<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Naik Gaji</title>
	<atom:link href="http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/</link>
	<description>Internet Marketing &#124; Parenting &#124; Food &#38; Travelling &#124; Personal Development</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 18:07:27 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: mutia</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-13246</link>
		<dc:creator>mutia</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2007 06:44:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-13246</guid>
		<description>lagi iseng2 googling, masuk ke site ini.Thanks sarannya.saya jadi merasa membaca pengalaman pribadi disini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lagi iseng2 googling, masuk ke site ini.Thanks sarannya.saya jadi merasa membaca pengalaman pribadi disini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Natalia Setiyawati</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-5942</link>
		<dc:creator>Natalia Setiyawati</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Nov 2006 11:37:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-5942</guid>
		<description>Salam kenal,

Mau nimbrung soal gaji. Prinsip yang Bung ajukan itu sangat baik, bagaimana mengelola uang secara bijak. Kuncinya menurut Saya landasan moralnya bagaimana kita merasa cukup dengan apa yang ada dan tahu bagaimana menginvestasikan uang kita secara benar. Tidak terbawa gaya hidup konsumtif. Betapa banyak orang-orang terpengaruh dengan media yang menawarkan banyak barang konsumsi dari hari ke hari, sehingga tidak berpikir lagi kebutuhan masa depan. Atau banyak orang berpikir punya mobil merek honda itu gak cukup mustinya mercedes. Kapan kita bisa berkata ini sudah cukup dan kalau bisa memulai untuk bisa berbagi. Lihat saja yang terjadi pada praktek globalisasi, krn tidak ada yang merasa cukup, maka praktek dagang yang curang mulai dilakukan, buruh dibayar murah atau pabrik ditutup dan dipindah ke China atau dimana mereka dapat buruh murah. Negara maju melakukan perjanian dagang sendiri tanpa melibatkan negara berkembang, padahal perjanjian itu sangat merugikan negara berkembang. Dan praktek-praktek ketidakdilan seperti ini didasari oleh prinsip manusia untuk ukuran kesejahteraan hidup yang salah. So, saya setuju kalau kita melakukan gerakan moral dari diri kita sendiri, seperti yang diusulkan Bung Hian ini, kelolalah uang secara bijak.

Wuppertal 15. November, 

Natalia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal,</p>
<p>Mau nimbrung soal gaji. Prinsip yang Bung ajukan itu sangat baik, bagaimana mengelola uang secara bijak. Kuncinya menurut Saya landasan moralnya bagaimana kita merasa cukup dengan apa yang ada dan tahu bagaimana menginvestasikan uang kita secara benar. Tidak terbawa gaya hidup konsumtif. Betapa banyak orang-orang terpengaruh dengan media yang menawarkan banyak barang konsumsi dari hari ke hari, sehingga tidak berpikir lagi kebutuhan masa depan. Atau banyak orang berpikir punya mobil merek honda itu gak cukup mustinya mercedes. Kapan kita bisa berkata ini sudah cukup dan kalau bisa memulai untuk bisa berbagi. Lihat saja yang terjadi pada praktek globalisasi, krn tidak ada yang merasa cukup, maka praktek dagang yang curang mulai dilakukan, buruh dibayar murah atau pabrik ditutup dan dipindah ke China atau dimana mereka dapat buruh murah. Negara maju melakukan perjanian dagang sendiri tanpa melibatkan negara berkembang, padahal perjanjian itu sangat merugikan negara berkembang. Dan praktek-praktek ketidakdilan seperti ini didasari oleh prinsip manusia untuk ukuran kesejahteraan hidup yang salah. So, saya setuju kalau kita melakukan gerakan moral dari diri kita sendiri, seperti yang diusulkan Bung Hian ini, kelolalah uang secara bijak.</p>
<p>Wuppertal 15. November, </p>
<p>Natalia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hian</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-4869</link>
		<dc:creator>hian</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Oct 2006 07:05:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-4869</guid>
		<description>#3: Bung Ervan, sayang sekali saya tidak berkompeten menjawab hal ini. Barusan googling mencari referensi, saya menemukan Permenaker 04/1994 (Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 04/MEN/94) pasal 7 bahwa:

Ayat 1: Pengusaha yang karena kondisi perusahaannya tidak mampu membayar THR dapat mengajukan permohonan penyimpangan mengenai besarnya jumlah THR kepada Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan.

Ayat 2: Pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) harus diajukan paling lambat 2 bulan sebelum Hari Raya Keagamaan yang terdekat.

Ayat 3: Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan menetapkan besarnya jumlah THR, setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan keuangan perusahaan.

Saya tidak tahu persis apakah PER-MEN tersebut masih berlaku atau sudah ada penggantinya. Silakan berdiskusi dengan pihak-pihak lain yang lebih berkompeten.

Namun demikian, andaikata kita seorang karyawan dan tidak mendapatkan THR secara utuh karena kinerja perusahaan sedang menurun, apa yang harus kita lakukan?? Bisa saja kita punya pilihan meminta perusahaan untuk tetap membagikan THR tanpa dipotong; namun apakah hal itu akan menyelesaikan masalah?? Bisa jadi perusahaan malah mengumumkan kebangkrutan, para karyawan tidak bisa bekerja lagi, dan keberlangsungan hidup keluarga karyawan menjadi terancam. 

Akan lebih baik bila para karyawan bisa bernegosiasi dengan pemilik perusahaan bahwa karyawan bisa memaklumi dan menerima keadaan ini (pemotongan THR) karena kondisi perusahaan yang tidak memungkinkan saat ini. Semua karyawan akan berkomitmen untuk memulihkan dan memajukan perusahaan; namun perusahaan juga harus berkomitmen untuk membayar THR dengan utuh (dan kalau bisa, lebih banyak untuk membayar hutang THR yang lalu) bila perusahaan telah kembali pulih dan bahkan bisa berkembang lebih besar karena seluruh karyawan kompak bekerja sama memajukan perusahaan dengan segenap tenaga.

Semoga kinerja perusahaan dapat kembali pulih dan karyawan dapat memperoleh kembali hak-haknya. Jangan lupa untuk senantiasa mengelola keuangan dengan baik, terutama di masa yang sulit seperti ini. Sukses untuk Anda!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#3: Bung Ervan, sayang sekali saya tidak berkompeten menjawab hal ini. Barusan googling mencari referensi, saya menemukan Permenaker 04/1994 (Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 04/MEN/94) pasal 7 bahwa:</p>
<p>Ayat 1: Pengusaha yang karena kondisi perusahaannya tidak mampu membayar THR dapat mengajukan permohonan penyimpangan mengenai besarnya jumlah THR kepada Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan.</p>
<p>Ayat 2: Pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) harus diajukan paling lambat 2 bulan sebelum Hari Raya Keagamaan yang terdekat.</p>
<p>Ayat 3: Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan menetapkan besarnya jumlah THR, setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan keuangan perusahaan.</p>
<p>Saya tidak tahu persis apakah PER-MEN tersebut masih berlaku atau sudah ada penggantinya. Silakan berdiskusi dengan pihak-pihak lain yang lebih berkompeten.</p>
<p>Namun demikian, andaikata kita seorang karyawan dan tidak mendapatkan THR secara utuh karena kinerja perusahaan sedang menurun, apa yang harus kita lakukan?? Bisa saja kita punya pilihan meminta perusahaan untuk tetap membagikan THR tanpa dipotong; namun apakah hal itu akan menyelesaikan masalah?? Bisa jadi perusahaan malah mengumumkan kebangkrutan, para karyawan tidak bisa bekerja lagi, dan keberlangsungan hidup keluarga karyawan menjadi terancam. </p>
<p>Akan lebih baik bila para karyawan bisa bernegosiasi dengan pemilik perusahaan bahwa karyawan bisa memaklumi dan menerima keadaan ini (pemotongan THR) karena kondisi perusahaan yang tidak memungkinkan saat ini. Semua karyawan akan berkomitmen untuk memulihkan dan memajukan perusahaan; namun perusahaan juga harus berkomitmen untuk membayar THR dengan utuh (dan kalau bisa, lebih banyak untuk membayar hutang THR yang lalu) bila perusahaan telah kembali pulih dan bahkan bisa berkembang lebih besar karena seluruh karyawan kompak bekerja sama memajukan perusahaan dengan segenap tenaga.</p>
<p>Semoga kinerja perusahaan dapat kembali pulih dan karyawan dapat memperoleh kembali hak-haknya. Jangan lupa untuk senantiasa mengelola keuangan dengan baik, terutama di masa yang sulit seperti ini. Sukses untuk Anda!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ervan</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-4867</link>
		<dc:creator>Ervan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Oct 2006 04:33:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-4867</guid>
		<description>Menyoal Gaji, saya ada pertanyaan sehubungan dengan gaji ke-13 (THR)

Apakah bisa dilakukan pemotongan pada THR oleh perusahaan dengan dalih kinerja perusahaan sedang menurun (sleeping)? Bagaimana cara menyikapinya jika keputusan tersebut tetap dijalankan?

Rgds
Ervan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menyoal Gaji, saya ada pertanyaan sehubungan dengan gaji ke-13 (THR)</p>
<p>Apakah bisa dilakukan pemotongan pada THR oleh perusahaan dengan dalih kinerja perusahaan sedang menurun (sleeping)? Bagaimana cara menyikapinya jika keputusan tersebut tetap dijalankan?</p>
<p>Rgds<br />
Ervan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hian</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-2878</link>
		<dc:creator>hian</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jun 2006 02:52:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-2878</guid>
		<description>Salam kenal; terimakasih sudah berkunjung ke blog saya...

Tentu saja, dengan senang hati saya juga bisa mendengar kisah berbagi pengalaman dan info-nya Pak Tatang agar bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.. Terus terang, saya hanyalah seorang pemula yang baru tahu sekelumit kulit ari saja; namun nekad menuliskannya di blog. Ini adalah metode pembelajaran yang saya sukai..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal; terimakasih sudah berkunjung ke blog saya&#8230;</p>
<p>Tentu saja, dengan senang hati saya juga bisa mendengar kisah berbagi pengalaman dan info-nya Pak Tatang agar bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.. Terus terang, saya hanyalah seorang pemula yang baru tahu sekelumit kulit ari saja; namun nekad menuliskannya di blog. Ini adalah metode pembelajaran yang saya sukai..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tatang Kusmayana</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-2806</link>
		<dc:creator>Tatang Kusmayana</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jun 2006 22:38:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comment-2806</guid>
		<description>Salam Kenal,
Saya asli dari jawa barat, tinggal di Semarang sudah 8 tahun
Hobi catur, membaca &#38;  main game.
Saya berharap bisa berkenalan lebih jauh dengan bp. hianoto, untuk bertukar pengalaman dan informasi untuk hidup lebih baik.

Terima kasi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Kenal,<br />
Saya asli dari jawa barat, tinggal di Semarang sudah 8 tahun<br />
Hobi catur, membaca &amp;  main game.<br />
Saya berharap bisa berkenalan lebih jauh dengan bp. hianoto, untuk bertukar pengalaman dan informasi untuk hidup lebih baik.</p>
<p>Terima kasi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
