Jual Lunpia
Posted on 17 September 2005Kota Semarang sangatlah terkenal dengan makanan khas-nya, mulai dari bandeng duri lunak hingga ke lunpia. Kalau kita pernah nongkrong di Lunpia Gang Lombok barang sejam saja, kita dapat melihat betapa luar biasanya bisnis jual lunpia ini. Begitu banyak orang antri sedari pagi, membeli lunpia mulai dari 2 biji (biasanya dimakan disana) sampai puluhan bahkan ratusan biji (biasanya untuk dibawa sebagai oleh-oleh ke kota lain). Kelarisan lunpia ini membuat banyak orang tergiur untuk membuka usaha jual lunpia di Semarang. Tidak heran, jalan Pandanaran, MT Haryono, dan Pemuda dipenuhi penjual lunpia dengan beragam merk.
Ada suatu toko penjual lunpia yang sangat menarik perhatian saya, yaitu Lunpia Express yang terletak di Jl Gajahmada. Tidak, kali ini saya tidak membahas mengenai bagaimana rasa lunpia yang dijual disana (ini bukan blog Ngiras khan
), melainkan pada strategi pemasarannya yang menggelitik saya. Sepanjang pengamatan saya (CMIIW), toko tersebut relatif kurang ramai, masih jauh kalah ramai ketimbang Lunpia Gang Lombok ataupun Lunpia Amoy.
Apa yang terjadi?? Mari kita coba kupas satu-per-satu.
Dilihat dari aspek lokasi, jelas toko ini mendapatkan nilai plus: terletak di lokasi yang strategis (Jl Gajahmada), mudah dicari (ada papan reklame yang cukup besar), dengan ruang parkir yang lega. Dilihat dari aspek kenyamanan, toko ini diperlengkapi dengan dekor interior yang modern dan penyejuk ruangan, menggunakan pelayanan modern mulai dari cash register sampai peralatan makan yang sekali pakai (well, saya ndak tahu sih klo nantinya dibelakang dicuci kembali apa tidak
). Dilihat dari harga, jelas cukup murah.. hanya lima ribu rupiah sebiji, bandingkan dengan harga Lunpia Gang Lombok; sayangnya minumannya agak sedikit mahal (tapi saya pikir ini adalah strategi umum yang diterapkan banyak penjual makanan). Dilihat dari makanannya sendiri, lunpianya cukup lumayan – not bad; dan yang menarik, kita bisa mengambil sendiri asesoris pelengkap makan lunpia, mulai dari saus coklat yang kayak lem itu
, daun bawang, acar, dan selada segar sesuka kita.
Lalu apa yang salah??
BTW saya sengaja belum menjelaskan strategi marketing yang mereka lakukan. Sejak toko itu buka sampai sekarang (well, at least until last night, I still got it <g>), mereka membayar beberapa orang untuk berdiri di traffic light sambil membagi-bagikan brosur yang cukup ekslusif, full color, dengan kertas yang baik kualitasnya. IIRC, toko itu sudah buka setahun lamanya. Masakan melakukan kegiatan promosi yang itu-itu saja, dengan materi brosur yang itu-itu saja?? Bahkan terlihat para pembagi brosur tersebut sudah bosan, membagi brosur dengan lesu, dan membagi sekaligus dua sampai tiga lembar brosur yang sama (agar cepat habis dan cepat pulang rumah??). Jujur, bahkan bagi yang menerima brosur pun (salah satunya saya) juga sudah bosan. Akhirnya kegiatan promosi yang tidak murah ini menjadi mubazir adanya.
Saya pikir masih banyak hal yang bisa dicoba untuk meningkatkan omzet penjualan, diantaranya:
- Membuka counter/outlet kecil di mal, sehingga orang bisa ‘mencicipi’ lunpia tersebut tanpa sungkan, karena bisa membeli satu biji saja tanpa harus membeli minuman dll.
- Menggelar event untuk menarik pengunjung, mulai dari Lomba Makan Lunpia, Lomba Menggulung Lunpia, Lomba Cipta Kreasi Lunpia sampai ke event yang sama sekali tidak terkait dengan lunpia, misalnya lomba menggambar, mewarnai, matematika tingkat TK/SD (kegiatan semacam ini menjadi trend jaman sekarang, bahkan baru-baru ini ada launching perumahan ekslusif baru di kawasan Semarang Barat yang memanfaatkan strategi serupa)
- Berperan aktif dalam kegiatan wisata Semarang, misalnya membuka stand di Semawis, membagikan voucher discount atau bahkan lunpia gratis di bandara, stasiun KA, dan saat tamu check-in di hotel-hotel terkemuka. Ada baiknya untuk lunpia gratis, hanya bisa diperoleh dengan menukarkan voucher tadi di toko/outlet Lunpia Express, agar cita rasa dan kesegaran makanan tetap terjamin; juga memancing cross-selling, masak iya sih orang tega datang ke sana menukar voucher untuk dapat satu biji lunpia gratis tanpa beli apa pun disana?? Ingat, voucher tersebut dibagikan ke orang-orang dengan kemampuan daya beli (penumpang pesawat, penumpang KA, dan tamu hotel terkemuka)
- Menjual atraksi dengan membuat konsep Open Kitchen, dimana pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan lunpia; bilamana mungkin, diselingi aksi akrobatik yang menarik saat menggulung lunpia dll
Tentu saja ulasan diatas dibuat dalam kapasitas saya sebagai seorang penggemar kuliner biasa yang tergelitik hatinya, bukan seorang pakar marketing sekelas Hermawan Kartajaya, bahkan saya juga bukan seorang yang berkecimpung di bidang pemasaran sehari-harinya. Jadi mohon maaf bila ada kekeliruan konsep atau pandangan yang salah. Nikmati saja ulasan ini seperti saya menikmati saat menulisnya, maklum lagi kepingin makan lunpia nih sore hari ini
.
Popularity: 7% [?]
One Response to 'Jual Lunpia'
Leave a reply
Most Recent Posts
- Dapatkan $1 untuk Setiap Rekomendasi Teman Anda!
- Gratis eBook dari TDW University – Rahasia Menjadi Kaya dan Bertumbuh Semakin Kaya
- 5 Ways To Make Money Online That Won’t Let You Down
- Akhirnya 2000 Klik di Neobux
- 7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 3)
- 7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 2)
- 7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 1)
- Belajar Bisnis Internet GRATIS
- Bandung BootCamp 2008 – Day 0
- Seminar Marketing Revolution – Tung Desem Waringin
Most Recent Comments
Most Popular Posts
- Posting JalanSutra tentang Makanan Semarang
- Permainan Logika yang Sangat Menantang
- Comment Spam dan Akismet
- Reset Admin Password di WinXP
- Seminar Dahsyat ala Tung Desem Waringin
- Diskusi "Mengelola Mail Server"
- Tahu Isi Benak Pikiran??
- Symantec AntiVirus Corporate Edition dan Firewall
- Aneka Makanan Semarang
- Video Conference, Telkom, dan Hotel Ciputra Semarang
- Matahari Dikelilingi Awan Gelap dan Pelangi
- Peluang Penghasilan Online - Neobux (PTC)
- Wisata ke Jogjakarta dan Candi Borobudur
- SiteBar
- Seminar "Managing Business with Great Success" James Gwee
- Sekilas Makanan di Salatiga
- Local Queue in MDaemon 8.x
- Belajar Bisnis Internet GRATIS
- Bandung BootCamp 2008 - Day 0
- SuperCamp "Becoming a Money Magnet"
I currently live happily with my beloved family in Semarang. I am an IT-addict, but have huge interests on Internet Marketing, Family Financial Planning, Personal Wealth Building, and other self development activities. Beside that, I also like to read books, eat delicious foods, and play games with my beloved son.









on April 17th, 2009 at 2:16 pm
Bung Hianoto(s), apa yang anda utarakan benar adanya, saya hampir setiap tahun mampir di kota anda, dan sy setiap tahun juga menerima brosur lumpia yg sama ( tp tempatnya sy tidak ingat di jln mana ). Mungkin pemikiran pemilik toko supaya org tetap ingat akan produk yg dijualnya ????? kebetulan sy dr luar kota Smg ( plat no kendaraannya berbeda ) sehingga perlu diberikan brosur agar mengetahui dan mampir di toko nya …. untuk nycipii produk dagangannya………..