« - »

Singapore: Day 4 (9 Oct 2005)

Posted on 22 October 2005

Hari ini kami check out dari Hotel Phoenix dan pindah ke Hotel Furama City Centre di daerah Chinatown, soalnya kami tertarik untuk melihat-lihat Chinatown secara lebih dekat lagi. Oleh karenanya, sepagian ini kami di hotel untuk berkemas-kemas dan untuk terakhir kalinya dalam kunjungan ini, Elly melakukan kegiatan rutin menyatroni toko-toko di Orchard Road :-).

Hotel Furama City Centre cukup menyenangkan suasananya (terasa sangat berbeda dengan Hotel Phoenix). Bagian Receptionist sangat ramah (thanks Alan!) dan memberikan free upgrade kamar sehingga kami memperoleh kamar yang cukup bagus, lengkap dengan fasilitas setrika (dan meja setrika sekalian); hihihi baru kali ini saya memperoleh fasilitas seperti ini, enak juga untuk persiapan meeting atau long stay sehingga kami dapat menyetrika baju sendiri :-). Ranjangnya terasa halus, licin, dan sangat bersih; sungguh berbeda dengan Hotel Phoenix (saya lupa untuk menceritakan bahwa saya dan Brian mendapatkan bentol-bentol merah dan gatal, kayak digigit serangga di Hotel Phoenix). Karena sudah siang, kami pun segera menyeberang untuk menikmati makan siang. Elly sangat senang karena makanannya model tunjuk ini tunjuk itu, mirip dengan masakan rumah; dan saya makan mie pangsit (hmm, kurang sesuai dengan lidah saya sih :-().

Setelah kenyang, kami pun menumpang taxi untuk pergi ke Snow City, dimana kita bisa menikmati dinginnya salju bahkan berseluncur menuruni tebing salju buatan. Sayangnya kami datang kepagian, sehingga harus menunggu sekitar 45 menit. Ruang tunggu yang merangkap cafetaria ini terasa cukup dingin, sehingga beberapa kali Elly dan Brian harus ke toilet :-). Tibalah waktunya untuk memilih sepatu dan mengambil sarung tangan+jaket. Disini untuk pertama kalinya, saya menggunakan locker dengan pengunci yang harus dimasuki koin S$ 1. Setelah masuk, terlihat bahwa ruangannya tidaklah sebesar yang kami bayangkan sebelumnya, namun tetap menakjubkan untuk melihat salju terhampar, ada boneka salju, dan ada turunan salju untuk meluncur diatas ban yang telah disediakan. Brian pun dengan riang mengambil salju dan melemparkannya ke kami. Karena di depan counter saya melihat penawaran pengambilan gambar oleh petugas dengan biaya tertentu, saya berpikir bahwa pengunjung tidak diperbolehkan membawa camdig atau handycam ke dalam. Ternyata?? Beberapa orang membawa camdig dan handycam. Tentu saja saya dengan serta merta minta ijin keluar untuk mengambil camdig dan handycam (berarti saya harus memasukkan koin S$ 1 lagi untuk mengunci locker). Mengingat kita hidup di negara tropis dan jarang (bahkan tidak pernah) melihat salju, Snow City merupakan tempat yang cukup Ok untuk dikunjungi.

Dari Snow City, kami meluncur ke Clarke Quay untuk menaiki Bum Boat menyusuri Singapore River yang terkenal itu. Kami pun melihat Merlion Park dan Esplanade walau dari kejauhan saja. Sungguh menarik melihat betapa terorganisirnya para tukang perahu sehingga bisa melakukan pelayanan ke turis dengan baik, tidak ada yang berebutan penumpang, tidak perlu menunggu lama (bahkan saya melihat ada kapal lain yang berangkat walau dengan 2 orang penumpang saja), dan para petugasnya pun cukup helpful dalam membantu penumpang saat naik/turun kapal. Sungguh Indonesia harus belajar banyak dari Singapore dalam hal ini.

Dari sana, kami pun langsung tancap gas ke Smith Street untuk menikmati Chinatown Food Street, dimana sepanjang jalan isinya hanya pedagang makanan kaki lima dan restoran (seperti Semawis-nya Semarang gitulah). Ada ratusan masakan digeber disana, mulai dari sharkfin (sirip ikan hiu) yang cukup mahal itu, abalone sampai ke Char Kway Teow (Kwetiau Goreng). Sampai pusing kami memilihnya. Akhirnya saya pesan Char Kway Teow (penasaran, pengen tahu gimana sih enaknya Kwetiau Goreng Singapore yang sangat terkenal itu), Elly dan Brian pesan Mie Babi Panggang. Terus terang, saya merasa Char Kway Teow-nya kurang enak, terlalu hitam, dan tidak seenak Kwetiau Goreng Mangga Besar di Indonesia, sehingga bahkan tidak saya habiskan (suatu hal yang sungguh jarang saya lakukan lho :-)). Sebaliknya Mie Babi Panggang yang dipesan Elly dan Brian sungguh enak, sehingga saya curi-curi-ambil terus :-D. Masih kurang mantap, saya lalu memesan Guiling Gao (semacam Chinese puding), sayangnya harus beli 1 set (berisi 3 puding), yang tentu saja ditolak oleh Elly :-(. Sebagai gantinya, saya pun memesan Coffee Puding (wow, enak lho) dan diteruskan Es Cincau (ini juga enak, lebih enak dari Cincau yang biasa kita beli di pasar).

Dari sana, kami pun berjalan kaki pulang; namun kami mampir dulu ke Night Market yang sungguh ramai. Ada toko yang menjual 3 barang dengan seharga S$ 10, sehingga cukup cocok dibuat oleh-oleh. Brian sempat tertarik dengan sticker yang dijual di pinggir jalan, namun sayangnya cukup mahal (sekitar S$ 2-3, padahal di sini paling cuman seharga 3-4 ribu rupiah saja). Kami membeli Pear Jepang, 4 buah hanya seharga S$ 4 (berarti 1 buah hanya S$ 1 alias enam ribu rupiah, wow murah banget). Buahnya sungguh manis dan segar, dengan air yang cukup banyak.

Popularity: 7% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply