« - »

Disiplin saat ada pengawasan ??

Posted on 20 October 2004

Semenjak saya bekerja disuatu perusahaan berlokasi di Ungaran (sekitar 5,5 tahun yang lalu hingga sekarang), setiap hari saya harus melewati jalan Dr Sutomo (aka Kalisari) pada sekitar pukul 06:15 – 06:30 pagi. Ruas jalan ini sangatlah padat pada jam-jam tersebut karena banyak kendaraan bermotor yang digunakan untuk mengantar anak-anak bersekolah (disana ada TK, SD, dan SMP yang cukup favorit di Semarang).

Selama 5 tahun lebih, saya melihat betapa banyak orang yang melakukan tindakan seenaknya namun merugikan orang lain, tanpa sedikitpun rasa bersalah. Suatu pemandangan yang biasa saat kita melihat sederetan mobil menutup jalan Dr Sutomo karena mereka ingin melakukan U-turn (berbalik arah 180 derajat). Dengan santai, mereka menutup setengah jalan dengan mobilnya saat menunggu untuk mendapatkan celah sehingga mereka bisa berbalik arah. Menariknya, semuanya ini mereka lakukan dengan acuh, menganggap semua ini normal-normal saja, bahkan banyak yang melakukannya sambil ‘cengengesan’ atau tertawa-tawa.

Sungguh, saya hanya bisa mengelus dada. Pernah terpikir untuk mengirimkan surat ke Suara Merdeka selaku koran daerah nomor satu, untuk dimuat di bagian Surat Pembaca; namun saya tunda, siapa tahu ada perubahan. Namun perubahan tidak kunjung tiba.

Selanjutnya, pernah terpikir juga untuk mengirimkan surat ke sekolah-sekolah dilokasi itu; memintanya untuk meredakan kemacetan lalu lintas ini. Waktu itu, saya berpandangan bahwa sekolah punya kekuatan untuk melakukan ini. Tinggal membuat suatu surat edaran kepada semua orang tua murid, meminta mereka untuk tidak melakukan U-turn disepanjang jalan Dr Sutomo pada jam-jam tertentu; dan setiap terjadi pelanggaran, maka orang tua murid yang bersangkutan dipanggil ke sekolah untuk diberikan pengertian. Namun saya juga tidak melakukannya, karena saya pikir ini suatu ide yang gila, apa hubungannya sekolah dengan kemacetan lalu lintas ??

Beberapa bulan terakhir ini, ada sesuatu yang lain; kemacetan di ruas jalan Dr Sutomo sangat berkurang namun dibayar dengan suatu harga yang cukup mahal. Saya menghitung ada sekitar 8-10 orang polisi berdiri di median jalan dengan jarak tertentu, sehingga semua mobil diarahkan untuk tidak melakukan U-turn di sana.

Sungguh menyedihkan, suatu kedisiplinan yang dipaksa karena otoritas (baca: hukuman) ?? Pernah beberapa kali saya melihat tidak ada polisi atau jumlah polisi tidak sebanyak biasanya, maka pelanggaran yang sama dilakukan kembali. Apa artinya ini semua ?? Orang Indonesia hanya disiplin kalau ada hukuman dan kalau dijaga oleh yang berwenang ??

Ironisnya, diluar negeri, saya melihat betapa orang Indonesia mampu menunjukkan dirinya sebagai orang yang berdisiplin, membuang sampah pada tempatnya, menyeberang jalan pada tempatnya, antre sesuai jalur dan gilirannya. Namun sepulang mereka ke Indonesia, mereka akan kembali menjadi orang Indonesia yang bandel, selalu melanggar kedisiplinan, membuang sampah sembarangan, menyeberang jalan seenaknya saja, menerjang antrean dengan sikut dan badannya.

Phew, sungguh, kita harus berprihatin atas semua kejadian ini; harus bercermin pada negara tetangga Singapura ataupun Malaysia yang jauh lebih baik walaupun masih sama-sama negara ASEAN dengan mayoritas penduduk dengan ras atau agama yang sama. Ini menunjukkan bahwa bukan ras, agama, atau faktor keturunan lain, namun bagaimana negara dan aparat menanamkan kesadaran berdisiplin tinggi kepada rakyat dan bagaimana rakyat memahami bahwa disiplin itu diperlukan agar semua pihak sama-sama tidak dirugikan dan disiplin itu dilaksanakan tanpa perlu penjagaan aparat, melainkan penjagaan bersama dan saling mengingatkan antar masyarakat.

Semoga Indonesia akan menjadi negara yang berdisiplin tinggi, dengan kesadaran sendiri, tanpa harus dijaga ketat oleh pengawasan aparat dll.

Popularity: 3% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply