« - »

Seminar The XO Way – Herry Tjahjono

Posted on 12 July 2007

Hari Sabtu lalu adalah hari yang istimewa buat saya. Tidak, bukan lantaran hari tersebut bertanggal 07-07-2007 (sehingga banyak pasangan yang memilih untuk menikah pada hari itu), namun karena saya mengikuti seminar sehari berjudul “The XO Way” dengan pembicara Pak Herry Tjahjono, seorang Corporate HR Director, penulis buku best-seller “The XO Way”, dan juga Corporate Culture Therapist.

Karena saya belum mendaftar dan melakukan pembayaran, maka sengaja saya datang lebih awal yaitu jam 8:15. Setelah membayar, saya pun memasuki tempat seminar, wuiihhh sepi sekali.. Peserta yang telah hadir dapat dihitung dengan jari. Saya pikir mungkin peserta akan datang menjelang dimulainya acara (dijadwalkan jam 9:00); namun ternyata saya salah. Peserta baru mulai berdatangan mulai jam 9:10 hingga jam 9:20 dan alhasil seminarpun dimulai jam 9:30.

Pertama kali, Pak Herry Tjahjono menjelaskan tentang ketiga Giant yang dibahas di dalam The XO Way dan hubungannya dengan Konsekuensi Logis (huss, hubungannya bukan “baik-baik saja” lho, hehehe :-D).

Mengawali penjelasan tentang Giant Goal, beliau menyatakan bahwa gejala salah kaprah kehidupan yang sungguh memprihatinkan telah merebak di mana-mana, dimana kebanyakan orang telah memutarbalikkan hukum alam antara “hidup sejati” dengan “konsekuensi logis”. Hidup sejati adalah inti/hakekat dan sifatnya datang terlebih dahulu (comes first), sedangkan konsekuensi logis adalah perifer/kulit dan datang kemudian (comes later). Sebagai manusia sejati, kita seharusnya mengejar hidup sejati terlebih dahulu, dan konsekuensi logis akan datang dengan sendirinya.

Pak Herry menyajikan beberapa contoh sederhana nan gamblang. Sebagai seorang pelajar, hidup sejatinya adalah menjadi pelajar sejati (cerdas, kepribadian dan watak yang baik, dll). Bila telah menjadi pelajar sejati, maka konsekuensi logis akan datang dengan sendirinya, seperti nilai dan peringkat yang baik. Namun kenyataannya, banyak orangtua justru mendorong anak untuk mengejar nilai dan peringkat terlebih dahulu; alhasil sang anak akan menjalani dan melakukan berbagai penyimpangan demi nilai dan peringkat tersebut. Contoh yang sama juga diberikan untuk atlet olahraga, yang alih-alih mengejar pencapaian atlet sejati, malah justru mengutamakan hadiah dan uang; untuk politikus, yang alih-alih mengejar pencapaian politikus sejati, malah justru mengutamakan kekuasaan. Juga perihal pelatihan, seminar, dan buku tentang bagaimana mendapat kekayaan dan kesuksesan dengan cepat dan instan menjadi laris luar biasa. Ini jelas-jelas menandakan banyak orang mengejar konsekuensi logis ketimbang hidup sejati.

Pak Herry meminta para peserta untuk menyusun goal dalam hidup, dengan konsekuensi logisnya. Lalu kita memilih BHAG (Big Hairy Audacious Goal – istilah dari Jack Welch untuk suatu goal dahsyat yang membuat bulu kuduk berdiri).

Kita juga diajak mencari “The Best in Me” dengan Teknik Landak, yang dilandasi pemikiran dari Archilocus yang berbunyi “The fox knows many things, but the hedgehog knows one big thing“. Musang sangatlah suka menyantap landak. Walaupun musang sangatlah cerdik dan mengetahui banyak hal, namun kebanyakan serangan musang kepada landak gagal karena landak hanya tahu satu hal BESAR. Saat landak diserang, dia akan menggulungkan diri dan menegakkan seluruh duri di tubuh menjadi alat pertahanan diri yang luar biasa.

Dengan bantuan Teknik Landak, kita mengetahui:
* Dalam hal apa kita bisa menjadi yang terbaik
* Gairah (passion) terhadap yang terbaik itu
* Yakin bahwa yang terbaik itu mampu memberikan hasil/manfaat terbesar

Kami juga membuat daftar kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan berusaha mencari kelebihan mana (very shortlisted) yang akan bisa membawa kita menjadi TERBAIK di bidang yang kita inginkan. Lalu mulailah kita menyusun visi untuk kurun waktu 10 tahun mendatang, dengan beberapa indikator pencapaian yang lebih mendetail.

Dalam penjelasan Giant Hope ini, Pak Herry juga menerangkan metode Doolitle (3P = Positive, Progressive, dan Persistent) dan Baby’s Peak (saya condong mengartikannya sebagai anchoring/metode jangkar dalam NLP).

Lalu dalam penjelasan Giant Paradigm, beliau menggagas tentang metode Tabularasa. Di sini terlihat betapa pentingnya konsep berpikir di luar kotak (thinking outside the box) yang sangat membantu kita melakukan pencapaian luar biasa melebihi batasan kemampuan yang sebenarnya kita tentukan sendiri.

Sayangnya beberapa teknik tidak bisa diajarkan dan dicoba langsung saat seminar mengingat waktu yang terbatas. Jujur saya pribadi sangat menyayangkan kejadian ini karena:

Yang menarik, Pak Herry ini terlihat sangat antusias dengan buku The Secret-nya Rhonda Byrne dan berulangkali menyebutnya di depan peserta seminar. Lebih menarik lagi, ternyata beliau malah belum menonton filmnya! Di akhir acara, saya berkesempatan berdiskusi singkat dengan beliau mengenai hal ini, termasuk beberapa karya yang terkait yaitu “The Attractor Factor“-nya Joe Vitale dan “Ask and It Is Given“-nya Ester Hicks dan Jerry Hicks.

Hian and Herry Tjahjono

Walaupun ada ketidakpuasan atas penyelenggaraan seminar seperti yang saya ungkapkan di atas, namun ternyata pilihan saya untuk datang ke seminar ini adalah tepat adanya (walaupun sebenarnya saya sempat menghadapi sebuah dilema untuk memilih karena keluarga istri sedang ada gawe atas pernikahan adik ipar saya). Dari seminar The XO Way ini, saya belajar banyak tentang konsekuensi logis, Goal-Hope-Paradigm, dll.

Be Extra-Ordinary!!

Popularity: 18% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


2 Responses to 'Seminar The XO Way – Herry Tjahjono'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Seminar The XO Way – Herry Tjahjono '.

  1. Stef said,

    on April 11th, 2008 at 8:43 am

    Bung Hian

    Salam kenal, saya juga wong semarang ni
    kebetulan saya mau tulis resensi buku Pak Herry tsb, minta ijin kalau boleh resensi Anda saya kutip tentu dengan menyebut sumbernya weblog ini, dimuat di majalah komunitas manajer yang saya kelola namanya Managers’ Scope terbit di Jakarta. Terbit 1 bulan sekali dan dibagikan free.

    Mohon responnya, thanks
    Stef

  2. hian said,

    on April 11th, 2008 at 12:04 pm

    @Stef: Bung Stef, salam kenal juga..

    Tentu saja Anda bisa mengutip tulisan saya di blog ini dengan menyebutkan sumbernya. BTW, tapi tulisan saya ini kayaknya bukan merupakan resensi buku “The XO Way” lho, lebih ke pembahasan beliau saat memberikan seminar dengan judul yang sama.

    Sukses untuk Anda!

Leave a reply