« - »

Pikiran Polos Tanpa Terkotak-kotak

Posted on 7 July 2006

Hari Minggu kemarin, saya mengantar Emmy (kembar fraternal Elly), kedua anaknya (Kayra dan Jo), Elly, serta Brian ke Gua Maria Kerep di Ambarawa. Karena ini merupakan kunjungan saya yang pertama ke sana, perjalanan sempat diwarnai dengan sedikit kebingungan mencari jalan masuk ke sana. Sesampai di sana, kami sempat makan nasi pecel lengkap dengan sayur kenikir, saren, telur puyuh, bakwan, dll. Rasanya cukup enak, saya terkesan dengan sarennya yang kenyal dan tidak amis. Kami juga pesan 15 tusuk sate sapi, namun sayangnya dagingnya kurang juicy dan rasanya kurang mantap. Huss, sebelum terlanjur berubah menjadi posting Ngiras, saya akan kembali ke pokok pembahasan semula.

Saya dan Brian berjalan cukup cepat, meninggalkan rombongan lainnya yang masih di kamar kecil; sehingga kami pun telah sampai di suatu pelataran luas dimana ada sekian banyak pengunjung sedang bersila dan berlutut, dengan khusuk berdoa. Karena rombongan masih belum tiba juga, saya dan Brian pun hanya berdiri saja. Tiba-tiba Brian menggamit tangan saya, dia mengajak saya untuk menyalakan lilin dan berdoa di antara kerumunan orang banyak tersebut. Saya pun menolak, “Jangan dulu, Papa ndak tahu caranya. Lebih baik tunggu A’yi Emmy saja”. Kata Brian, “Lho Pa, khan gampang banget tho.. tinggal nyalain lilin lalu berdoa. Ayo dong Pa!”.

Saya pun tercekat, diam-diam rasa malu pun muncul di hati. Selama ini saya menganggap diri sendiri sebagai seorang yang punya toleransi beragama yang cukup, ke vihara, kelenteng, dan mesjid pun saya tidak berpantang. Menghadiri acara perayaan keagamaan lain atau makan makanan setelah sembahyang pun saya Ok-ok saja (kalau ini sih karena rakus :-), hehehe). Namun nyatanya saya masih terkungkung dalam pikiran yang terkotak-kotak; bahkan di tempat ziarah Bunda Maria yang sebenarnya juga saya kenal dari kitab suci agama yang saya anut. Bukankah berdoa kepada Tuhan itu universal sifatnya?? Akhirnya saya pun mengikuti ritual menelusuri jalan salib, berhenti di setiap diorama perhentian untuk menyalakan lilin dan berdoa, bahkan ikut membasuh muka di sumber air yang ada di pelataran. Tidak lupa saya pun berjalan di Taman Doa, mulai dari Perjamuan Kana, Sungai Jordan, 5 roti 2 ikan, danau Galilea, dan makam Yesus.

Di sini saya belajar satu hal, betapa sederhana dan polosnya pikiran anak kecil. Mereka tidak mengenal pengkotak-kotakan theology di benak pikirannya. Bagi mereka, mau doa ya tinggal doa; mau di pelataran tempat ibadah agama lain ya tidak masalah. Bagi mereka, ibadah tidaklah perlu memusingkan segala macam ritual ini dan itu (yang sebenarnya dibuat oleh manusia sendiri, padahal pada hakekatnya manusia punya begitu banyak keterbatasan dan dosa yang melekat padanya). Dengan tulusnya mereka bisa saling mengucapkan selamat merayakan hari raya agama lain kepada temannya. Mereka bahkan bisa menirukan alunan doa ataupun lagu keagamaan lain yang sering mereka dengar dari TV, radio, dll. Bagi mereka itu hanyalah sekedar interaksi sosial dan bukan dalam konteks percaya atau tidak percaya dengan keyakinan agama lain. Sungguh sederhana bukan??

Popularity: 8% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


3 Responses to 'Pikiran Polos Tanpa Terkotak-kotak'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Pikiran Polos Tanpa Terkotak-kotak '.

  1. P Budi S W said,

    on March 27th, 2007 at 9:46 am

    Salam kenal…
    wah aku tertarik nih pembelajaran religi anda..kapan ke amb..mampir yo…nanti tak ajak makan pecel..cuman ajak doang lho..soale mahal..udah pernah? biasanya sih orang smg pada pernah nyoba..merknya tukinem,dibawah tugu jam turun..jadi sebelum per3 an pauline..

  2. hian said,

    on May 7th, 2007 at 8:49 am

    #1: Pak Budi SW, mohon maaf karena comment Anda terlewat sehingga belum terbalas.

    Jujur saya sangat jarang khusus pergi ke Ambarawa, kecuali untuk antar tamu dan sanak saudara. Masak sih pecel mahal?? Mahal itu khan karena tambah lauk-pauk yang beraneka ragam.

    Kalau pecel Tukinem di bawah tugu jam turun, saya belum pernah. Saat itu, kami makan nasi pecel di area sebelum masuk Gua Kerep. Kalau di Pauline, saya malah senang Kue Lekker yang bener2 ‘Lekkerrrrr’ 🙂

  3. P Budi SW said,

    on October 16th, 2007 at 9:25 pm

    he he..memang mahal.
    pecel’e tok wae mahal.
    lha memang + otak,empal,iso babat iku sing uenak,jadi makin mahal.
    konco2 cak smg akeh sing nyediain waktu hr minggu,abis dari kerep yo,bolongin dompet mangan pecel.

    kemaren,abis lebaran,pecel tukinem,diborong bos panin semarang buat pesta di susan spa..sekali borongan Rp 1.7 jt…maklum pak mentri ESDM turut hadir.

    ok,met kenal,kayak’e kok aku pernah liat anda ya dimana aku lupa,behubung aku sering ke smg,anakku sekolah di mm.

    kapan lewat mampir wae,yo.
    gampang kok,dr smg kiri jln,sesudah jembatan pasar,yang sangat macet,sebelum pertigaan turunan mbadungan,sebelum apotik.
    nice to meet you,bye.

Leave a reply