« - »

Investasi: Risiko dan Berisiko

Posted on 29 November 2006

Sungguh mengenaskan tatkala membaca berita di suratkabar tentang tertipunya sekian banyak nasabah atas ucapan manis sebuah perusahaan ataupun sekelompok oknum tertentu yang menjanjikan tingkat pengembalian investasi yang begitu tinggi (hingga 6-8%) di saat seperti ini. Begitu banyak orang telah menjaminkan sertifikat tanah, kendaraan bermotor, dan bahkan SK Pengangkatan demi memperoleh pinjaman uang dari bank atau lembaga keuangan lainnya; sehingga mereka bisa menginvestasikannya di sana dan berpikir akan memperoleh keuntungan dari selisih tingkat pengembalian investasi dengan suku bunga pinjaman.

Sebenarnya ini bukan kali pertama terjadi, sudah ada begitu banyak contoh kejadian dengan modus serupa di negeri ini. Namun pertanyaannya, mengapa masih saja ada banyak anggota masyarakat yang jatuh ke janji palsu para penipu itu?? Ternyata tawaran keuntungan besar tanpa kerja keras tetap sangat menarik bagi kebanyakan orang, sehingga akal sehat mereka pun dibutakan. Seharusnya mereka bisa berpikir bahwa dengan janji tingkat pengembalian investasi yang begitu tinggi, si peminjam bisa saja memohon pinjaman kepada bank atau lembaga keuangan lainnya. Kenapa si peminjam malah “membagi-bagikan” uang dengan royal kepada orang lain??

Lalu, apakah artinya kita tidak boleh tertarik akan tawaran seseorang untuk berinvestasi dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari suku bunga pada umumnya?? Di sini, kita harus belajar tentang risiko dan berisiko.

Tiap investasi pasti memiliki tingkat risiko tersendiri. Semakin tinggi tingkat pengembaliannya, semakin tinggi pula tingkat risikonya. High risk, high gain. Karenanya, tatkala mendapatkan tawaran berinvestasi dengan tingkat pengembalian yang tinggi, kita harus sadar sepenuhnya bahwa risiko wanprestasi atas tingkat pengembalian tersebut, atau bahkan kehilangan modal yang diinvestasikan tadi, bakal cukup tinggi pula.

Bilamana kita sadar akan hal tersebut dan siap menanggung risikonya, maka kita harus mempertimbangkan aspek kedua, yaitu apakah investasi ini berisiko bagi kita atau tidak. Apabila saat ini kita memiliki uang sebesar Rp 100 juta dan berniat menginvestasikan Rp 5 juta, maka hal ini tidaklah berisiko karena kita masih memiliki uang Rp 95 juta dan kehidupan finansial kita tidak banyak terpengaruh atas terjadinya risiko terbesar atas investasi tersebut (yaitu hilangnya modal investasi itu). Lain halnya bila saat ini apa yang diinvestasikan kita peroleh dari hasil menjual tanah, mobil, dan motor yang dimiliki, serta meminjam kepada bank atau lembaga keuangan lain. Saat mengalami risiko terbesar, kita akan jatuh miskin, tidak memiliki aset berharga, dan malah dibebani hutang yang harus dicicil setiap bulan selama sekian tahun ke depan.

Yang terakhir, kita juga harus memikirkan apakah investasi ini bersifat konstruktif, bermanfaat bagi orang banyak, tidak merugikan orang lain, dan tidak bertentangan dengan agama, hukum, serta etika bisnis. Apalah artinya memiliki sebuah investasi dengan tingkat pengembalian yang sangat tinggi, namun sebagai rentenir, bandar judi, dll.

Telitilah peluang investasi dengan akal sehat, mintalah pendapat orang lain yang berkompeten di bidang ini, dan jangan lupa, investasikan waktu dan sumber daya Anda sebelum mulai berinvestasi yang sesungguhnya.

Popularity: 10% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply