« - »

Memang Sulit Me-manage PRT

Posted on 30 November 2004

Sengaja judulnya saya tulis menggunakan kata “Me-manage” ketimbang “Mengatur”; karena saya khawatir munculnya kesan yang berbeda dari apa yang saya maksudkan.

Belum usai kecapekan atas kepulangan Pembantu Rumah Tangga (PRT) saat libur Lebaran kemarin, kami pun dihadapkan pada masalah lain. PRT kami menyatakan ingin mengundurkan diri dan mencari kerja di Jakarta (hey, what’s so special with that city, so that everyone wants to live there ?? 🙂). Keinginannya memang telah diutarakan sebelum pulang dan setelah menempuh sekian pembicaraan, dia pun setuju untuk menunda kepergiannya sampai beberapa hari setelah libur Lebaran dan sekaligus membawakan seorang temannya sebagai PRT pengganti. Selama 4 hari, temannya yang menggantikan menjadi PRT bekerja bareng dengannya, dan mereka terlihat cukup menikmati pekerjaannya. Lalu perpisahan itu pun terjadilah, PRT kami pun berpamitan untuk berangkat ke Jakarta. Selama 2 hari, PRT pengganti pun melaksanakan tugasnya dengan lumayan baik (memang sih, masih banyak yang harus dipelajari, but it’s Ok, kami juga tidak pernah memarahinya).

Pada hari Sabtu pagi yang lalu, saat bangun tidur, kami pun dikejutkan dengan kenyataan bahwa pintu depan tidak terkunci, PRT pengganti tidak ada, dan ada selembar surat yang ditinggal di atas meja. Surat tersebut menyatakan bahwa dia takut sendirian, ingin pulang, namun takut untuk bicara dengan kami. Anehnya, di dalam kamarnya ditemukan beberapa lembar draft surat untuk pamit, namun dengan berbagai alasan (keluarga sakitlah, pulang kampunglah, takut sendirianlah, dll), jadi rasanya ini sudah suatu tindakan yang dipersiapkan sebelumnya.

Sungguh mengejutkan, selama sekian tahun berumahtangga, kami tidak pernah mengalami kejadian PRT ‘minggat’ (baca: pergi tanpa pamit), apalagi saya dan istri tidak pernah memarahi PRT dengan keras, apalagi dengan hukuman macam apapun juga. Mereka punya kebebasan untuk pergi bilamana mereka perlu, bisa menerima telpon dengan bebas, menu makan yang sesuai dengan selera mereka (karena belanja sendiri), belanja untuk kebutuhan mereka sehari-hari, nonton acara TV kesukaan mereka. Saya jadi bingung, apalagi yang diminta yah ??

Setelah direnungkan, memang proses recruitment dan manage PRT sungguh sulit bila dibandingkan karyawan perusahaan. Kita merekrut PRT bukan berdasarkan surat lamaran ataupun CV-nya. Seringkali kita menerima PRT tanpa asal-usul dan latar belakang yang jelas. Bahkan wawancara yang diadakan pun terkesan sekedarnya. Sungguh bertolak belakang dengan karyawan perusahaan, bukan ?? Oleh karenanya, saya rasakan me-manage PRT sungguh amat sulit sekali. Mungkin bila ada seminar yang membahas masalah ini, bisa jadi cukup laris lho :-).

Popularity: 4% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply