« - »

Bangsa ini Harus Belajar Kedisiplinan (2)

Posted on 27 October 2004

Setiap kali saya, istri dan anak ngiras diluar dan tempat makan yang dikunjungi dalam keadaan penuh, saya selalu dibebastugaskan istri dari urusan antri, terutama bila antrian bersifat manual langsung ke penjual. Kenapa ?? Karena dalam melakukan antrian, saya selalu berasumsi semua orang akan ikut antrian yang benar dan saya tidak melakukan tindakan sikut-sikutan atau bolak-balik ngomong pesanan kepada penjual agar segera dilayani; sehingga kerapkali kita dilayani sekian lama dan dilewati oleh orang-orang yang sebenarnya baru datang setelah kami. Alhasil, sang istri jengkel dan mengambil alih tugas antrian dan dalam hitungan menit kami telah menikmati pesanan makanan.

Saya yakin kebanyakan dari kita pernah mengalami hal yang serupa, mungkin berbeda kasusnya, tapi intinya, kebanyakan orang mungkin mengawalinya dengan antrian yang benar, namun karena diperlakukan tidak adil (orang lain yang tidak antri dengan benar malah mendapatkan giliran lebih dahulu), akhirnya menjadi ikut-ikutan tidak antri dengan benar.

Masalahnya, apakah kita mau seperti ini terus ?? Marilah kita ambil komitmen bersama untuk melakukan antrian dengan tertib dan benar, dan tetap teguh menjalankan itu; jangan ikut-ikutan melanggar antrian hanya karena ada orang lain melakukannya; bilamana bisa, justru kita ingatkan orang yang melanggar tersebut, sehingga tercipta budaya antri yang tertib dan benar. Setuju ??

Popularity: 7% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


2 Responses to 'Bangsa ini Harus Belajar Kedisiplinan (2)'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Bangsa ini Harus Belajar Kedisiplinan (2) '.


  1. on June 12th, 2006 at 3:33 pm

    Sedikit rasa displin tidak akan membuat kita sengsara.


  2. on June 19th, 2006 at 11:39 am

    […] Di luar dugaan, Brian pun menarik tangan saya dan berkata ingin ikut berfoto dengan Dea Imut. Penasaran, saya pun mengikutinya menuju ke rumah contoh yang sudah sangat padat dikerumuni orang-orang yang ingin berfoto bersama. Untuk pertama kalinya, saya melihat betapa Brian punya berkeinginan kuat untuk melangkah maju antrian tiap kali ada peserta lain di depan yang masuk ke dalam rumah contoh. Biasanya dia malah tergolong anak yang malu dan enggan antri berdesak-desakan seperti ini (yah, mirip dengan saya gitu deh ). Tak segan-segan ia pun mendesak orang lain yang melanggar jalur antriannya. Jari tangan saya pun digenggamnya erat-erat. Selang beberapa lama kemudian, akhirnya kami pun mendapatkan kesempatan untuk berfoto bersama Dea Imut. […]

Leave a reply