« - »

Muatan Lokal

Posted on 13 June 2006

Saya sudah menjadi pelanggan setia suratkabar Kompas beberapa tahun terakhir ini. Sejak belajar pengelolaan keuangan, saya belajar untuk memangkas pengeluaran yang tidak perlu; termasuk diantaranya adalah biaya berlangganan suratkabar Suara Merdeka dan Kompas; sehingga akhirnya kami hanya berlangganan satu suratkabar saja, yaitu Kompas. Setelah sekian bulan lamanya, atas permintaan istri, akhirnya sejak 1 Juni 2006 lalu kami menghentikan langganan suratkabar Kompas dan beralih ke Suara Merdeka.

Kenapa?? Apakah Kompas tidak lagi bisa memenuhi selera kami?? Sebenarnya tidak sepenuhnya demikian; bahkan sejak berpindah langganan saya sering menggerutu tatkala membaca harian Suara Merdeka karena format dan isinya yang kurang pas untuk saya. Kami berpindah karena butuh muatan lokal! Tidak bisa dipungkiri, iklan Duka Cita menjadi salah satu kebutuhan utama; juga iklan tentang Seminar dan Promosi vendor lokal; belum lagi berita penyelenggaraan event-event lokal yang cukup relevan.

Hal yang sama juga saya alami saat menonton acara kuliner di televisi. Dibandingkan acara “Bango Cita Rasa Nusantara” (BCRN) di TransTV, saya lebih menikmati acara “Uenak Tenan” di TV Borobudur; padahal sejujurnya kualitas acara BCRN jauh di atas acara “Uenak Tenan”. Koq bisa?? Ya karena faktor yang sama tadi, muatan lokal! Di acara bermuatan lokal ini, saya bisa mengenali penjual makanan yang sedang diliput, atau setidaknya mengenali jalan/lokasi dimana penjual makanan tersebut berada. Andaikan toh saya tidak mengenali itu semua, saya tetap bisa meluangkan waktu untuk mengunjunginya (bila benar-benar tertarik).

Namun anehnya, diagnosa akan kebutuhan muatan lokal ini tidak bisa tercermin dengan baik saat membangun komunitas profesi di kota Semarang tercinta ini. Komunitas CEC Semarang masih belum bisa berkembang sesuai harapan. Jumlah peserta masih terlalu sedikit, anggota/simpatisan yang aktif juga sangat terbatas. Padahal hampir setahun penuh, komunitas ini pernah menjalankan strategi promosi untuk menjaring anggota dengan mengadakan pertemuan bulanan secara gratis (masih dapat makan malam atau snack lagi)!! Dipikir-pikir memang aneh juga, komunitas ini dibangun dengan semangat sosial tanpa memikirkan financial profit sama sekali, biaya bulanan yang relatif cukup murah, dan materi diskusi yang tidak terlalu jelek; tapi koq tidak bisa berkembang dan tumbuh dewasa menjadi sebuah organisasi nirlaba yang kuat??

Sungguh, saya membutuhkan saran dan masukan dari rekan-rekan mengenai pengembangan dan pendewasaan komunitas lokal untuk profesi IT di Semarang. Terimakasih sebelumnya.

Popularity: 8% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


One Response to 'Muatan Lokal'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Muatan Lokal '.


  1. on June 20th, 2006 at 11:11 am

    […] Beberapa hari lalu, ada seorang teman memberitahu bahwa foto Brian dan beberapa anak lainnya dipasang di harian Suara Merdeka. Penasaran, kami pun berburu harian tersebut (maklum, saat tanggal pemuatan itu, kami masih berlangganan Kompas). Akhirnya berkat bantuan keluarga, kami pun berhasil mendapatkan harian edisi tersebut. […]

Leave a reply