« - »

Yang Mulia, Belajarlah Mengantri!!

Posted on 9 March 2006

Semalam saya makan di warung makan favorit kami. Kebetulan kami datang cukup awal, sehingga masih cukup sepi dan tidak perlu menunggu lama untuk mulai menyantap pesanan kami yang yummy itu. Tidak lama kemudian, ada tiga mobil datang hampir beruntun, tentunya dengan tiga rombongan yang berbeda. Pesanan mereka pun telah dicatat dan dalam proses pembuatan masakan. Selang beberapa menit, ada sebuah mobil yang parkir lagi. Penumpang mobil tersebut adalah sepasang suami istri paruh baya, yang menyampaikan pesanan mereka dan kemudian duduk di sebelah kami. Ada hal aneh yang saya amati. Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit, pesanan mereka berdua telah tersaji di meja; padahal pesanan rombongan yang datang lebih dahulu malah belum dibuat.

Ada apa gerangan??

Usut punya usut, ternyata (katanya) mereka merupakan orang penting (baca: pejabat) di daerah ini.

Tentu saja saya mengerti pejabat harus didahulukan bila mereka sedang mengemban tugas kedinasan yang penting, sehingga para pemakai jalan harus mengalah saat beliau lewat (walaupun terkadang kita dengar anekdot bahwa yang duduk di dalam mobil tersebut adalah istri mereka yang sedang buru-buru ke tempat arisan). Namun haruskah para pejabat diberi hak ekslusif sehingga tidak perlu mengantri saat bersantap malam di warung pinggir jalan?? Apakah mereka tidak bermalu hati kepada para rakyat jelata yang sama-sama dalam kondisi lapar dan telah mengantri terlebih dahulu?? Apakah mereka sedemikian laparnya sehingga tidak perlu mengindahkan tata krama dan etika mengantri?? Bukankah pada kesempatan tersebut mereka seharusnya menanggalkan jabatan dan statusnya, serta menjadi rakyat biasa?? Bukankah kesempatan tersebut adalah kesempatan yang baik, dimana pejabat dapat bergaul dan berbincang-bincang dengan rakyat jelata, mengetahui permasalahan yang dihadapi rakyat, serta mendapatkan saran dan pendapat mereka tentang masalah aktual sekarang ini??

Sungguh saya pikir ada baiknya pejabat (dan keluarganya) belajar mengantri dan menjalani hidup ini secara biasa dan bersahaja, terutama saat mereka sedang tidak mengemban tugas kedinasan.

Yang Mulia, belajarlah mengantri!!

Popularity: 7% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


6 Responses to 'Yang Mulia, Belajarlah Mengantri!!'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Yang Mulia, Belajarlah Mengantri!! '.

  1. Dicky Husada said,

    on May 15th, 2006 at 7:08 pm

    Wah pak saya setuju sekali dengan hal ini lho.
    Memang orang makin tinggi makin susah untuk merendah.
    Biarlah yang tinggi2 tetap ingat untuk rendah hati.

    Thx

  2. Rina said,

    on May 16th, 2006 at 6:51 pm

    wah pak, saya juga setuju banget dengan pendapat bapak…tapi saya pikir, mungkin sebaiknya budaya antri sendiri wajib kita ajarkan sedini mungkin terhadap anak-anak kita….kalo sudah tua dan punya jabatan tinggi, suka ga inget antri….saya sendiri 6 tahun terakhir ini tinggal di luar negeri.4 tahun di malaysia,singapura dan sekarang di middle east,(ga usah orang indonesia)saya lihat kecenderungannya sama kok, ga doyan ngantri dan ga peduli dengan kepentingan orang lain yang lebih mendesak!mereka ga peduli kok nyodok kita dari kiri and kanan supaya bisa duluan.kadang saya suka salut ma orang asing (europe/western)mereka lebih tertib dan ga segan untuk antri di belakang kita (walaupun ngantri untuk hal yang remeh) .BTW, weblogs nya bagus,apalagi info makanannya…bisa jadi bahan recommend saya kalo pulang ke tanah air.Trims

  3. hian said,

    on May 17th, 2006 at 10:29 am

    Pak Dicky dan Bu Rina,

    Thanks atas dukungannya. Benar, kita semua harus belajar antri dengan tertib.. Keberhasilan antri sangatlah ditentukan dari kemauan diri sendiri dan kondisi lingkungan..

    Sangatlah sering saya merasa mendongkol karena mengantri dengan benar dan tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya; malah yang tidak mengantri, yang tega marah2 dan main selonong justru yang dilayani terlebih dahulu. Biasanya klo sudah begini, istri saya yang maju šŸ™‚ (terutama bila kita merasa memang sudah giliran kita)

  4. Nathania said,

    on July 12th, 2006 at 5:51 pm

    well…menurut saya pribadi sih, bukan hanya dalam hal makan. Ketika kita memakai jalan dan kemudian disuruh minggir karena ada pejabat yang mau lewat menurut saya juga menganggu. Kembali lagi ke konsep demokrasi, pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Seharusnya, kedudukan para pejabat itu tidak lebih dari ” pegawai ” kita. Yang bayar gaji mereka kita kok. Selain itu, pejabat ada urusan penting, kita jg bisa saja ada urusan penting kan ?
    Kalau masala resto..itu contoh ke-aroganan pejabat kita yang notabene banyak yang OKB ( orang kaya baru ). Jadi, selalu pingin merasa gimana rasanya punya kuasa..

  5. Dee said,

    on July 14th, 2006 at 8:39 am

    saya rasa para pejabat harus belajar lebih dari sekedar mengantri, tapi juga tepo seliro dan lebih menghargai orang lain, mereka juga harus belajar bahwa semua orang sama di mata hukum sehingga tidak semena-mena. saya juga sering harus minggir kalo rombongan ‘yang mulia’ sedang lewat, dan kayanya waktu saya juga sama pentingnya dengan mereka deh…kecuali untuk ambulance yang tentu saja about life and death, saya males tuh minggir, biasanya nunggu diklaksonin baru minggir hehe…cuek ajah!!

  6. hian said,

    on July 19th, 2006 at 11:52 am

    #Nathania: Saya sih tidak keberatan bila perjalanan pejabat didahulukan, sepanjang itu memang terkait dengan urgency perjalanan itu sendiri. Tidak lucu khan pejabat terlambat saat menghadiri rapat penting di pemerintahan karena jalan macet. Namun tidak layak pulalah perjalanan pejabat didahulukan, padahal ybs hanya pulang kerja seperti biasa dan tidak ada agenda kerja penting setelahnya.

    #Dee: Ya, saya setuju dengan Anda; namun hidup di Indonesia ini memang unik, jangan sampai Anda mengalami kesulitan berkelanjutan yang tidak perlu akibat memaksakan diri tidak memberi jalan “Yang Mulia” yang mau lewat. BTW, saya suka blog Anda, isinya cukup asyik.

Leave a reply