<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: IBC dan Nasionalisme</title>
	<atom:link href="http://weblogs.hianoto.net/2006/01/ibc-dan-nasionalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/01/ibc-dan-nasionalisme/</link>
	<description>Internet Marketing &#124; Parenting &#124; Food &#38; Travelling &#124; Personal Development</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 11:46:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: hian</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/01/ibc-dan-nasionalisme/#comment-3203</link>
		<dc:creator>hian</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 04:45:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=216#comment-3203</guid>
		<description>#Nathania: Anda cukup beruntung tidak mengalami hal semacam itu di masa lampau. Saya juga setuju, arogan dan menyebalkan tidaklah terikat pada ras atau apapun juga. Ini lebih bersifat pribadi, tergantung orangnya masing2. Memvonis IBC itu baik dan yang non-IBC itu tidak baik, jelaslah salah besar.

Saat ini situasi lebih kondusif, pemerintah tidak lagi mengakui adanya istilah "pri" dan "non-pri". Karenanya kita harus menanggalkan atribut itu dan melakukan pembauran lebih baik lagi; tanpa harus mengedepankan ras, agama, dll. Bhinneka Tunggal Ika.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#Nathania: Anda cukup beruntung tidak mengalami hal semacam itu di masa lampau. Saya juga setuju, arogan dan menyebalkan tidaklah terikat pada ras atau apapun juga. Ini lebih bersifat pribadi, tergantung orangnya masing2. Memvonis IBC itu baik dan yang non-IBC itu tidak baik, jelaslah salah besar.</p>
<p>Saat ini situasi lebih kondusif, pemerintah tidak lagi mengakui adanya istilah &#8220;pri&#8221; dan &#8220;non-pri&#8221;. Karenanya kita harus menanggalkan atribut itu dan melakukan pembauran lebih baik lagi; tanpa harus mengedepankan ras, agama, dll. Bhinneka Tunggal Ika.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nathania</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/01/ibc-dan-nasionalisme/#comment-3155</link>
		<dc:creator>Nathania</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jul 2006 10:58:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=216#comment-3155</guid>
		<description>yup..im one of the IBC. Dan jujur belum pernah saya berulang kali dipanggil " cino" meski kadang ada yang mendesis ketika saya lewat ( sampai sekarang ). But still, saya hanya anggap itu angin lewat. Toh, mereka juga tidak lebih baik dari saya.

Harus kita akui juga kalau terkadang IBC ini bersifat arogan dan menyebalkan. Jadi, kesimpulan yang saya ambil setiap orang itu sama saja entah IBC ataupun orang Indonesia asli, kalau akhlak mereka jelek tidak akan bedanya. Bukankan manusia itu ditentukan baik dan buruk berdasarkan iman dan perbuatan, dan ras jelas bukan suatu hal yang fundamental sebagai alat penilai.

Masalah nasionalisme..beberapa saat lalu ada forum yang membahas tentang masalah ini.dan memang tidak ada titik temu. Apa batas tersebut. Kalau kita hapal lagu nasional belum tentu juga kita itu nasionalisme...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yup..im one of the IBC. Dan jujur belum pernah saya berulang kali dipanggil &#8221; cino&#8221; meski kadang ada yang mendesis ketika saya lewat ( sampai sekarang ). But still, saya hanya anggap itu angin lewat. Toh, mereka juga tidak lebih baik dari saya.</p>
<p>Harus kita akui juga kalau terkadang IBC ini bersifat arogan dan menyebalkan. Jadi, kesimpulan yang saya ambil setiap orang itu sama saja entah IBC ataupun orang Indonesia asli, kalau akhlak mereka jelek tidak akan bedanya. Bukankan manusia itu ditentukan baik dan buruk berdasarkan iman dan perbuatan, dan ras jelas bukan suatu hal yang fundamental sebagai alat penilai.</p>
<p>Masalah nasionalisme..beberapa saat lalu ada forum yang membahas tentang masalah ini.dan memang tidak ada titik temu. Apa batas tersebut. Kalau kita hapal lagu nasional belum tentu juga kita itu nasionalisme&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hian</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/01/ibc-dan-nasionalisme/#comment-2257</link>
		<dc:creator>hian</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Mar 2006 03:18:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=216#comment-2257</guid>
		<description>Sangat berterimakasih atas kunjungan Mpu ke weblogs saya, juga atas nice comments-nya.

Apa yang Anda ucapkan sangatlah benar. Orang cenderung mempermasalahkan perbedaan, bahkan mereka tidak segan-segan sengaja mencari perbedaan2 tersebut. Padahal kalau kita ingat philosophy para pendahulu kita "Bhinneka Tunggal Ika"; sudah jelas mereka tahu dan sadar akan betapa besarnya jurang perbedaan yang ada, namun tetap bersemangat mencari kesamaan untuk mewujudkan persatuan bangsa.

Yup, saya sudah terbiasa menghadapi semuanya dengan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Jujur, waktu dulu terjadi beberapa masalah dengan ke-IBC-an saya, sempat saya berpikir betapa tidak adilnya kehidupan ini. Namun setelah semuanya berlalu sekian belas tahun, saya justru melihat karya besar Tuhan di balik semua itu. Andaikata saya tidak mengalami beberapa masalah itu, tentu saja jalan hidup saya bakal berbeda drastis dengan apa yang saya jalani sekarang ini.

Saya lihat pemerintahan yang baru ini jauh lebih baik. Semangat menuju kehidupan berwarganegara yang lebih baik nampak cukup tinggi. Adanya (rencana) perombakan UU Kewarganegaraan, juga diakuinya agama Khonghucu, merupakan indikasi positif. Semoga hal ini bisa berlanjut terus hingga ke pemerintahan di masa yang akan datang. Semoga pula masyarakat bisa belajar saling menghargai perbedaan, dan belajar menyadari bahwa faktor keturunan/ras adalah murni urusan dan hak Tuhan; niscaya semangat "Bhinneka Tunggal Ika" bersemi dan tumbuh di lubuk hati setiap insan Indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sangat berterimakasih atas kunjungan Mpu ke weblogs saya, juga atas nice comments-nya.</p>
<p>Apa yang Anda ucapkan sangatlah benar. Orang cenderung mempermasalahkan perbedaan, bahkan mereka tidak segan-segan sengaja mencari perbedaan2 tersebut. Padahal kalau kita ingat philosophy para pendahulu kita &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221;; sudah jelas mereka tahu dan sadar akan betapa besarnya jurang perbedaan yang ada, namun tetap bersemangat mencari kesamaan untuk mewujudkan persatuan bangsa.</p>
<p>Yup, saya sudah terbiasa menghadapi semuanya dengan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Jujur, waktu dulu terjadi beberapa masalah dengan ke-IBC-an saya, sempat saya berpikir betapa tidak adilnya kehidupan ini. Namun setelah semuanya berlalu sekian belas tahun, saya justru melihat karya besar Tuhan di balik semua itu. Andaikata saya tidak mengalami beberapa masalah itu, tentu saja jalan hidup saya bakal berbeda drastis dengan apa yang saya jalani sekarang ini.</p>
<p>Saya lihat pemerintahan yang baru ini jauh lebih baik. Semangat menuju kehidupan berwarganegara yang lebih baik nampak cukup tinggi. Adanya (rencana) perombakan UU Kewarganegaraan, juga diakuinya agama Khonghucu, merupakan indikasi positif. Semoga hal ini bisa berlanjut terus hingga ke pemerintahan di masa yang akan datang. Semoga pula masyarakat bisa belajar saling menghargai perbedaan, dan belajar menyadari bahwa faktor keturunan/ras adalah murni urusan dan hak Tuhan; niscaya semangat &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221; bersemi dan tumbuh di lubuk hati setiap insan Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mpu Gondrong</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/01/ibc-dan-nasionalisme/#comment-2256</link>
		<dc:creator>Mpu Gondrong</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Mar 2006 05:53:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=216#comment-2256</guid>
		<description>Sebelumnya saya mengucapkan salut atas weblognya, yang saya lihat sangat rapi, tata bahasanya baik, dan menarik untuk dibaca.

Kalo menurut saya, di banyak tempat orang sering mempermasalahkan perbedaan ketimbang melihat persamaan. Bahkan rasialisme masih menjadi persoalan di negara-negara Eropa. Padahal, siapa yang bisa menentukan saya lahir sebagai ras apa, bangsa apa, kulit apa, dst ? Ini sama saja mempermasalahkan kehendak Tuhan.

Untuk kehidupan sehari-hari, saya pikir hadapi saja semua dengan biasa. Masalah adalah hal yang biasa bukan ? Teman saya kuliah juga dulu ada yang 'IBC', ya semua wajar-wajar saja. Bila ada yang kemudian berperilaku baik atau buruk, itu kembali ke pribadi masing-masing.

Untuk lingkup kenegaraan, kita berharap masyarakat semakin terbuka dan sistem mulai dibenahi lebih baik. Seperti UU Kewarganegaraan yang menurut kabar-kabar terakhir akan dirombak cukup revolusioner. Meskipun mengubah perilaku kehidupan bermasyarakat tentu butuh waktu yang tidak sedikit.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya saya mengucapkan salut atas weblognya, yang saya lihat sangat rapi, tata bahasanya baik, dan menarik untuk dibaca.</p>
<p>Kalo menurut saya, di banyak tempat orang sering mempermasalahkan perbedaan ketimbang melihat persamaan. Bahkan rasialisme masih menjadi persoalan di negara-negara Eropa. Padahal, siapa yang bisa menentukan saya lahir sebagai ras apa, bangsa apa, kulit apa, dst ? Ini sama saja mempermasalahkan kehendak Tuhan.</p>
<p>Untuk kehidupan sehari-hari, saya pikir hadapi saja semua dengan biasa. Masalah adalah hal yang biasa bukan ? Teman saya kuliah juga dulu ada yang &#8216;IBC&#8217;, ya semua wajar-wajar saja. Bila ada yang kemudian berperilaku baik atau buruk, itu kembali ke pribadi masing-masing.</p>
<p>Untuk lingkup kenegaraan, kita berharap masyarakat semakin terbuka dan sistem mulai dibenahi lebih baik. Seperti UU Kewarganegaraan yang menurut kabar-kabar terakhir akan dirombak cukup revolusioner. Meskipun mengubah perilaku kehidupan bermasyarakat tentu butuh waktu yang tidak sedikit.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
