« - »

IBC dan Nasionalisme

Posted on 29 January 2006

Dalam rangka perayaan Imlek 2557 ini, tiba-tiba terbersit keinginan dalam hati untuk menulis pandangan pribadi saya yang dangkal tentang Indonesian Born Chinese dan Nasionalisme.

Saya adalah seorang Indonesian Born Chinese (selanjutnya saya sebut dengan IBC saja). Ayah saya berasal dari Pontianak, dari suku Teochew/Tiociu; sedangkan ibu saya berasal dari Singkawang, dari suku Hakka. Setiap anggota keluarga masih memiliki nama Chinese, bahkan sampai ke level anak saya, Brian (walaupun nama yang diberikan kepadanya adalah nama pilihan ayah saya, karena saya tidak punya kompetensi untuk melakukannya). Keluarga kami masih menjalankan berbagai tradisi Tionghoa setiap waktu, seperti Imlek, Cap Go Meh, Ceng Beng, dll. Demikian pula dengan tradisi saat menikah, kelahiran anak, usia anak sebulan, kematian, dll. Di waktu kecil, saya pun sering ikut ayah ibu ke kelenteng untuk beribadah. Oleh ayah, saya pun diajari bermain Xiang Qi alias Chinese Chess dan saya pun cukup menggemarinya (hanya sayang kurang kesempatan bermain karena terbatasnya orang yang bisa memainkannya).

Karena dulu nenek saya (dari ibu) sangat sulit berbahasa Indonesia (masa muda beliau di Singapore), juga ibu saya tergolong kurang fasih berbahasa Indonesia, maka sejak kecil saya diajarkan untuk menggunakan dialek Teochew untuk percakapan keluarga sehari-hari. Penggunaan bahasa Jawa sangatlah terbatas (maklum, pengetahuan keluarga juga terbatas), sehingga tatkala membeli jajanan di sekolah (waktu itu masih duduk di SD) dan penjual memberitahu harga barang dengan bahasa Jawa, saya hanya bengong dan menyodorkan seluruh uang saya untuk dipilih sang penjual (selawe, selangkung, seket merupakan istilah yang sangat asing di telinga dan bahkan saya tidak bisa menebak artinya sama sekali).

Waktu SD dan SMP, saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda melewati perkampungan penduduk. Saya sering mendengar sekian banyak anak (besar ataupun kecil) melontarkan kata-kata “Cino!! Cino!!” kepada saya. Saya tahu kata “Cina” tapi saya sempat heran kenapa mereka menyebutnya “Cino” yah?? Akhirnya saya pun mendapat penjelasan bahwa “Cino” digunakan untuk mengata-ngatain saya yang IBC ini dan saya diminta untuk mengalah dan membiarkan saja kelakuan mereka tersebut. Saya pun sering menjumpai banyak anak mengucapkan kata-kata sembarangan namun dengan logat khas ala Cino untuk mengejek. Sejak itu, saya pun melangkah lebih cepat atau mengayuh sepeda lebih kencang tatkala ada yang meneriakkan “Cino” kepada saya ataupun mengucapkan kata-kata tak bermakna dengan logat Cino itu. Saya pun sering dilecehkan dengan guyonan yang menyangkut kondisi mata saya yang sipit; yang hanya saya biarkan saja. Namun demikian di sekolah saya mendapatkan banyak teman WNI asli dan hubungan kami baik-baik saja; bahkan saya cukup akrab dengan beberapa diantaranya. Setiap hari kami pun bersepeda/berjalan bersama, main kelereng dan umbul bersama. Saat di Universitas, saya pun pernah mendapatkan perlakuan yang sangat tidak mengenakkan hanya karena saya seorang IBC.

Suatu siang, saya pun dijemput oleh ayah untuk mengambil dokumen penting (kata beliau). Ternyata buku penting tersebut hanyalah sebuah buku hijau, tipis, dengan pasfoto saya yang masih culun (masih SD, padahal saat itu saya sudah SMA). Buku itu bernama SBKRI yang merupakan bukti bahwa saya diakui sebagai WNI. Saking pentingnya, dalam setiap kegiatan pendaftaran sekolah, pembuatan KTP/SIM/Passport, atau aktivitas lainnya, saya selalu diharuskan untuk melampirkan Surat Ganti Nama dan SBKRI.

Menilik semua kejadian tersebut, saya pun mempunyai pandangan bahwa saya dianggap kurang “Indonesia” di depan masyarakat dan institusi negara. Padahal saya sering berbeda pendapat dengan ayah ibu tentang Indonesia. Padahal di setiap pertandingan bulutangkis, saya selalu membela tim Indonesia walaupun ayah ibu saya selalu membela tim China. Padahal saya tidak pernah berpikir untuk tinggal di China sedangkan ayah ibu saya cukup sering ke sana (dan saya percaya mereka bakal memilih untuk hidup di sana bila ada kesempatan). Dan segudang “padahal-padahal” lainnya.

Pada beberapa kesempatan, saya pernah berkunjung ke negara tetangga di Asia untuk melakukan tugas kantor ataupun urusan pribadi. Ada banyak orang yang saya temui saat itu terheran-heran tatkala mengetahui saya Chinese. Well, ada benarnya juga sih.. warna kulit saya relatif lebih gelap dibanding mereka. Saya juga tidak fasih berbahasa Mandarin (sangat pas-pasan untuk berjuang memesan makanan dan menawar barang), saya buta huruf di sana (paling sedih masuk ke restoran yang daftar menunya hanya berisi tulisan kanji saja, tanpa gambar sama sekali; atau menggunakan layanan supir taxi yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali dan sayangnya saya tidak membawa alamat tujuan yang ditulis dalam tulisan kanji). Juga pengetahuan saya tentang tradisi dan kebiasaan di sana sangatlah minim, dll. Jadi saya dianggap kurang “Chinese” dan sangat “Indonesia” di depan masyarakat negara tetangga tadi. Celaka dua belas. Benar-benar “antara ada dan tiada” nih namanya, abisnya Chinese bukan, Indonesia juga bukan.

Yang membuat saya tidak habis berpikir, ada sekian banyak persepsi negatif salah yang dilontarkan terhadap para IBC, diantaranya seperti:

Selain itu, IBC juga banyak menerima perlakuan kurang/tidak adil karena ke-IBC-annya, seperti:

Dengan adanya segudang persepsi negatif dan ketidakadilan tersebut, tentu saja sangat menghalangi proses pembauran IBC dengan masyarakat umum. Namun saya pribadi berpendapat bahwa IBC harus tetap membaur dengan masyarakat sekitar dan meningkatkan nasionalisme. Ini sudah selayaknya dan seharusnya, karena kita lahir di bumi Indonesia; makan, minum, dibesarkan di bumi Indonesia. Namun proses pembauran itu biarlah terjadi dengan sendirinya, tanpa perlu campur tangan yang dipaksakan dari lembaga-lembaga tertentu. Bila pembauran berjalan baik, niscaya dalam pribadi masing-masing IBC ini juga akan tumbuh rasa nasionalisme kepada Indonesia yang tinggi.

Tapi sebentar, bagaimana sih caranya mengukur tingkat nasionalisme?? Apakah orang-orang yang rajin berkoar-koar nasionalis dengan lantang, namun mereka juga melakukan tindak korupsi, bisa disebut mempunyai nasionalisme yang tinggi?? Apakah orang-orang yang gembar-gembor memperjuangkan nasib rakyat, namun mereka malah beraksi meminta kenaikan gaji yang tinggi tanpa dibarengi perbaikan kinerja yang seimbang, melancong keluar negeri dengan dalih studi banding tanpa hasil yang benar-benar bermanfaat bagi pemerintah dan rakyat, bisa disebut mempunyai nasionalisme yang tinggi?? Apakah mereka itu lebih baik dari IBC jelata seperti kami ini??

Manusia bisa memilih dengan siapa dia menikah, dimana dia bertempat tinggal, bagaimana dia melewati kehidupannya. Manusia juga bisa mengubah hidupnya, dari seorang miskin menjadi kaya, dengan modal bekerja keras, kepintaran, keuletan; bisa juga dengan korupsi dan kejahatan lainnya. Manusia bisa memilih dan mengubah jalan hidupnya sesuai kehendak dan usaha yang keras, namun ada satu hal yang tidak akan pernah diubah manusia, kelahirannya. Manusia tidak bisa memilih kapan dan dimana dia dilahirkan, di lingkungan keluarga macam apa dia dilahirkan, dengan kebangsaan apa dia dilahirkan. Oleh karenanya, tidak seorang pun yang patut dan berhak melecehkan, menganiaya, dan memperlakukan tidak adil orang lain atas dasar rasialisme.

Semoga bangsa dan negara Indonesia makin maju dalam semua bidang. Perpecahan dan pertikaian mereda, sehingga rakyat tidak lagi dilingkupi rasa was-was akan aksi bom, terorisme, dan perbuatan negatif lainnya. Perekonomian makin membaik, keamanan pun makin terjamin, dan Indonesia juga diluputkan dari bencana alam yang sangat menyedihkan. Masyarakat semakin dewasa, tidak perlu lagi muncul gonjang-ganjing tentang formalin, bakso tikus, majalah Playboy, dll.

Gong Xi Fa Chai!! Sen Di Cien Khang, Wan Se Ru Yi!!

Popularity: 9% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


4 Responses to 'IBC dan Nasionalisme'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' IBC dan Nasionalisme '.

  1. Mpu Gondrong said,

    on March 7th, 2006 at 12:53 pm

    Sebelumnya saya mengucapkan salut atas weblognya, yang saya lihat sangat rapi, tata bahasanya baik, dan menarik untuk dibaca.

    Kalo menurut saya, di banyak tempat orang sering mempermasalahkan perbedaan ketimbang melihat persamaan. Bahkan rasialisme masih menjadi persoalan di negara-negara Eropa. Padahal, siapa yang bisa menentukan saya lahir sebagai ras apa, bangsa apa, kulit apa, dst ? Ini sama saja mempermasalahkan kehendak Tuhan.

    Untuk kehidupan sehari-hari, saya pikir hadapi saja semua dengan biasa. Masalah adalah hal yang biasa bukan ? Teman saya kuliah juga dulu ada yang ‘IBC’, ya semua wajar-wajar saja. Bila ada yang kemudian berperilaku baik atau buruk, itu kembali ke pribadi masing-masing.

    Untuk lingkup kenegaraan, kita berharap masyarakat semakin terbuka dan sistem mulai dibenahi lebih baik. Seperti UU Kewarganegaraan yang menurut kabar-kabar terakhir akan dirombak cukup revolusioner. Meskipun mengubah perilaku kehidupan bermasyarakat tentu butuh waktu yang tidak sedikit.

  2. hian said,

    on March 9th, 2006 at 10:18 am

    Sangat berterimakasih atas kunjungan Mpu ke weblogs saya, juga atas nice comments-nya.

    Apa yang Anda ucapkan sangatlah benar. Orang cenderung mempermasalahkan perbedaan, bahkan mereka tidak segan-segan sengaja mencari perbedaan2 tersebut. Padahal kalau kita ingat philosophy para pendahulu kita “Bhinneka Tunggal Ika”; sudah jelas mereka tahu dan sadar akan betapa besarnya jurang perbedaan yang ada, namun tetap bersemangat mencari kesamaan untuk mewujudkan persatuan bangsa.

    Yup, saya sudah terbiasa menghadapi semuanya dengan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Jujur, waktu dulu terjadi beberapa masalah dengan ke-IBC-an saya, sempat saya berpikir betapa tidak adilnya kehidupan ini. Namun setelah semuanya berlalu sekian belas tahun, saya justru melihat karya besar Tuhan di balik semua itu. Andaikata saya tidak mengalami beberapa masalah itu, tentu saja jalan hidup saya bakal berbeda drastis dengan apa yang saya jalani sekarang ini.

    Saya lihat pemerintahan yang baru ini jauh lebih baik. Semangat menuju kehidupan berwarganegara yang lebih baik nampak cukup tinggi. Adanya (rencana) perombakan UU Kewarganegaraan, juga diakuinya agama Khonghucu, merupakan indikasi positif. Semoga hal ini bisa berlanjut terus hingga ke pemerintahan di masa yang akan datang. Semoga pula masyarakat bisa belajar saling menghargai perbedaan, dan belajar menyadari bahwa faktor keturunan/ras adalah murni urusan dan hak Tuhan; niscaya semangat “Bhinneka Tunggal Ika” bersemi dan tumbuh di lubuk hati setiap insan Indonesia.

  3. Nathania said,

    on July 12th, 2006 at 5:58 pm

    yup..im one of the IBC. Dan jujur belum pernah saya berulang kali dipanggil ” cino” meski kadang ada yang mendesis ketika saya lewat ( sampai sekarang ). But still, saya hanya anggap itu angin lewat. Toh, mereka juga tidak lebih baik dari saya.

    Harus kita akui juga kalau terkadang IBC ini bersifat arogan dan menyebalkan. Jadi, kesimpulan yang saya ambil setiap orang itu sama saja entah IBC ataupun orang Indonesia asli, kalau akhlak mereka jelek tidak akan bedanya. Bukankan manusia itu ditentukan baik dan buruk berdasarkan iman dan perbuatan, dan ras jelas bukan suatu hal yang fundamental sebagai alat penilai.

    Masalah nasionalisme..beberapa saat lalu ada forum yang membahas tentang masalah ini.dan memang tidak ada titik temu. Apa batas tersebut. Kalau kita hapal lagu nasional belum tentu juga kita itu nasionalisme…

  4. hian said,

    on July 19th, 2006 at 11:45 am

    #Nathania: Anda cukup beruntung tidak mengalami hal semacam itu di masa lampau. Saya juga setuju, arogan dan menyebalkan tidaklah terikat pada ras atau apapun juga. Ini lebih bersifat pribadi, tergantung orangnya masing2. Memvonis IBC itu baik dan yang non-IBC itu tidak baik, jelaslah salah besar.

    Saat ini situasi lebih kondusif, pemerintah tidak lagi mengakui adanya istilah “pri” dan “non-pri”. Karenanya kita harus menanggalkan atribut itu dan melakukan pembauran lebih baik lagi; tanpa harus mengedepankan ras, agama, dll. Bhinneka Tunggal Ika.

Leave a reply