« - »

Sekolah Orangtua di Semarang (2)

Posted on 8 November 2007

Tibalah hari yang sudah saya tunggu-tunggu. Hari ini adalah untuk pertama kalinya diselenggarakan seminar Sekolah Orangtua di Semarang. Tentu saja saya akan mengawalinya dengan yang enak-enak dulu :-). Pagi-pagi, saya telah tiba di hotel Horison untuk makan pagi bersama Pak Ariesandi, Pak Sukarto, dan Bu Ely Susanti. Ternyata memang benar kata beberapa teman, makan pagi di hotel Horison memang beda. Saya segera mengambil nasi goreng kari, bihun goreng, kakap goreng, daging sapi asap, omelet keju dan jamur. Dengan baik hati, Pak Sukarto membawa empat porsi dimsum untuk dinikmati bersama-sama. Dibandingkan masakan hotel pada umumnya, memang makan pagi di hotel Horison cukup enak.

Mengingat waktu yang sudah mepet, kami segera bergegas menuju ke tempat lain untuk meeting dan diskusi.

Usai pertemuan tadi, kami kembali ke hotel untuk mempersiapkan seminar. Ada hal menarik yang saya cermati di sini. Pak Ariesandi memeriksa sound system dengan detail. Tak segan-segan dia menggotong speaker besar yang berat itu untuk mencari posisi speaker yang paling cocok untuk ruangan dan tata letak kursi para peserta. Beberapa kali beliau merubah setting di mixer, dengan tujuan yang sama. Setelah puas dengan persiapan sound system dan LCD projector, Pak Ariesandi balik ke kamar bersama Pak Sukarto untuk melakukan sedikit penambahan materi di slide Powerpoint.

Tak terasa sudah jam 1 siang.. Mulai ada beberapa orang yang berdatangan, mendaftarkan diri ulang di meja registrasi. Saya pun sempat berbincang-bincang dengan beberapa peserta yang kebetulan saya kenal. Akhirnya sekitar jam 1.20, seminarpun dimulai.

Dengan gayanya yang khas, Pak Ariesandi menjelaskan materi seminar dengan bahasa yang mudah dimengerti, bahkan dengan peragaan kalau perlu. Ada seorang peserta diminta maju ke depan dan duduk di kursi. Dengan teknik misleading yang handal, Pak Ariesandi membuat seolah-olah tisu yang berada di genggaman tangannya menghilang. Usai demo ini, Pak Ariesandi pun menerangkan bahwa orang yang berada sangat dekat dengan beliau malah seringkali tidak mengetahui bagaimana hal ini bisa terjadi (tisu menghilang), karena mereka punya ruang lingkup pandang yang terbatas.

Seminar berlangsung sangat menarik dan cukup interaktif. Ada beberapa peserta yang melontarkan beberapa permasalahan yang mereka hadapi, dan Pak Ariesandi pun menjawab dengan tangkas. Akhirnya seminar pun berakhir pada pukul 5.30 sore. Para peserta yang sebagian besar adalah orangtua dan pendidik pun pulang membawa PR untuk direnungkan malam itu, demi pendidikan dan pengasuhan anak mereka menuju sukses dan bahagia.

Usai seminar, kami pun sempat melakukan Wisata Kuliner ke berbagai tempat. Malam itu, kami mencicipi sedikitnya 3 macam makanan khas Semarang. Sebenarnya masih ada target makanan lain, namun sayangnya kapasitas perut sudah tidak memungkinkan lagi.

Setelah Wisata Kuliner, kami balik ke hotel untuk melakukan diskusi dan review tentang penyelenggaraan seminar tadi, berbagai program dan rencana pengembangan Sekolah Orangtua baik secara nasional maupun di Jawa Tengah. Jadi nantikan terus update tentang Sekolah Orangtua di situs saya.

Popularity: 23% [?]

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!


Leave a reply