« - »

Naik Gaji

Posted on 1 June 2006

Bulan Januari, April, dan Mei merupakan bulan-bulan yang dinanti kebanyakan kaum pekerja. Kenapa?? Karena pada bulan-bulan itu, banyak perusahaan melakukan evaluasi kinerja dan gaji. Nah kali ini saya ingin diskusi sedikit tentang kenaikan gaji dan hubungannya dengan pengelolaan keuangan pribadi.

Kenaikan gaji cenderung mengakibatkan kenaikan pengeluaran. Hal ini sangatlah logis karena kita mulai memikirkan untuk membeli hal-hal yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Misalnya seorang karyawan (sebut saja Burhan) dengan gaji Rp 1 juta yang digunakannya untuk membayar kontrak rumah, biaya makan dan transportasi, dan sesekali menonton bioskop atau membeli pakaian. Saat Burhan mendapatkan kenaikan gaji sebesar Rp 200 ribu, maka dia mulai berpikir untuk membeli handphone bekas dengan cara menabung selama 3 bulan berturut-turut. Tahun depan, saat memperoleh kenaikan sebesar Rp 300 ribu, maka dia ingin membeli sepeda motor; kali ini dengan cara mengangsur. Kedengarannya cukup familiar bukan?? šŸ™‚

Sekarang, mari kita coba melihat kenaikan gaji dari sisi lain. Bila selama ini kita tetap bisa hidup dengan standar gaji yang lama, kenapa kita tidak mencoba untuk menyimpan selisih gaji baru dengan lama ke rekening tabungan?? Minimal bila kita memang benar-benar membutuhkan dana tambahan, maka upayakan (baca: paksakan) untuk menabung sebagian selisih gaji baru dan lama tersebut. Dengan demikian, kita akan bisa menabung dengan baik dengan tanpa mengurangi kualitas hidup saat ini. Selain itu, kita tetap terlatih untuk senantiasa hidup hemat dan menggunakan uang dengan bijak.

Hal lain yang sering kita temui adalah meng-ijon-kan kenaikan gaji. Maksudnya begini, kita sudah memperkirakan bahwa dua bulan lagi kita akan menerima kenaikan gaji; dari pengalaman yang lalu, gaji naik rata-rata sekitar 15%. Menimbang saat ini gaji yang diterima adalah Rp 1 juta, maka kita memperhitungkan sejak dua bulan mendatang, kita akan memperoleh tambahan dana sebesar Rp 150 ribu. Pertimbangan ini membuat kita berani membeli TV baru dengan cicilan Rp 135 ribu selama sekian bulan ke depan. Perlu saya ingatkan, hal ini sangatlah buruk karena tidak ada seorangpun yang menjamin bahwa kita akan menerima kenaikan gaji Rp 150 ribu dua bulan mendatang.

Marilah kita secara bijak menyikapi penerimaan kenaikan gaji sehingga keuangan kita menjadi lebih baik dan tabungan kita semakin bertambah.

Popularity: 9% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


6 Responses to 'Naik Gaji'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Naik Gaji '.

  1. Tatang Kusmayana said,

    on June 17th, 2006 at 5:38 am

    Salam Kenal,
    Saya asli dari jawa barat, tinggal di Semarang sudah 8 tahun
    Hobi catur, membaca & main game.
    Saya berharap bisa berkenalan lebih jauh dengan bp. hianoto, untuk bertukar pengalaman dan informasi untuk hidup lebih baik.

    Terima kasi.

  2. hian said,

    on June 23rd, 2006 at 9:52 am

    Salam kenal; terimakasih sudah berkunjung ke blog saya…

    Tentu saja, dengan senang hati saya juga bisa mendengar kisah berbagi pengalaman dan info-nya Pak Tatang agar bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.. Terus terang, saya hanyalah seorang pemula yang baru tahu sekelumit kulit ari saja; namun nekad menuliskannya di blog. Ini adalah metode pembelajaran yang saya sukai..

  3. Ervan said,

    on October 11th, 2006 at 11:33 am

    Menyoal Gaji, saya ada pertanyaan sehubungan dengan gaji ke-13 (THR)

    Apakah bisa dilakukan pemotongan pada THR oleh perusahaan dengan dalih kinerja perusahaan sedang menurun (sleeping)? Bagaimana cara menyikapinya jika keputusan tersebut tetap dijalankan?

    Rgds
    Ervan

  4. hian said,

    on October 11th, 2006 at 2:05 pm

    #3: Bung Ervan, sayang sekali saya tidak berkompeten menjawab hal ini. Barusan googling mencari referensi, saya menemukan Permenaker 04/1994 (Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 04/MEN/94) pasal 7 bahwa:

    Ayat 1: Pengusaha yang karena kondisi perusahaannya tidak mampu membayar THR dapat mengajukan permohonan penyimpangan mengenai besarnya jumlah THR kepada Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan.

    Ayat 2: Pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) harus diajukan paling lambat 2 bulan sebelum Hari Raya Keagamaan yang terdekat.

    Ayat 3: Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan menetapkan besarnya jumlah THR, setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan keuangan perusahaan.

    Saya tidak tahu persis apakah PER-MEN tersebut masih berlaku atau sudah ada penggantinya. Silakan berdiskusi dengan pihak-pihak lain yang lebih berkompeten.

    Namun demikian, andaikata kita seorang karyawan dan tidak mendapatkan THR secara utuh karena kinerja perusahaan sedang menurun, apa yang harus kita lakukan?? Bisa saja kita punya pilihan meminta perusahaan untuk tetap membagikan THR tanpa dipotong; namun apakah hal itu akan menyelesaikan masalah?? Bisa jadi perusahaan malah mengumumkan kebangkrutan, para karyawan tidak bisa bekerja lagi, dan keberlangsungan hidup keluarga karyawan menjadi terancam.

    Akan lebih baik bila para karyawan bisa bernegosiasi dengan pemilik perusahaan bahwa karyawan bisa memaklumi dan menerima keadaan ini (pemotongan THR) karena kondisi perusahaan yang tidak memungkinkan saat ini. Semua karyawan akan berkomitmen untuk memulihkan dan memajukan perusahaan; namun perusahaan juga harus berkomitmen untuk membayar THR dengan utuh (dan kalau bisa, lebih banyak untuk membayar hutang THR yang lalu) bila perusahaan telah kembali pulih dan bahkan bisa berkembang lebih besar karena seluruh karyawan kompak bekerja sama memajukan perusahaan dengan segenap tenaga.

    Semoga kinerja perusahaan dapat kembali pulih dan karyawan dapat memperoleh kembali hak-haknya. Jangan lupa untuk senantiasa mengelola keuangan dengan baik, terutama di masa yang sulit seperti ini. Sukses untuk Anda!


  5. on November 15th, 2006 at 6:37 pm

    Salam kenal,

    Mau nimbrung soal gaji. Prinsip yang Bung ajukan itu sangat baik, bagaimana mengelola uang secara bijak. Kuncinya menurut Saya landasan moralnya bagaimana kita merasa cukup dengan apa yang ada dan tahu bagaimana menginvestasikan uang kita secara benar. Tidak terbawa gaya hidup konsumtif. Betapa banyak orang-orang terpengaruh dengan media yang menawarkan banyak barang konsumsi dari hari ke hari, sehingga tidak berpikir lagi kebutuhan masa depan. Atau banyak orang berpikir punya mobil merek honda itu gak cukup mustinya mercedes. Kapan kita bisa berkata ini sudah cukup dan kalau bisa memulai untuk bisa berbagi. Lihat saja yang terjadi pada praktek globalisasi, krn tidak ada yang merasa cukup, maka praktek dagang yang curang mulai dilakukan, buruh dibayar murah atau pabrik ditutup dan dipindah ke China atau dimana mereka dapat buruh murah. Negara maju melakukan perjanian dagang sendiri tanpa melibatkan negara berkembang, padahal perjanjian itu sangat merugikan negara berkembang. Dan praktek-praktek ketidakdilan seperti ini didasari oleh prinsip manusia untuk ukuran kesejahteraan hidup yang salah. So, saya setuju kalau kita melakukan gerakan moral dari diri kita sendiri, seperti yang diusulkan Bung Hian ini, kelolalah uang secara bijak.

    Wuppertal 15. November,

    Natalia

  6. mutia said,

    on October 6th, 2007 at 1:44 pm

    lagi iseng2 googling, masuk ke site ini.Thanks sarannya.saya jadi merasa membaca pengalaman pribadi disini

Leave a reply