Etika Berjualan Makanan
Posted on 6 January 2006Tadi siang saya berkesempatan makan siang di warung langganan, yang biasa menjual Tahu Pong dan Mie Ayam (serta aksesoris bakso dan pangsitnya). Saya melihat suatu hal yang menarik, ada kertas bertuliskan “Bebas Formalin” ditempel di etalasenya. Saya pun bertanya kepada si penjual, “Lho apa ya terkena imbas isu Formalin sehingga sampai merasa perlu untuk menempel pengumuman ini??”. Dia pun menjawab “Iya, lha wis gimana, banyak yang tanya.. padahal saya khan membuat mie sendiri, yang jelas-jelas tidak mengandung Formalin”. Kebetulan ada seorang pembeli yang bertanya apakah mie yang dijual itu halal, dan serta merta si penjual menjelaskan bahwa produknya 100% halal dan bisa dicheck oleh pembeli sendiri secara langsung.
Di sisi lain, saya pun teringat tayangan suatu televisi swasta tentang penjual bakso yang menggunakan daging tikus atau Formalin dalam adonan baksonya. Juga tentang isu penjual bakso/mie yang menggunakan daging dan/atau minyak babi. Jangan lupa tentang isu penggunaan pewarna tekstil dalam makanan.
Sungguh, saya pikir posisi kita selaku konsumen makanan sangatlah lemah. Penjual tidak akan pernah membeberkan bahan apa yang digunakan dalam meracik/membuat makanan tersebut. “Rahasia perusahaan” katanya. Apakah makanan tersebut benar-benar mengandung bahan berbahaya seperti Formalin ataupun tidak halal, sangatlah sulit untuk memastikannya. Selaku konsumen makanan, kita hanya bisa pasrah pada etika dan itikad baik penjual makanan untuk menjual makanan yang sehat, tidak membahayakan konsumennya, dan halal.
Saya ingat pernah membaca/mendengar berita bahwa penjual makanan menggunakan Formalin karena merasa tidak ada sanksi dari pihak berwenang, padahal mereka tahu persis Formalin sangatlah berbahaya bagi kesehatan. Sungguh saya terpana dibuatnya. Apakah mata hatinya telah dibutakan untuk pelanggaran semacam ini?? Saya pikir tanpa perlu diancam sanksi, sudah seharusnyalah penggunaan zat berbahaya semacam ini tidak dilakukan; bahkan dipikirkan pun jangan!!
Selaku penikmat makanan, saya sangat menginginkan gerakan moral para produsen/penjual makanan untuk tidak melakukan hal-hal semacam ini. Contohlah Liu Mao Tsing dalam serial anime Cooking Master Boy yang punya komitmen menjadikan hidup ini lebih indah dan berbahagia dengan masakan yang enak, sehat, dan bergizi tinggi!! Koq jadi ngarah ke sana sih, dasar ngacoooo
Popularity: 7% [?]
Leave a reply
Most Recent Posts
- Dapatkan $1 untuk Setiap Rekomendasi Teman Anda!
- Gratis eBook dari TDW University – Rahasia Menjadi Kaya dan Bertumbuh Semakin Kaya
- 5 Ways To Make Money Online That Won’t Let You Down
- Akhirnya 2000 Klik di Neobux
- 7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 3)
- 7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 2)
- 7 Days Licensed NLP Practitioner (Day 1)
- Belajar Bisnis Internet GRATIS
- Bandung BootCamp 2008 – Day 0
- Seminar Marketing Revolution – Tung Desem Waringin
Most Recent Comments
Most Popular Posts
- Posting JalanSutra tentang Makanan Semarang
- Permainan Logika yang Sangat Menantang
- Comment Spam dan Akismet
- Reset Admin Password di WinXP
- Seminar Dahsyat ala Tung Desem Waringin
- Diskusi "Mengelola Mail Server"
- Tahu Isi Benak Pikiran??
- Symantec AntiVirus Corporate Edition dan Firewall
- Aneka Makanan Semarang
- Video Conference, Telkom, dan Hotel Ciputra Semarang
- Matahari Dikelilingi Awan Gelap dan Pelangi
- Peluang Penghasilan Online - Neobux (PTC)
- Wisata ke Jogjakarta dan Candi Borobudur
- SiteBar
- Seminar "Managing Business with Great Success" James Gwee
- Sekilas Makanan di Salatiga
- Local Queue in MDaemon 8.x
- Belajar Bisnis Internet GRATIS
- Bandung BootCamp 2008 - Day 0
- SuperCamp "Becoming a Money Magnet"
I currently live happily with my beloved family in Semarang. I am an IT-addict, but have huge interests on Internet Marketing, Family Financial Planning, Personal Wealth Building, and other self development activities. Beside that, I also like to read books, eat delicious foods, and play games with my beloved son.








