« - »

Travel Club

Posted on 5 December 2005

Wow, barusan ini saya menemui tulisan dari rekan di milis JalanSutra mengenai Travel Club yang saya pikir hampir serupa dengan yang saya alami di Orchard Road, Singapore pada bulan October yang lalu.

Dear JS ers,

Sistem travel club sperti yang diutarakan oleh beberapa JS ers lainnya, seperti halnya di Indonesia, banyak disalahgunakan oleh oknum-oknum. Hal ini pernah saya alami juga waktu jalan-jalan di Singapur, kami (saya dan teman) ditawarkan travel club membership oleh salah satu Travel club di Singapur. Sayang, saya sudah lupa namanya apa.

Oleh karena itu, perkenankan saya untuk membagi pengalaman saya berhubungan dengan “travel club”:

1. Travel club tsb mengutus beberapa representative untuk menawarkan undian “scratch and win” kepada orang-orang yang lagi jalan-jalan di sepanjang orchard Road, dan hebatnya, waktu itu saya menang “7 nights in Bangkok”. Wah .. asik…

2. Tapi dengan syarat, saya harus mendengarkan program mereka selama “45 menit saja” yang kenyataannya sampai memakan waktu 3 jam, karena tidak enak hati menolak tawaran mereka yang manis. Mereka pun berusaha menggunakan orang-orang yang memakai bahasa yang sama dengan calon konsumen. Jadi, waktu itu yang menjelaskan program mereka adalah orang dari Indonesia juga.

3. Setelah termakan bujukan dan iming-iming, akhirnya kami terjebak juga ikut program mereka. Dan teman saya yang kena getahnya, karena memakai kartu kredit teman saya. Perjanjian telah ditandatangani dan mereka pun memberikan bonus tambahan, yaitu: kupon makan di restoran sebanyak 1 buah. Tapi saya merasa ada yang aneh, sampai akhirnya saya sadar bahwa kupon makan itu seharusnya ada 2 buah (pemberian kupon tersebut disertai surat yang menjelaskan, bahwa “each person is entitled for one coupon*, begitu bunyinya kira-kira).

4. Keesokan harinya, saya datangi kembali kantor mereka dan minta penjelasan dari reseptionis mereka, dan meminta seorang dari mereka untuk membaca surat penyertaan kupon tersebut. Tapi resepsionis ini, dengan liciknya mengelak dan menganggap saya bisa dibohongi. Lalu, dengan perasaan tidak rela saya balik bertanya lagi ke resepsionis yang lain. Nah, resepsionis ini kelihatannya lebih jujur dari yang satunya dan tidak mengelak.

5. Tapi kejadian ini telah membuat saya tidak sreg, apalagi teman saya. Lalu kami memutuskan untuk meng-*cancel* keanggotaan kami, tapi konsultan yang menangani kami (bukan orang Indonesia) berusaha membujuk kami dengan manis, tapi kami tetap tidak mau, sampai akhirnya sifat *jelek* nya keluar, dan mulai mengancam kami, bahwa kami bisa dituntut oleh pemerintah Singapore dsb, dsb…

6. Tapi kami tidak perduli, dan saya cepat2 bilang teman saya untuk melaporkan peng-cancelan transaksi tersebut kepada bank penerbit kartu kreditnya dengan alasan, kami tidak percaya terhadap merchant tersebut. Untungnya, bank penerbit kartu kredit tersebut percaya dan
mengcancel transaksi tersebut.

7. Tapi seperti yang dilakukan JS lainyya, teman saya pun menutup kartu kreditnya untuk berjaga-jaga.

NB: Hadiah *7nights in Bangkok* pun cuma bohong belaka, karena kami berusaha menelpon mereka tapi tidak ada yang menjawab dan setelah kami fax formulir hadiah tersebut, pun tidak mendapatkan jawaban apapun.

Mudah-mudahan pengalaman ini bisa jadi pelajaran buat kita semua.

Salam,
Jocelyn

Selain itu, ada juga posting hampir serupa seperti berikut:

Rekan JS sekalian,

Kejadian yg dialami Jocelyn mengingatkan saya akan pengalaman saya dgn suami (juga di Singapur).

1. Kejadian pertama di Suntec City. Beberapa representatif memberikan scratch & win ticket. Ajaibnya, suami langsung menang. Hadiah bisa diambil kalo sudah mendengarkan program mereka di Orchard. Kami langsung menolak karena waktu itu kami memang cuma tinggal 2 hari di Singapur dan banyak yang harus kami kunjungi.

2. Kejadian kedua di Orchard dalam kunjungan yang berbeda. Lagi2 suami ‘menang’ hadiah tertentu yang bisa diclaim. Karena gedungnya terletak di Orchard juga, kami tertarik tuh. Tp begitu mendekati gedungnya, saya merasa sangat curiga. Gedung tersebut sedang dalam tahap renovasi. Lift yang kami gunakan sangat ‘mengerikan’ (saya sempat kuatir kami akan terkurung di dalam lift karena kondisinya yang tersendat2). Begitu memasuki lobby langsung kami disodori formulir untuk diisi. Banyak sekali informasi yang mereka minta untuk sekedar mendengarkan presentasi. Langsung saya bilang kepada suami bahwa saya merasa ngga nyaman. Begitu kami menolak, sang representatif (usia sekitar 18) langsung menanyakan alasan. Saya dan suami cuma mengatakan bahwa mendadak kami ingat ada janji dengan teman. Dalam perjalanan turun kembali ke bawah, si anak muda tersebut mengatakan bahwa dia membutuhkan kami karena dia perlu uang untuk sekolahnya, dll. Suami merasa ngga enak dan setelah ‘bisik2’ kami memutuskan untuk memberikan $20 untuk si rep. Tapi dia menolak.

Sebenarnya setelah kedua kejadian tersebut saya masih tidak curiga bahwa mereka berkehendak jahat. Tapi setelah membaca cerita Jocelyn, saya merasa bersyukur karena kami tidak terpancing. Saya merasa kami tidak curiga karena hal itu terjadi di Singapur, dan di siang bolong, jadi kesannya semua begitu resmi.

Di US sebenarnya pemberian hadiah berupa paket tinggal di resort tertentu cukup sering terjadi dan bukan kedok penipuan. Kakak ipar saya pernah mendapat paket tinggal 2 malam di Palm Desert, CA cuma dengan ‘mendengarkan’ presentasi mereka. Ya..sebenarnya sih mereka mengharapkan setelah mendengarkan presentasi kita akan tertarik untuk membeli time share tertentu. Tapi kalau pun kita menolak, hadiah masih tetap diberikan.

Balik2 ke kejadian yang dialami Jocelyn. Saya merasa bahwa target dari representatif tersebut memang turis asing. Mungkin karena sebagai turis, kita akan sulit melaporkan mereka begitu kita balik ke negara kita masing2. Tapi saya merasa, ada baiknya jika rekan2 JS sekalian yang pernah menjadi korban melaporkan ke Singapore Tourism Board (www.visitsingapore.com). Mudah2an pihak pemerintah Singapur bisa menindaklanjuti hal tersebut.

salam,
Lanny, SJ-CA

Kiranya hal ini dapat membuat rekan-rekan berhati-hati saat mendapatkan penawaran serupa. Jangan ragu-ragu untuk menolak secara tegas, ketimbang terjerat rayuan mereka yang sangat manis. Hal ini jauh lebih baik ketimbang kita harus menanggung sekian puluh juta rupiah untuk suatu keanggotaan Travel Club yang tidak jelas dan sulit digunakan.

Jadi bingung juga, koq hal beginian bisa berlangsung tanpa ada larangan atau pemeriksaan lebih lanjut dari pihak yang berwenang di negara yang sudah maju dan taat hukum seperti itu yah.. Makanya jadi maklum juga bila hal yang beginian berlangsung di sini :-(.

Popularity: 6% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply