nasi Pandat, suatu nama masakan tradisional yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ternyata Nasi Pandat ini adalah semacam semur ayam, tanpa kentang. Kuah bening yang kecoklatan berpadu cukup harmoni dengan daging ayamnya yang terasa empuk dan lembut di lidah. Hmm rasanya cukup enak juga.

Pada siang hari, saya menyantap Nasi Liwet Solo. Nasinya terasa gurih, semakin diperkuat dengan sambal goreng jipang. Setelah itu, saya mencoba Soto Mie yang terasa segar di siang itu dengan kucuran air perasan jeruk limau.

Di malam hari, bersama tiga rekan saya: Pak Bambang, Pak Tono, dan Pak Aman, kami pun makan di RM Padang Sederhana Bintaro. Masakannya sih lumayan, namun lebih dari itu, kami pun larut dalam pembicaraan seru tentang bisnis, NLP, dll.

Popularity: 22% [?]


7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 2)

Posted on 26 October 2008

Hari ini saya terbangun dengan kondisi yang masih mengantuk.

Betapa tidak?

Kemarin saya hanya tidur sekitar 2-3 jam saja karena tidur tengah malam (kejar setoran, hehehe) dan harus bangun pagi hari untuk berangkat ke Jakarta. Nah kemarin pun kejadian hampir mirip terjadi. Saya terpaksa baru bisa tidur jam 2 pagi dan terbangun jam 6 pagi karena koneksi Internet 3.5G dari IM2 sangatlah LAMBAT sehingga pekerjaan mengejar setoran ini harus diselesaikan dalam 2 shift.

Pagi hari tadi saya sarapan di Restoran Teluk Jakarta.

Ada sesuatu yang spesial di sana, tepatnya di samping kanan tangga melingkar, ada sebuah counter makanan tradisional yang menyajikan Nasi Gudeg. Sebenarnya gudegnya sendiri tidaklah terasa semanis gudeg di Jogja, maklum gudeg versi hotel bintang empat sehingga harus "aman" dikonsumsi berbagai khalayak nasional dan internasional. Telurnya terasa gempi (baca: kenyal), tempe dan tahu bacemnya pun terasa cukup enak di lidah. Arehnya sendiri berwarna putih terang.

Seperti biasa, saya pun mengambil makanan lain yaitu omelette keju dan jamur. Sayangnya sang koki menggoreng terlalu cepat sehingga saya masih mendapati sekian banyak potongan keju yang masih dalam bentuk aslinya (lembaran). Untunglah croissant isi coklatnya sangat prima untuk menggantikan kualitas omelette yang kurang yummy tadi.

Saat makan siang, saya mengambil sepiring nasi goreng disertai bakmie goreng, ayam goreng, asem-asem daging sapi, dan soto ayam Kudus. Nasi goreng dan bakmie goreng terasa standar saja, bahkan ayam gorengnya terasa alot saat digigit atau dipotong dengan sendok; namun soto ayam Kudusnya patoet dipoedjiken (demikian kata teman saya, Budi "j4j4np4s4r").

Masih belum puas, kembali saya mengincar counter makanan tradisional. Kali ini mereka menyajikan nasi gulai sapi. Berbeda dengan sensasi makan pagi sebelumnya, nasi gulai sapi ini kurang ‘nendang’.

Tapi untunglah rasa penasaran saya bisa terobati dengan segelas es krim dengan taburan coklat mesis dan kacang almond.

Sayangnya, saat saya mengetik artikel ini, koneksi 3.5 IM2 masih sangat mengecewakan. Walaupun signalnya menunjukkan 5 bar, tapi bisa jadi kecepatannya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan koneksi dial-up modem. Semoga 3.5G IM2 bisa semakin membaik.

Popularity: 22% [?]


7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 1)

Posted on 25 October 2008

Tadi pagi jam 4.30 dini hari, saya telah bangun dan berangkat ke bandara Ahmad Yani, Semarang. Ajaibnya, untuk pertama kalinya saya melihat pintu masuk ruang bandara masih tertutup dan para penumpang pesawat untuk penerbangan pertama sedang berdiri mengantri di depan pintu. Tidak menyangka antrian calon penumpang di bandara yang masih tertutup terlihat seperti antrian pengunjung di Mal Ciputra yang belum dibuka di pagi hari :-).

Kali ini saya meneruskan pembelajaran dengan mengambil pelatihan 7 Days Licensed NLP Practitioner bertempat di Hotel Santika (Jl KS Tubun, Jakarta) bersama Pak Ronny FR serta para peserta yang dahsyat; ada Mas Ikhwan Sopa dengan training E.D.A.N. yang pernah saya ikuti sebelumnya, juga ada Mas Hendry Risjawan dari Trainer’s Club Indonesia (TCI), dll. Saya melihat ada 2 orang tamu pengamat, yaitu Pak Asep dan Teddy. Keduanya merupakan praktisi NLP yang dahsyat pula.

Berhubung para peserta telah menandatangani perjanjian (dalam bahasa Inggris) sebelum mengikuti pelatihan yang training manual-nya di-approve langsung oleh Richard Bandler, maka saya pun memilih untuk tidak menuliskan cuplikan pembelajaran yang saya peroleh.

Karenanya saya akan menulis tentang makanan selama mengikuti pelatihan ini saja ya :-).

Ok, makan siangnya bertempat di Yan’s Palace yang bernuansa oriental.

Sebagai hidangan pembuka, saya pun mengambil sup jagung kepiting dan sepiring kecil salad dan pangsit goreng. Sup jagung kepitingnya cukup enak, serpihan daging kepitingnya pun cukup terasa.

Hidangan utama adalah semangkuk kecil nasi goreng dan sepiring aneka sayur dan lauk seperti Ca Brokoli Polos, Ayam Asam Manis, dan Ca Sapi Lada Hitam. Ca Brokoli-nya cukup lumayan, namun kedua masakan lain cenderung standar saja.

Untuk menutup makan siang kali ini, saya memilih sepotong cake, potongan buah melon, dan Es Tahu dengan buah Lychee kalengan.

Saya pribadi masih memilih makanan di Hotel Ciputra, Jakarta dengan aneka hidangan yang lezat dan sederet kue-kue cantik nan nikmat. Tapi ini masih asumsi awal karena hidangan Hotel Santika ini masih harus saya santap selama 6 hari ke depan.

Malam hari, saya pun mencari informasi di Internet. Berdasarkan hasil dari Googling dan info dari rekan saya Tjia Irawan, saya pun memutuskan untuk menyantap Sop Kaki Kambing Pak Maman di seputaran Kuburan Kober yang terletak tidak jauh dari Hotel Santika.

Berbeda dengan Sop Kaki Kambing dengan campuran susu yang kental, Sop Kaki Kambing Pak Maman ini berkuah bening walau agak keruh karena kaldu dari tulang kaki kambing. Saat menghirup sesendok kuah Sop Kaki Kambing, saya mendapatkan suatu sensasi kuah yang segar. Setelah mengucurkan air perasan jeruk nipis, kuah sop menjadi lebih sensasional; kian segar terasa di mulut.

Hmm, walau Sop Kaki Kambing ini hanya seharga makanan kaki lima (total "kerusakan" adalah Rp 18.500), namun rasanya hidangan ini yang menjadi makanan pilihan saya untuk hari pertama dalam mengikuti pelatihan 7 Days Licensed NLP Practitioner ini.

Sampai berjumpa di tinjauan kuliner pada hari-hari berikutnya..

Popularity: 23% [?]


Belajar Bisnis Internet GRATIS

Posted on 29 September 2008

Mendapatkan penghasilan dari Internet sangatlah menarik perhatian masyarakat Indonesia. Apalagi beberapa waktu terakhir ini, media massa juga ramai memberitakan sekian banyak rekan-rekan yang telah meraih sukses memperoleh penghasilan dari Internet. Belum lagi ditambah berbagai iklan tentang pelatihan mendulang dollar dari Internet.

Sayangnya, ada tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh seseorang yang baru memulai bisnis Internet atau bisnis Internet Marketing, yaitu Information Overload.

Saat mulai belajar mengenai Internet Marketing atau memulai bisnis Internet, Anda merasa belum tahu apa-apa sehingga merasa perlu banyak belajar. Dengan iming-iming penghasilan pasif sebesar puluhan juta rupiah per bulan, tentu saja Anda siap untuk menggelontorkan uang untuk belajar apapun. Anda pun mulai perjalanan pembelajaran Anda, belajar dari satu e-book ke e-book lain, belajar dari satu forum ke forum lain, belajar dari satu blog ke blog lain, hadir dari satu seminar/workshop Internet Marketing ke seminar/workshop Internet lainnya.

Lama kelamaan Anda bingung mana jalan yang harus Anda tempuh.

Setelah cukup lama, tiba-tiba Anda baru sadar bahwa sudah banyak waktu dan uang yang keluar untuk belajar, tetapi tidak ada hasil yang didapat, Anda merasa frustasi. Tidak tahu apa yang harus diperbuat berikutnya. Boro-boro penghasilan pasif puluhan juta rupiah per bulan, lha wong puluhan dollar (alias ratusan ribu rupiah) saja sulit dicapai.

Menyadari hal ini, saya bersama dengan partner saya Sukarto menyusun suatu pembelajaran selama 29 hari untuk membangun bisnis Internet. Materi pembelajaran ini disusun dengan suatu kurikulum tertentu yang telah kami susun berdua.

Harganya??

Seharusnya kami menjual materi pembelajaran 29 hari untuk membangun bisnis Internet ini seharga Rp 1.500.000. Namun untuk sementara waktu, kami berikan secara GRATIS!

Jadi pastikan Anda mendaftar SEKARANG juga di BelajarBisnisInternet.com!

image

Rekomendasikan teman, sahabat, saudara dan keluarga Anda yang tertarik untuk membangun bisnis Internet untuk mendaftarkan diri di situs tersebut. Ingat, untuk sementara waktu, saat ini masih GRATIS! Kami bisa sewaktu-waktu berubah pikiran dan menutup pintu AKSES KHUSUS secara gratis ini selamanya.

Sukses besar untuk Anda semua!

Popularity: 28% [?]


Bandung BootCamp 2008 – Day 0

Posted on 22 August 2008

Hari Rabu malam, untuk pertama kalinya saya menggunakan Kereta Api Harina jurusan Semarang – Bandung untuk mengikuti Bandung Bootcamp 2008 yang rencananya akan diadakan pada tgl 22-24 Agustus 2008.

Bbbrrrrr, udara dingin menerpa saat saya menginjakkan kaki di gerbong KA Harina. Luar biasa dingin! Malam itu, KA Harina cukup penuh.. Hampir tidak ada kursi yang kosong di gerbong yang saya tumpangi. Kira-kira pada jam 10 malam, perut sudah mulai berkeroncongan, dia menagih untuk diisi karena kebetulan saya belum sempat makan malam. Nasi Goreng dengan Telur Mata Sapi pun terasa cukup enak dalam menangsal perut lapar.

Perjalanan ini berjalan baik dan tiba tepat waktu. Sempat kebingungan dalam mencari Taxi Blue Bird di luar stasiun, karena ternyata TIDAK ADA! Syukurlah saya berhasil tiba di hotel Garden Permata di kawasan Setrasari, Bandung.

Tiba di hotel, ternyata belum bisa check-in. Untunglah saya ditampung di apartmen yang ditempati panitia. Lumayan, dapat secangkir kopi krimer hangat, biskuit, dan akses WiFi :-).

Jam 9 pagi, karena panggilan perut, saya pun mulai mencari makanan enak dengan berjalan kaki menyusuri jalan di sekitar hotel hingga Universitas Kristen Maranatha.

Pertama, saya menemukan warung bubur ayam di sebelah Universitas Kristen Maranatha. Warung tersebut cukup ramai dipenuhi oleh (kelihatannya) para mahasiswa Universitas Kristen Maranatha. Tidak lama menunggu, semangkuk bubur ayam pun tersaji. Buburnya berwarna putih, dengan taburan bawang goreng, cakwe, serpihan emping melinjo dan suwiran daging ayam. Buburnya terasa ringan, cocok untuk dimakan saat perut kosong di pagi hari.

Kedua, saya menikmati Es Durian Monthong. Saat pesanan disajikan, saya pun bengong karena benar-benar sesuai dengan arti harafiahnya. Ada sekian buah Durian Monthong bercampur dengan pecahan es batu dan susu kental manis. Walaupun Durian Monthongnya tipis (mungkin hasil pembudidayaan lokal), tapi saya menghitung ada 10 buah Durian Monthong dalam satu porsi. Rasanya mantap!

Ketiga, saya menikmati Batagor dengan bumbu kacang. Siomay goreng, tahu goreng, dan pangsit goreng terasa sangat pas dengan bumbu kacang yang gurih.

Masih belum puas, saya pun memesan Batagor dengan kuah. Di sini, walaupun komponennya sama, namun cita rasanya berbeda dengan pesanan saya sebelumnya. Kuah kaldu membuat sensasi yang berbeda.

Di sore hari, akhirnya Bandung Bootcamp 2008 pun dimulai dengan sesi matrikulasi bagi para peserta.

Diawali dengan sesi ice breaking dan perkenalan, selanjutnya peserta mengikuti sesi Pondasi Sukses Bisnis Internet yang saya pandu. Sebenarnya ini bukanlah sesi teknis, melainkan sesi yang diharapkan bisa menumbuhkan pengertian tentang pentingnya memiliki persepsi yang benar tentang Bisnis Internet, bagaimana merubah hasil, dan bagaimana menjalankan 5 langkah untuk mencapai kesuksesan.

Selanjutnya ada sesi self-hypnosis untuk membuat anchor para peserta masuk ke kondisi Alfa saat belajar sehingga bisa lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan.

Popularity: 27% [?]


Seminar Marketing Revolution – Tung Desem Waringin

Posted on 19 August 2008

Hari Rabu lalu, saya berkesempatan mengikuti Seminar Marketing Revolution dengan pembicara Pak Tung Desem Waringin. Seminar ini diselenggarakan oleh Gramedia, diberikan gratis kepada setiap pembeli buku Marketing Revolution. Karena saya membeli buku tersebut pada hari pertama peluncuran buku, maka saya memperoleh 2 tiket seminar secara gratis.

Dalam perjalanan ke Gedung RRI di Jl A Yani Semarang, saya mendapatkan sebuah SMS yang pada intinya menyatakan bahwa saya diperbolehkan membawa seorang teman lagi untuk menghadiri seminar Marketing Revolution tersebut, GRATIS! Dahsyat…

Mendadak saya teringat akan dua orang teman dari sekian banyak teman yang saya promosikan buku ini.

Kedua teman ini sama-sama tertarik untuk ikut, apalagi ketika mengetahui akan mendapat 2 tiket gratis. Jawaban mereka juga sama, “Tiket yang satu untuk istri, agar bisa belajar dan membuka hati”. Namun menariknya, kedua teman ini juga sama-sama menunda untuk membeli buku tersebut sehingga akhirnya harga buku tersebut naik dan bonus pembelian buku Marketing Revolution hanyalah 1 tiket seminar saja.

Lebih menarik lagi, salah seorang teman itu tetap membeli dan yang satu lagi batal membeli.

Klimaksnya, teman yang membeli buku itu tetap bertekad berangkat ke RRI bersama istri. Dia mau berusaha mencari tiket di sana. Sedangkan teman yang satu mengurungkan niatnya untuk membeli buku maupun mengikuti seminar Marketing Revolution.

Apa yang terjadi?

Tentu saja teman yang membeli buku tadi menjadi berbahagia, karena dia akhirnya bisa ikut seminar bersama sang istri tercinta; sedangkan teman yang satu lagi tetap tidak membaca buku, apalagi mengikuti seminar tersebut.

Moral cerita di atas adalah kita harus tetap berusaha yang terbaik; masalah hasil, kita serahkan kepada Yang Di Atas. Orang yang mengambil tindakan memiliki kemungkinan berhasil 50%, tapi orang yang sama sekali tidak bertindak, kemungkinan berhasilnya 0%.

Ok, sekarang kembali ke topik Marketing Revolution.

Seminar dimulai jam 19:30 alias 30 menit terlambat dari jadwal. Seperti biasa, Pak Tung Desem tampil dengan energik. Namun malam itu, suara beliau terdengar serak.. Mungkin karena jadwal seminar Marketing Revolution beliau yang begitu padat. Sehari sebelumnya Pak Tung Desem mengadakan 3 seminar (1x di Solo dan 2x di Jogjakarta) dan hari itu 2 seminar di Semarang.

Para peserta dirubah state-nya dengan melakukan banyak gerakan, mulai dari Wusss hingga Guncang Bumi.

Pak Tung Desem menjelaskan pengertian Ilmu Marketing dan Ilmu Marketing Revolution. Perbedaan yang paling mencolok adalah peningkatan secara cepat dan dalam jumlah yang besar. Itulah Marketing Revolution.

Beliau memberikan cukup banyak contoh penerapan Marketing Revolution, mulai dari pemberian bonus yang terlihat begitu menariknya (padahal bonus tersebut dibeli dengan harga yang murah karena dibeli dari PABRIKnya) hingga menghilangkan risiko bagi pembeli (money back guarantee).

Selanjutnya, Pak Tung Desem Waringin juga menjelaskan tentang penggunaan publisitas dan endorsement dalam melakukan penawaran produk/jasa secara massive, termasuk kejadian saat beliau menyebarkan uang Rp 100 juta dari pesawat terbang saat peluncuran buku Marketing Revolution.

Luar biasanya, dia juga mendemokan langsung penerapan Marketing Revolution untuk produk/jasanya sendiri. Saat itu, beliau memberikan penawaran yang luar biasa, sejumlah produk pembelajaran multimedia dan 2 tiket Financial Revolution (3 hari) dengan nilai total Rp 13 jutaan, dijual seharga kurang dari Rp 2 juta – hanya untuk 20 orang pertama. Terlihat begitu banyak orang berlari ke tempat pendaftaran di bagian belakang untuk mendapatkan penawaran istimewa ini.

Saya lihat ini benar-benar penerapan kombinasi dari Hukum Keterbatasan, Irresistable Sensational Offer, Fear & Greedy.

Sayangnya seminar masih belum usai, padahal sudah jam 10 malam lebih. Akhirnya saya dan istri pun harus meninggalkan tempat seminar Marketing Revolution lebih awal karena sudah cukup lama Brian dititipkan kepada keluarga kami.

NEW!! NEW!! APRIL 2009!!

Inginkah Anda mengetahui Rahasia Menjadi Kaya dan Bertumbuh Semakin Kaya?

Inginkah Anda mengikuti seminar Financial Revolution dari Tung Desem Waringin selama 3 hari dengan GRATIS??

Inginkah Anda mendapatkan eBook “24 Prinsip Miliarder yang Mencerahkan” senilai Rp 250.000,- dari Tung Desem Waringin secara GRATIS???

Daftarkan diri Anda di sini SEKARANG!!

Popularity: 26% [?]


Wisata ke Jogjakarta dan Candi Borobudur

Posted on 30 June 2008

Berhubung masih ada tamu keluarga dari Jakarta, maka walaupun kami sudah berwisata di Palm Beach Resort dengan Pantai Bandengan dan pasir putihnya, namun kami juga berangkat berwisata ke Jogjakarta pada hari Sabtu dan Minggu kemarin.

Kami berangkat dari Semarang sekitar jam 8.30, namun karena kelaparan, akhirnya kami pun mampir dahulu di Simpanglima untuk menikmati Bubur Ayam Simpanglima dengan suwiran daging ayah dengan telur kuah kecapnya. Perjalanan ke Jogjakarta cukup ramai, terlihat banyak mobil pribadi yang menuju ke Jogjakarta untuk menikmati liburan juga; maklumlah sedang musim liburan sekolah.

Sampai di Jogjakarta, saya dan Elly segera membungkus Lotek langganan di daerah Colombo dan langsung berangkat ke RM Es Eny di dekat Mal Galeria. Anak-anak pun makan dengan lahap di sana, sementara saya dan Elly menikmati Lotek kesukaan kami.

Usai makan dan menaruh barang bawaan di tempat penginapan, kami pun berangkat menuju ke Kasongan. Kasongan merupakan suatu daerah di Bantul yang menjual berbagai kerajinan tangan dari batu, tembikar, terakota, dll. Ada yang berbentuk semacam tugu kecil dengan aliran air yang menggerakkan bola batu sehingga berputar terus menerus. Ada pula yang berbentuk relief wajah Sang Buddha Gautama dengan aliran air yang mengucur turun. Sungguh kerajinan tangan yang mempesona. Harganya pun relatif lebih murah ketimbang barang-barang serupa yang dijual di berbagai Mall di kota besar seperti Jakarta.

Karena sudah sore, dari Kasongan, kami pun langsung berpindah tempat ke Kotagede untuk menyantap Sate Sapi Karang. Yang paling istimewa bagi saya adalah lodeh tempenya. Biasanya orang memakan sate dengan lontong berbumbu kacang, namun di sini, potongan lontong yang ditata di dalam piring diguyur kuah lodeh tempe. Kuah lodeh yang encer berpadu potongan tempe sungguh menggugah selera. Daging sapinya terasa cukup empuk di lidah. Oh ya, teh manisnya menggunakan gula batu lho, hmmm nikmat bangettt..

sate-karang-kotagedhe-1 sate-karang-kotagedhe-2
Lontong Lodeh Tempe Sate Sapi Karang, Kotagede

 

Usai mandi sore, kami pun berangkat ke Plasa Ambarrukmo (biasa disebut dengan “AmPlas”). Wuih, terjadi kemacetan cukup panjang di Jl Solo karena banyaknya mobil yang antri masuk tempat parkir Plasa Ambarrukmo. Beruntunglah kami mendapatkan tempat parkir di puncak atap plasa tersebut. Anak-anak pun makan malam dengan hidangan Beefbowl dari Goiza. Seperti biasa, saya pun melihat-lihat buku di Toko Buku Gramedia. Wah, koleksi buku-bukunya jauh lebih lengkap dan lebih baru ketimbang di Semarang! Elly berhasil mendapatkan jam tangan G-shock yang dia idamkan dengan harga promo; dan anak-anak pun bermain riang gembira di Timezone.

Sebagai hidangan penutup hari itu, kami pun membeli Nasi Goreng Ketandan, di dekat toko oleh-oleh Bakpia Patuk. Nasi gorengnya terasa begitu pulen, berbaur harmonis dengan keekian, daging ayam, dan potongan sayur. Hmm, sungguh suatu hidangan penutup yang luar biasa.

Keesokan harinya, kami sarapan dengan Nasi Gudeg Yu Djum di daerah Kaliurang km 5. Sebenarnya Nasi Gudeg Yu Djum ini berpusat di kawasan Selokan, namun saya lebih sering makan nasi gudeg yang di Kaliurang.

Selesai makan, Elly dan Emmy berniat mencari berbagai batik untuk oleh-oleh. Nah, saya kebagian tugas untuk menggembalakan 3 anak kambing… eh, salah tulis, mengasuh 3 anak kecil! 🙂 Akhirnya kami memilih untuk berjalan-jalan keliling Jogjakarta dengan menaiki bus Trans Jogja yang masih anyar tersebut.

Impresif! Pelayanan para petugas di shelter Malioboro sangatlah prima. Mereka menjelaskan perbedaan rute 1A (Prambanan) dan 2A (Terminal Jombor) dengan cukup baik dan sabar. Kami pun memilih rute 1A dengan jarak tempuh sekitar 2 jam, agar Elly dan Emmy puas memilih batik di Pasar Beringhardjo dan Mirota Batik. Bis Trans Jogja pun tiba dan kami berempat pun menaiki bis tersebut. Brian, Kayra, dan Jo mendapatkan tempat duduk bersebelahan, sedangkan saya berdiri hingga akhirnya ada penumpang lain yang turun dan saya pun mendapatkan tempat duduk. Kami pun berkeliling melewati Janti, Kalasan, Bandara, Prambanan, Plasa Ambarrukmo, Mangkubumi, dan akhirnya kembali ke Malioboro. Dengan hanya membayar Rp 3.000 /orang, perjalanan selama 2 jam ini cukup nyaman. Pendingin (AC) berjalan dengan baik, kebersihan bis juga sangat terjaga, dan keramahan awak bis membuat saya mengacungkan jempol kepada Trans Jogja. Kiranya kualitas layanan prima ini tetap terjaga baik untuk ke depannya.

bis-trans-jogja  
Brian, Jojo, dan Kayra dalam bis Trans Jogja  

 

Karena waktu yang terbatas, kami mengurungkan niat untuk makan sego abang (nasi dari beras merah) di daerah Wonosari. Akhirnya kami pun makan siang di Ayam Goreng Soeharti. Kali ini, kami memesan satu menu tambahan yaitu Oseng-oseng Daun Pepaya. Wow, enak! Rasa sedikit pahit dari daun pepaya membuat ayam goreng terasa lebih menonjol.

Usai makan siang, kami pun berkemas dan meninggalkan kota Jogjakarta untuk menuju ke Candi Borobudur. Di sana, kami juga akan bertemu dengan keluarga Handoyo (kakak Elly) yang menyusul dari Semarang. Kami tiba di Candi Borobudur pada pukul 4:30 sore. Kami cukup beruntung karena pintu masuk Candi Borobudur ditutup jam 5 sore. Selain itu, cuaca nampak cukup teduh (memang agak mendung, tapi bisa juga karena sudah cukup sore).

 

candi-borobudur-1 candi-borobudur-2
candi-borobudur-3 candi-borobudur-4
candi-borobudur-5 candi-borobudur-6
candi-borobudur-7 candi-borobudur-8

 

Akhirnya kami pun menuju kota Magelang untuk makan malam. Tadinya kami akan makan di RM Pancoran, namun karena tempatnya cukup penuh sehingga tidak ada meja yang cukup untuk rombongan kami, akhirnya kami pun pindah ke rumah makan di sebelahnya (sorry, lupa namanya).

Berakhirlah liburan wisata kami ke Jogjakarta (Kasongan, Kotagede, Malioboro) dan Candi Borobudur. Sungguh mengasyikkan, dan kiranya akan berlanjut terus ke tempat lain yang asyik dengan acara yang makin asyik.

Selamat menikmati hari liburan bersama orang-orang yang Anda cintai!

Popularity: 32% [?]


Palm Beach Resort, Jepara (3)

Posted on 26 June 2008

Pagi hari yang cerah ini kami lewati dengan riuh rendahnya pekik anak-anak yang bermain air di kolam renang. Sambil bermain air, mereka pun sibuk menyantap menu sarapan pagi yang disediakan Palm Beach Resort. Ada Nasi Goreng dengan Sate Udang dan Telur Mata Sapi, ada pula Roti Bakar dengan Omelette.

Seperti tak kenal lelah, anak-anak pun berpindah ke pantai untuk bermain pasir putih dan mengumpulkan kerang dan bebatuan dengan berbagai bentuk

palm-beach-resort-jepara-12 palm-beach-resort-jepara-13
Brian, Josibel, dan Sandy sibuk bermain pasir Brian dengan kerang temuannya

 

Akhirnya kami checkout dari Palm Beach Resort sekitar jam 12:30. Di perjalanan, kami sempat mampir minum Es Dawet Durian di daerah Welahan yang rasanya enak dan menyegarkan. Sayangnya kami tidak kebagian Es Gempol di dekat Kelenteng Welahan yang terkenal itu.

Berakhir sudah perjalanan wisata kami ke Palm Beach Resort, Jepara dengan pemandangan Pantai Bandengan berpasir putihnya. Kiranya kami akan berkunjung ke sana lagi untuk menikmati liburan yang jauh lebih asyik lagi. Ciaoo!!

Technorati Tags: ,,,

Popularity: 21% [?]


Next Page »