« - »

Waroeng Semawis Semarang (2)

Posted on 25 July 2005

Setelah kunjungan pertama ke Waroeng Semawis Semarang pada hari Jumat lalu, saya pun sangat memimpikan untuk datang kedua kalinya kesana. Mimpi saya itu pun terwujud semalam :-). Kali ini kami telah mempersiapkan diri baik-baik, dengan mengurangi makan siang hari dan menunda makan malam hari.

Sasaran pertama adalah Sate Babi Singapore, yang tercium begitu harum.. Sayangnya tidak ada meja dan kursi di dekat sana yang tersisa sehingga kami tidak bisa makan :-(.

Sasaran berikutnya beralih ke Sate Babi ala Sate Kambing. Kali ini kami berhasil memperoleh meja dan kursi yang tidak jauh dari kedai tersebut. Sayangnya, peminat masakan ini begitu banyak dan penjual memperkirakan 1 jam untuk menyiapkan hidangan bagi kami, sehingga kami harus WO nih (padahal tadinya sempat berpikir mau KKN dikit karena ternyata mertua kenal dengan penjualnya :-D).

Sasaran ke-tiga adalah Raja Baikut. Kami memesan Raja Baikut Goreng dan Yan Sio Baikut Goreng. Waktu yang dibutuhkan cukup lama, kami sempat heran tatkala melihat orang lain yang datang belakangan telah mendapatkan pesanannya; namun kami memutuskan untuk berpikir positif, siapa tahu mereka memesan makanan yang lebih singkat waktu pemasakannya atau mereka telah memesan masakan namun baru mendapatkan tempat duduk. Raja Baikut Goreng adalah Baikut yang diberi bumbu tepung dan digoreng crispy, cukup renyah dan enak; sedangkan Yan Sio Baikut Goreng adalah Baikut yang digoreng dengan saus mentega. Saya cenderung lebih menyukai Raja Baikut Goreng, sedangkan istri dan mertua lebih suka yang satunya.

Oh ya, saya juga sempat membeli 2 macam teh di Kedai Teh; yaitu 24h Herbs Tea yang katanya bisa menurunkan panas dalam dan Luohankuo Tea yang bermanfaat bagi kesehatan paru-paru. Rasanya cukup enak, harga pun tidak mahal (Rp 2000 untuk segelas plastik kecil). Mereka menjual bermacam-macam teh, mulai dari Woman Beauty Tea yang bermanfaat untuk menghaluskan kulit, American Ginseng Tea untuk meningkatkan vitalitas pria, Teh Pelangsing Badan (hihihi, harusnya saya pesan yang ini kali yah ??), dll.

Sasaran ke-empat adalah Guotie Goreng. Guotie adalah semacam dumpling yang digoreng namun masih basah. Yang antri, luar biasa banyaknya. Sembari menunggu, saya pun berpindah ke tempat penjualnya membuat Guotie Goreng. Dia membungkus campuran adonan dan daging dengan kulit Guotie, lalu menatanya di wajan yang telah diberi minyak goreng, selanjutnya dia menuangkan suatu cairan (air putih?) dan menutup wajan diatas kompor yang telah menyala. Cara memasak yang unik ini menghasilkan Guotie yang matang digoreng di satu sisi (ada sedikit sangit, tapi ini justru menambah kelezatannya) dan matang dikukus di sisi yang lain. Sungguh suatu masakan yang unik dan lezat.

Kebetulan karena mertua mengajak Elly dan Brian ke Kelenteng untuk melihat Perahu dan Lampion, saya punya waktu untuk melanjutkan wisata kuliner pribadi :-). Saya tertarik pada Soto Kerbau Kudus, karena belum pernah makan ini sebelumnya. Ternyata mirip Soto Sapi, namun kuahnya tidak menggunakan santan sehingga relatif bening. Sebagai lauk tambahan, saya pun memesan potongan daging kerbau dan paru.

Sebetulnya saya masih mengincar hidangan penutup di kedai lain; ada beberapa pilihan yang cukup menarik yaitu Nasi Kebuli (belum pernah makan), Bubur Ayam Oriental, atau Sate Kambing Pak No. Sayangnya Elly dkk pun sudah datang dan PPK (Polisi Pengawas Kuliner) pun menyatakan bahwa sesi malam itu sudah cukup dan tidak boleh nambah makanan lagi :-(. Akhirnya kami pun pulang.

But don’t worry, Semawis, I’ll be BACK !!

Popularity: 8% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


2 Responses to 'Waroeng Semawis Semarang (2)'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Waroeng Semawis Semarang (2) '.

  1. novi said,

    on May 9th, 2007 at 5:11 pm

    Guotie Goreng… Guotie adalah semacam dumpling yang digoreng namun masih basah… Maksud nya apa tho pak hian?
    Udah dijelasin malah tambah ga ngerti… ups! soriii

  2. hian said,

    on May 15th, 2007 at 1:39 pm

    #1: Novi, setelah saya baca2 ulang, memang agak membingungkan bagi yang belum tahu. Maaf yah 🙂

    Jadi pada dasarnya variant Guotie tersebut dikukus terlebih dahulu, lalu digoreng (pan-fried in a shallow frying pan) pada salah satu sisinya.

    Sudah jelas khan?? Ayo, dicoba saja!!

Leave a reply