« - »

Mencari di Tempat yang Salah Karena Lebih Mudah

Posted on 10 March 2005

Saya yakin Anda semua tentu pernah mendengar / membaca tentang suatu humor seperti ini (maaf, karena saya tidak punya naskah aslinya, maka saya tulis seingat saya):

Alkisah suatu malam John sedang lewat di suatu jalan dan melihat ada seseorang sedang merangkak dibawah tiang lampu penerangan, sepertinya sedang mencari-cari sesuatu. John pun menghampiri orang tersebut.

John: “Pak, apakah Anda kehilangan sesuatu ?? Apakah itu ?? Siapa tahu saya bisa ikut membantu Anda”

Bapak: “Ya, saya kehilangan cincin kawin saya, ini adalah harta saya yang paling berharga dan tak ternilai harganya”

John: “Ok, coba saya bantu Bapak untuk mencarinya”

(beberapa lama kemudian)

John: “Waduh Pak, sudah sekian lama kita mencarinya; tapi tidak ketemu juga. Dimana sih persisnya Bapak kehilangan cincin tersebut, sehingga kita bisa mencari lebih baik lagi ??”

Bapak: “Hmm tadi sih hilang di pinggir jalan sana” (sambil menunjuk arah ujung jalan)

John: “Lho, kalau hilangnya disana, kenapa Bapak mencarinya disini ??”

Bapak: “Habisnya disana gelap, khan tidak kelihatan.. Mendingan cari disini karena lebih terang”

Wah, jangan tertawa dulu; terkadang kita bisa juga tanpa sadar melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Bapak tersebut.

Saat menghadapi masalah yang pelik dan sulit mendapatkan solusi yang tepat, terkadang kita tidak fokus ke inti permasalahan dan malah mencoba berpindah-pindah mencari solusi lain yang sebenarnya kurang tepat hanya karena ingin mencari mudahnya saja. Ada pendapat bahwa saat menjumpai jalan buntu, kita coba menyegarkan pikiran dengan berpikir hal yang lain atau berpikir dari sudut pandang yang lebih disederhanakan; saya sih setuju-setuju saja, toh ini masih dalam rangka mencari solusi yang tepat; anggap saja ini bagian dari Creative Thinking.

Namun saya justru tidak setuju bila saat menggunakan pendekatan ini, kita mendapatkan suatu solusi yang kurang tepat namun kita ‘paksakan’ (lha habisnya masalahnya memang rumit dan ini adalah solusi terbaik yang bisa kita pikirkan), sudah berpuas diri dan meyakinkan diri bahwa ini pastilah solusi yang paling benar; dan tidak melakukan uji coba dan verifikasi atas solusi tadi (atau melakukan uji coba pada saat yang sangat mepet, sehingga risiko kegagalan jauh lebih besar), lalu tidak mencari solusi lain yang sekiranya lebih tepat.

Penyelesaian masalah haruslah melalui suatu metodologi yang runut dan sistematis. Janganlah kita berpuas diri bila misalnya masalah tersebut tidak muncul lagi (ingat, mungkin saja penyebab masalah masih belum teridentifikasi dan belum terselesaikan, namun secara kebetulan masalah tersebut belum terjadi lagi). Jangan pula berpuas diri bila kita tidak bisa menjelaskan alur logika atas solusi yang kita lakukan (“Wah kayaknya penyebabnya mungkin ini, sehingga solusi ini yang mungkin mengatasi masalah ini” :-(. Solusi “mungkin” macam apa pula itu, arghhhh).

Tapi apa boleh buat, secara teori memang demikian; namun pada prakteknya, sangatlah sulit untuk melaksanakannya (termasuk saya sendiri). Mau contoh ?? Berapa kali kita melakukan restart komputer saat menjumpai suatu masalah yang aneh ?? Berapa kali kita meng-edit ulang, compile, dan link source code atas suatu routine kecil yang kita yakini kebenarannya 200% ??

Mari kita belajar mencari di tempat yang benar, no matter how difficult it is.

Popularity: 2% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply