« - »

Singapore: Day 1 (6 Oct 2005)

Posted on 14 October 2005

Akhirnya setelah dirundung berbagai masalah sehingga menyebabkan jadwal kepergian diundur terus, akhirnya kami jadi juga berangkat ke Singapore. Hurrrraaayyy :-). Sayangnya kesehatan saya sedang bermasalah di bagian punggung, sehingga saya merasa sakit tatkala bangun tidur, duduk, berdiri, dan berjalan. Sudah disuntik dan diberi oleh dokter sih, tapi ya tetap mengganggu. Apalagi saya tidak boleh angkat barang sama sekali, sehingga Elly yang harus menemui kerepotan dalam melakukan tugas angkat-angkat barang :-(.

Busyet, berhubung ini adalah penerbangan internasional, kami pun harus bangun extra pagi (jam 4 booookk :-() dan berangkat cukup pagi (jam 5:30, padahal perjalanan dari rumah ke bandara dapat ditempuh dalam waktu 10 menit saja). Saking paginya, hingga Executive Lounge pun masih tutup :-(. Setelah makan dan minum sedikit di lounge, akhirnya kami pun masuk ke Imigrasi dan ruang tunggu Internasional yang terlihat masih sepi.

Tidak lama kemudian kami pun naik ke pesawat. Busyet, untuk pertama kalinya saya melihat tidak adanya TV di dalam pesawat internasional (walaupun memang dari bandara kecil Ahmad Yani Semarang). Di saat-saat terakhir saya melihat cukup banyak penumpang yang datang terlambat dari boarding time, padahal dari dandanannya, saya melihat mereka adalah orang-orang yang cukup berpendidikan dan kalangan menengah keatas. Saya yakin mereka sudah beberapa kali atau bahkan cukup sering menumpang pesawat internasional, sehingga mereka mestinya tahu kalau mengurus fiskal dan imigrasi itu membutuhkan waktu yang lumayan. Mereka dengan agak gaduh mencari tempat duduk yang tersisa dan nampak jengkel karena terpisah-pisah tempat duduknya. Dalam hati saya menyeletuk “Syukurin, itu hukumannya tidak menaati peraturan dan meremehkan urusan waktu”.

Menariknya, saya mendengar pengumuman pramugari agar penumpang mematikan handphone (apa ini karena tidak ada TV yah?? Tapi khan biasanya mereka hanya menjelaskan prosedur keselamatan tanpa mengutarakan secara khusus untuk mematikan handphone. Jangan-jangan ini akibat kecelakaan pesawat yang terjadi beberapa waktu yang lalu yah??). Sekali lagi dasar kebanyakan dari kita tidak tertib, saya masih mendengar beberapa dering handphone sebelum pesawat tinggal landas.

Selanjutnya, saya melihat cukup banyak penumpang yang tidak menaati peraturan mengenakan sabuk pengaman. Begitu pesawat mendarat di landasan, mereka langsung berdiri untuk mengambil barang bawaannya, sampai-sampai pramugari harus menghampiri dan mengingatkan mereka untuk tidak melakukan hal itu. Herannya, saya tidak mendengar banyak handphone yang dinyalakan walau pesawat masih melaju ke tempat perhentian penumpang, suatu pemandangan yang sangat sering kita jumpai di penerbangan domestik. Apa mungkin takut karena Singapore negara penuh denda atau karena takut harus bayar international roaming yah :-D.

Di imigrasi, karena petugas cukup ramah untuk melontarkan topik pembicaraan berbasa-basi, saya malah sekalian menanggapinya sekalian dengan chit-chat lain, mulai dari kenaikan bensin di Indonesia sampai flu burung di Singapore dan keamanan mengunjungi Jurong Birdpark. Sungguh suatu pemandangan yang kontras dengan counter imigrasi lain yang penuh keseriusan.

Saat menaiki taxi, saya mendapati pengemudi taxi adalah seorang Melayu. Segera saja kami bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia campur aduk dengan Malay. Ternyata orangtua beliau berasal dari Jambi dan beliau sendiri hampir setiap tahun masih kembali pulang menengok keluarga besar di sana. Beliau bercerita betapa senang dan mewahnya liburan selama hampir 1 bulan di Indonesia dengan membawa hasil tabungannya sekitar S$ 4,000. Dia nampak begitu rileks, menikmati pekerjaannya, dan begitu ramah dalam bercakap-cakap dengan penumpangnya. Suatu pemandangan yang sangat kontras dengan yang terjadi di Indonesia bukan??

Kami pun sampai dan check in di Hotel Phoenix, Orchard Road. Hotel ini sungguh terletak di lokasi yang sangat strategis, dekat dengan MRT Station dan pusat perbelanjaan. Setelah meletakkan semua barang bawaan, kami pun berjalan ke Takashimaya, Wisma Atria, dan beberapa pusat perbelanjaan lain (saking puyengnya, lupa namanya, hehehe). Tentu saja mata Elly menjadi berbinar-binar, jalannya kian bersemangat, dan senyum tersungging di bibirnya :-D. Saya dan Brian pun mendukungnya dengan tetap bersemangat mengayunkan langkah walaupun hari sudah kian panas dan kaki sudah lelah melangkah.

Untunglah tiba saatnya untuk makan siang. Kami segera mengintip Food Court di Takashimaya. Wow, sungguh luar biasa menggiurkan. Ada hand-made chicken katsu, nasi ayam Hainan, mie bakso ikan, aneka bakcang (cleguk), dll. Akhirnya kami pun memesan nasi babi+bebek panggang dengan telur dan nasi ayam Hainan. Daging babi dan bebek panggang sangatlah enak, sayang saya tidak memesan kulit babi yang crispy itu. Ayam tim Hainan terasa empuk dan berkaldu, walaupun tidak menggunakan ayam kampung. Elly kurang suka karena nasinya terasa menggunakan jahe yang sebenarnya bermanfaat menghilangkan amis, tapi Brian dengan enjoy melahap semua jatah makanannya :-).

Hari pun sudah sore dan kami berjalan menuju hotel. Ada seorang pemuda dengan tampang innocent dan sedikit cacat fisik ‘mencegat’ kami dan dengan sopan bertanya apakah kami bersedia membantunya mengisi survey. Pengisian survey sudah pernah saya lakukan beberapa kali pada kunjungan saya ke beberapa negara, dan saya berpikir tidak masalah untuk membantu orang tersebut. Setelah mengisi semua survey, dia memberikan selembar kartu kepada masing-masing kami sebagai hadiah. Bilamana kartu tersebut digosok dan muncul gambar-gambar tertentu, kami dapat menukarnya sebagai hadiah. Elly mendapatkan dua lambang Merlion sehingga mendapatkan kartu discount, dan saya sendiri mendapatkan tiga lambang Merlion. Orang tersebut berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil bertepuk tangan. Dia memberitahu bahwa saya berhak memperoleh hadiah tertinggi yaitu pilihan S$ 1000, voucher hotel senilai S$ 1500, atau JVC handycam. Saya sendiri terkesiap, jangan-jangan ini memang berkat Tuhan yang indah atas segala kesulitan yang kami hadapi dalam menempuh perjalanan liburan ini. Orang tersebut memperkenalkan saya kepada supervisor-nya dan bolak-balik mereka menekankan bahwa tidak dikenakan biaya apapun juga untuk memperoleh hadiah ini, kami hanya perlu mendatangi kantor mereka dan mendengarkan penjelasan mereka sekitar 75 menit. What the heck, 75 minutes for S$ 1000?? Count me in! Saat berjalan dengan mereka, Elly bermaksud kembali ke hotel bersama Brian; namun ada satu naluri saya yang membisikkan “It is too good to be true“, sehingga saya meminta Elly tetap bersama saya, dan selalu mengingatkan untuk tidak melakukan kebodohan bertransaksi apapun disana.

Sesampai disana, kami disambut oleh seorang receptionist dan menanyakan bahasa pengantar apa yang kami pilih. Karena sudah dapat perasaan was-was, saya pun sengaja memilih bahasa Indonesia (agar bila kami menolak, tidak banyak manager yang membujuk kita). Tidak lama kemudian, seseorang bernama Aisah pun menemui kami dan mengajak kami masuk. Ada ruangan yang cukup luas dengan sekian banyak meja dengan komputer dan LCD monitor, ruangan itu dipenuhi banyak orang yang sedang mendengarkan penjelasan petugas. Mereka juga terkesan sangat professional, dengan membawa Brian ke ruangan khusus dan menyediakan seorang pengasuh untuk menjaga seluruh anak dalam ruangan khusus tersebut. Saya mulai berperasaan kurang enak, jangan-jangan ini mirip dengan toko yang memberikan hadiah di beberapa mal di Semarang. Mereka dengan berbusa-busa menawarkan paket keanggotaan dengan iming-iming harga luar biasa murah untuk pemesanan ticket kepergian dan hotel. Beruntung sekali kami dapat lolos dari kejaran mereka tanpa harus menggesek kartu kredit :-D. Ada beberapa pertanyaan kritis yang membuat Aisah beberapa kali harus memanggil manager-nya untuk datang menjelaskan kepada saya :-D. Sungguh saya merasa mereka sangat professional dalam melakukan pemasaran semacam ini, mulai dari pengincaran (calon) korban, kartu kredit (mereka memberikan hadiah khusus bila 4 nomor terakhir kartu kredit kita sesuai dengan nomor khusus. Saya pikir ini adalah trik untuk mengetahui kartu kredit kita ada berapa dan apa jenisnya [Platinum, Gold, Silver, dll]), alur presentasi yang sangat terstruktur, menarik, dan membuat kita sulit membantah karena telah tersusun sedemikian rupa dengan jawaban kita sendiri, daftar foto para anggota dari negara asal kita, dll. My two thumbs up!! Tapi lumayan deh, tambah pengalaman 🙂 (walaupun kami jadi bete karena membuang waktu 3 jam sia-sia dan Brian tidak bisa istirahat dan makan).

Malamnya kami makan di Food Court Orchard Emerald. Menunya nasi ayam Hainan (hah, lagi?? Buat Brian koq :-D), mie pangsit, bakso ikan, dan ca sayuran. Bah, ca sayurannya hueeeennnnaaaakkk bangeettsss, kami sampai nambah lagi :-D. Bakso ikannya luar biasa enak, gedhe-gedhe, sangat kenyal dan berasa daging ikannya. Sungguh makan malam yang enak, melipur hati yang bete atas kejadian sore itu.

Popularity: 7% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


One Response to 'Singapore: Day 1 (6 Oct 2005)'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Singapore: Day 1 (6 Oct 2005) '.


  1. on December 5th, 2005 at 5:33 pm

    […] Wow, barusan ini saya menemui tulisan dari rekan di milis JalanSutra mengenai Travel Club yang saya pikir hampir serupa dengan yang saya alami di Orchard Road, Singapore pada bulan October yang lalu. Dear JS ers, […]

Leave a reply