<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Yang Mulia, Belajarlah Mengantri!!</title>
	<atom:link href="http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/</link>
	<description>Internet Marketing &#124; Parenting &#124; Food &#38; Travelling &#124; Personal Development</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 17:25:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: hian</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/#comment-3204</link>
		<dc:creator>hian</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 04:52:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=227#comment-3204</guid>
		<description>#Nathania: Saya sih tidak keberatan bila perjalanan pejabat didahulukan, sepanjang itu memang terkait dengan urgency perjalanan itu sendiri. Tidak lucu khan pejabat terlambat saat menghadiri rapat penting di pemerintahan karena jalan macet. Namun tidak layak pulalah perjalanan pejabat didahulukan, padahal ybs hanya pulang kerja seperti biasa dan tidak ada agenda kerja penting setelahnya.

#Dee: Ya, saya setuju dengan Anda; namun hidup di Indonesia ini memang unik, jangan sampai Anda mengalami kesulitan berkelanjutan yang tidak perlu akibat memaksakan diri tidak memberi jalan "Yang Mulia" yang mau lewat. BTW, saya suka blog Anda, isinya cukup asyik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#Nathania: Saya sih tidak keberatan bila perjalanan pejabat didahulukan, sepanjang itu memang terkait dengan urgency perjalanan itu sendiri. Tidak lucu khan pejabat terlambat saat menghadiri rapat penting di pemerintahan karena jalan macet. Namun tidak layak pulalah perjalanan pejabat didahulukan, padahal ybs hanya pulang kerja seperti biasa dan tidak ada agenda kerja penting setelahnya.</p>
<p>#Dee: Ya, saya setuju dengan Anda; namun hidup di Indonesia ini memang unik, jangan sampai Anda mengalami kesulitan berkelanjutan yang tidak perlu akibat memaksakan diri tidak memberi jalan &#8220;Yang Mulia&#8221; yang mau lewat. BTW, saya suka blog Anda, isinya cukup asyik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dee</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/#comment-3163</link>
		<dc:creator>Dee</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Jul 2006 01:39:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=227#comment-3163</guid>
		<description>saya rasa para pejabat harus belajar lebih dari sekedar mengantri, tapi juga tepo seliro dan lebih menghargai orang lain, mereka juga harus belajar bahwa semua orang sama di mata hukum sehingga tidak semena-mena. saya juga sering harus minggir kalo rombongan 'yang mulia' sedang lewat, dan kayanya waktu saya juga sama pentingnya dengan mereka deh...kecuali untuk ambulance yang tentu saja about life and death, saya males tuh minggir, biasanya nunggu diklaksonin baru minggir hehe...cuek ajah!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya rasa para pejabat harus belajar lebih dari sekedar mengantri, tapi juga tepo seliro dan lebih menghargai orang lain, mereka juga harus belajar bahwa semua orang sama di mata hukum sehingga tidak semena-mena. saya juga sering harus minggir kalo rombongan &#8216;yang mulia&#8217; sedang lewat, dan kayanya waktu saya juga sama pentingnya dengan mereka deh&#8230;kecuali untuk ambulance yang tentu saja about life and death, saya males tuh minggir, biasanya nunggu diklaksonin baru minggir hehe&#8230;cuek ajah!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nathania</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/#comment-3154</link>
		<dc:creator>Nathania</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jul 2006 10:51:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=227#comment-3154</guid>
		<description>well...menurut saya pribadi sih, bukan hanya dalam hal makan. Ketika kita memakai jalan dan kemudian disuruh minggir karena ada pejabat yang mau lewat menurut saya juga menganggu. Kembali lagi ke konsep demokrasi, pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Seharusnya, kedudukan para pejabat itu tidak lebih dari " pegawai " kita. Yang bayar gaji mereka kita kok. Selain itu, pejabat ada urusan penting, kita jg bisa saja ada urusan penting kan ? 
Kalau masala resto..itu contoh ke-aroganan pejabat kita yang notabene banyak yang OKB ( orang kaya baru ). Jadi, selalu pingin merasa gimana rasanya punya kuasa..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>well&#8230;menurut saya pribadi sih, bukan hanya dalam hal makan. Ketika kita memakai jalan dan kemudian disuruh minggir karena ada pejabat yang mau lewat menurut saya juga menganggu. Kembali lagi ke konsep demokrasi, pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Seharusnya, kedudukan para pejabat itu tidak lebih dari &#8221; pegawai &#8221; kita. Yang bayar gaji mereka kita kok. Selain itu, pejabat ada urusan penting, kita jg bisa saja ada urusan penting kan ?<br />
Kalau masala resto..itu contoh ke-aroganan pejabat kita yang notabene banyak yang OKB ( orang kaya baru ). Jadi, selalu pingin merasa gimana rasanya punya kuasa..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hian</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/#comment-2538</link>
		<dc:creator>hian</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 May 2006 03:29:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=227#comment-2538</guid>
		<description>Pak Dicky dan Bu Rina,

Thanks atas dukungannya. Benar, kita semua harus belajar antri dengan tertib.. Keberhasilan antri sangatlah ditentukan dari kemauan diri sendiri dan kondisi lingkungan.. 

Sangatlah sering saya merasa mendongkol karena mengantri dengan benar dan tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya; malah yang tidak mengantri, yang tega marah2 dan main selonong justru yang dilayani terlebih dahulu. Biasanya klo sudah begini, istri saya yang maju :-) (terutama bila kita merasa memang sudah giliran kita)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Dicky dan Bu Rina,</p>
<p>Thanks atas dukungannya. Benar, kita semua harus belajar antri dengan tertib.. Keberhasilan antri sangatlah ditentukan dari kemauan diri sendiri dan kondisi lingkungan.. </p>
<p>Sangatlah sering saya merasa mendongkol karena mengantri dengan benar dan tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya; malah yang tidak mengantri, yang tega marah2 dan main selonong justru yang dilayani terlebih dahulu. Biasanya klo sudah begini, istri saya yang maju <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> (terutama bila kita merasa memang sudah giliran kita)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rina</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/#comment-2525</link>
		<dc:creator>Rina</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 May 2006 11:51:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=227#comment-2525</guid>
		<description>wah pak, saya juga setuju banget dengan pendapat bapak...tapi saya pikir, mungkin sebaiknya budaya antri sendiri wajib kita ajarkan sedini mungkin terhadap anak-anak kita....kalo sudah tua dan punya jabatan tinggi, suka ga inget antri....saya sendiri 6 tahun terakhir ini tinggal di luar negeri.4 tahun di malaysia,singapura dan sekarang di middle east,(ga usah orang indonesia)saya lihat kecenderungannya sama kok, ga doyan ngantri dan ga peduli dengan kepentingan orang lain yang lebih mendesak!mereka ga peduli kok nyodok kita dari kiri and kanan supaya bisa duluan.kadang saya suka salut ma orang asing (europe/western)mereka lebih tertib dan ga segan untuk antri di belakang kita (walaupun ngantri untuk hal yang remeh) .BTW, weblogs nya bagus,apalagi info makanannya...bisa jadi bahan recommend saya kalo pulang ke tanah air.Trims</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah pak, saya juga setuju banget dengan pendapat bapak&#8230;tapi saya pikir, mungkin sebaiknya budaya antri sendiri wajib kita ajarkan sedini mungkin terhadap anak-anak kita&#8230;.kalo sudah tua dan punya jabatan tinggi, suka ga inget antri&#8230;.saya sendiri 6 tahun terakhir ini tinggal di luar negeri.4 tahun di malaysia,singapura dan sekarang di middle east,(ga usah orang indonesia)saya lihat kecenderungannya sama kok, ga doyan ngantri dan ga peduli dengan kepentingan orang lain yang lebih mendesak!mereka ga peduli kok nyodok kita dari kiri and kanan supaya bisa duluan.kadang saya suka salut ma orang asing (europe/western)mereka lebih tertib dan ga segan untuk antri di belakang kita (walaupun ngantri untuk hal yang remeh) .BTW, weblogs nya bagus,apalagi info makanannya&#8230;bisa jadi bahan recommend saya kalo pulang ke tanah air.Trims</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dicky Husada</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/03/yang-mulia-belajarlah-mengantri/#comment-2514</link>
		<dc:creator>Dicky Husada</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 May 2006 12:08:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/?p=227#comment-2514</guid>
		<description>Wah pak saya setuju sekali dengan hal ini lho.
Memang orang makin tinggi makin susah untuk merendah.
Biarlah yang tinggi2 tetap ingat untuk rendah hati.

Thx</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah pak saya setuju sekali dengan hal ini lho.<br />
Memang orang makin tinggi makin susah untuk merendah.<br />
Biarlah yang tinggi2 tetap ingat untuk rendah hati.</p>
<p>Thx</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
