« - »

Singapore: Day 3 (8 Oct 2005)

Posted on 21 October 2005

Pagi ini diawali dengan sedikit masalah. Petugas yang melayani saat kami datang untuk makan pagi menyatakan bahwa kami harus membayar biaya tambahan sekitar S$ 18 karena ada anak kecil (Brian). Karena terlalu mahal, saya berpikir untuk membawa Brian makan di Food Court seberang saja, toh dia sangat gemar dengan bakso ikannya. Lalu saya mengutarakan bahwa Brian tidak makan disana, karena sudah minum susu. Setelah berdebat sebentar, akhirnya petugas tersebut memperbolehkan kami bertiga masuk. Namun suasana menjadi tidak enak, karena peralatan makan diambil dan disisakan untuk dua orang, selain itu tiap kali petugas tersebut lewat, dia melirik ke meja kami untuk melihat apakah Brian makan atau tidak. Busyet <g>. Hari itu makan pagi seperti biasa, hanya saja kali ini saya melihat ada tiga tempat kukusan yang berisi dim sum, yaitu Chicken Pau (semacam bakpau, dengan daging ayam), Seafood Dumpling (semacam siomay kukus, berisi daging cumi dan udang), dan Prawn Dumpling. Lumayanlah sebagai selingan.

Selesai makan pagi, kami pun kembali ke kamar. Disini terjadi pula suatu kecelakaan. Elly akan masuk ke kamar mandi dan meminta saya untuk menyalakan lampunya. Brian pun dengan riang berteriak akan membantu menyalakan, dia pun ‘jinjit’ karena saklar lampu cukup tinggi baginya. Untuk menopang, dia berpegangan pada dinding dekat pintu. Tiba-tiba dia menangis sangat kencang, saya pun berlari mendekatinya. Ternyata dua jari tangannya terjepit pintu saat Elly menutup pintu dari dalam. Jari tangannya terlihat ‘gepeng’ dan kebiru-biruan. Sungguh hati ini amblas rasanya, kasihan banget jari tangan terjepit sampai kayak gitu; lha wong kita orang dewasa saja merasa miris. Semua acara pagi itu kami batalkan, kami membubuhkan gel Thrombopop sambil menghiburnya semaksimal mungkin. Setelah beberapa lama, dia sudah membaik dan tidak menangis lagi. Akhirnya saya minta Elly untuk memanfaatkan waktu berbelanja di sekitar Orchard Road sambil membelikan makan siang untuk Brian, sementara saya dan Brian tidur-tiduran sambil nonton film kartun :-).

Akhirnya Elly pun kembali dari perburuannya di Orchard Road dengan membawa barang belanjaannya. Tidak lupa dia membawa oleh-oleh buat kami berdua, enam potong roti BreadTalk, mulai dari abon babi sampai keju kesukaan Brian. Kami berdua pun makan dengan lahapnya. Elly juga membawakan Brian seporsi bakso ikan kuah dan nasi putih.

Kira-kira sekitar jam 1 siang, Brian sudah terlihat kembali normal. Akhirnya kami pun memutuskan untuk meneruskan rencana ke Singapore Zoo, apalagi cuaca begitu nyaman, terasa sejuk karena hujan rintik-rintik sepagian telah berhenti. Kami pun berjalan ke Old Chang Kee untuk membeli makanan bagi kami, ada ayam, bakso ikan (lagi??), udang goreng, kepiting yang semuanya ditusuk dengan tusukan sate. Rasanya?? Enakkkk boookk, murah lagi :-D.

Kami pun sampai di Singapore Zoo dan mulai naik tram dll. Singapore Zoo ini sungguh berbeda konsepnya dengan Taman Safari Indonesia, karena di Taman Safari, kita harus menggunakan mobil (baik pribadi maupun yang mereka sediakan), sedangkan di Singapore Zoo, kita bisa berjalan kaki berkeliling sepuasnya dan menggunakan tram atau kereta kuda bila menginginkannya (tentu saja dengan biaya tertentu pula). Disini kami melakukan kesalahan yaitu tidak membawa peta lokasi dan berkeliling jalan kaki terlalu jauh dari perhentian tram yang ketiga, sehingga tahu-tahu kami telah sampai di antara perhentian tram pertama dan kedua. Karena sudah capek sekali, kami memutuskan untuk ke perhentian tram pertama yang lebih dekat untuk kembali naik tram ke perhentian yang kita belum singgahi. Ternyata tram hanya bisa dinaiki/disinggahi sebanyak 4 kali saja (mereka merobek potongan ticket tram). Beruntung sekali ada seorang sopir tram bernama Rozario yang mendengarkan keluhan kami dan kasihan pada kami, sehingga kami diikutkan tram ke perhentian ketiga tanpa merobek ticket kami, bahkan beliau juga menjelaskan permasalahan kami pada petugas di perhentian tram kedua, sehingga dia pun tidak merobek ticket kami. Phew, untunglah dapat bantuan seperti ini sehingga kami dapat meneruskan perjalanan kami mengelilingi Singapore Zoo dengan lengkap. Tadinya kami berencana untuk meneruskannya dengan Night Safari, tapi akhirnya kami batalkan mengingat Brian sudah sangat lelah.

Sepulang di hotel, Brian pun tidur sore dan Elly meneruskan perbelanjaannya sambil membeli makan malam. Mengingat dia akan ke Takashimaya lagi, saya titip makanan incaran saya yaitu Hand-made Chicken Katsu :-). Sepeninggal Elly, tiba-tiba saya merasa sakit perut yang amat sangat (sebenarnya sudah terasa sejak kemarin, namun saya pikir hanya masalah biasa saja dan telah meminum obat sakit perut), saya menduga sedang lapar sehingga memakan roti abon babi pedas dengan kopi. Namun sakit perut malah semakin menjadi, sehingga saya pun terguling-guling di ranjang. Celaka, Elly masih belum pulang.. gimana nih?? Akhirnya jam 9 malam Elly pulang membawa barang belanjaan lagi dan makan malam (chicken katsu untuk saya dan nasi padang untuk Elly dan Brian). Segera saya ceritakan masalah sakit perut kepada Elly dan dia menduga itu sakit maag. Saya mencoba makan sedikit, namun sakit perut malah membuat saya tidak bisa makan πŸ™ (padahal chicken katsu-nya super enak lho). Kami pun kirim SMS ke ortu di Indonesia, kata mereka obat punggung memang punya efek samping yaitu maag. Celakanya, saya malah makan pedas (roti abon babi pedas) dan kopi yang malah memperparah sakit maag. Akhirnya saya minta Elly untuk ke toko obat terdekat (walaupun sudah hampir jam 10 malam, namun keadaan Singapore yang aman membuat saya tenang melepas Elly berjalan sendirian di malam hari) dan membeli obat maag. Setelah meminum obat maag dan tidur, saya merasa agak enakan.

What a messy day πŸ™

Popularity: 6% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply