« - »

Kenaikan BBM

Posted on 1 March 2005

Semalam saya harus pergi ke Department Store untuk membeli suatu wadah dengan takaran untuk PowerFuel yang barusan saya beli patungan dengan Wilson. Di sepanjang perjalanan, saya melihat antrian yang sungguh luar biasa panjang, dimana sangat banyak orang antri untuk membeli bensin yang dikabarkan akan naik harganya per 1 Maret 2005 ini. Tadinya saya berpikir untuk juga membeli bensin (karena kebetulan tangki juga sudah setengah kosong), namun melihat antrian kemarin, saya mengurungkan niat tersebut karena nilai penghematan tidaklah sesuai dengan upaya yang harus dilakukan (Rp 12.000,- vs 30 menit lebih).

Malamnya, saya pun melihat acara TV yang menyiarkan begitu banyak anggota masyarakat yang melakukan protes, tidak ketinggalan para mahasiswa dengan segala ke-idealisme-annya menuntut Presiden SBY untuk mundur. Saya pun mengelus dada.

Walaupun saya hanya seorang rakyat jelata, bukan pengamat, ahli keuangan, atau apapun juga; namun saya punya satu pandangan: ada sesuatu kebenaran yang tengah diperjuangkan oleh Presiden SBY dan para staff ahlinya. Saya pikir, SBY tahu persis bahwa menaikkan harga BBM mempunyai risiko sangat tinggi atas posisi beliau dan penilaian masyarakat akan kinerja beliau. Banyak orang akan memilih mengambil langkah aman dengan menuruti suara terbanyak, dan tidak menaikkan harga BBM. Masalah defisit negara, biarin aja; toh memang sudah defisit besar. Namun saya sungguh salut terhadap SBY, beliau sangat concern atas pembangunan perekonomian negara dalam jangka panjang, bukan sekedar jangka 5 tahunan saat beliau menjabat sebagai Presiden RI saja. Bahkan dalam melakukan pembangunan ini, beliau sampai sebegitu berani mengambil risiko untuk dicela, dicemooh, dan bahkan didemo oleh lapisan masyarakat yang kontra atas kenaikan BBM. Sungguh suatu tindakan yang patut diacungkan jempol.

Justru yang harus disayangkan adalah adanya sikap masyarakat sebagai pelaku bisnis, yang langsung mematok adanya kenaikan harga dengan tingkat persentase yang hampir serupa pula dengan kenaikan BBM. Bukankah BBM hanyalah sebagian dari komponen biaya produksi ?? Rasanya tidaklah adil bila langsung menaikkan harga suatu produk/jasa sebesar 30%, padahal BBM hanyalah berkontribusi sebesar 20% (misalnya) pada Harga Pokok Produksi. Inilah gejala yang harus diwaspadai dan diprotes oleh para mahasiswa dan elemen masyarakat yang katanya kritis itu.

Kiranya ini merupakan keputusan terbaik bagi RI dan bisa diterima oleh khalayak ramai.

Popularity: 2% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply