<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hianoto's Weblogs &#187; Keuangan</title>
	<atom:link href="http://weblogs.hianoto.net/category/keuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://weblogs.hianoto.net</link>
	<description>Internet Marketing &#124; Parenting &#124; Food &#38; Travelling &#124; Personal Development</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Nov 2009 08:04:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Investasi: Risiko dan Berisiko</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/11/investasi-risiko-dan-berisiko/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/11/investasi-risiko-dan-berisiko/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2006 16:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/11/investasi-risiko-dan-berisiko/</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh mengenaskan tatkala membaca berita di suratkabar tentang tertipunya sekian banyak nasabah atas ucapan manis sebuah perusahaan ataupun sekelompok oknum tertentu yang menjanjikan tingkat pengembalian investasi yang begitu tinggi (hingga 6-8%) di saat seperti ini. Begitu banyak orang telah menjaminkan sertifikat tanah, kendaraan bermotor, dan bahkan SK Pengangkatan demi memperoleh pinjaman uang dari bank atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh mengenaskan tatkala membaca berita di suratkabar tentang tertipunya sekian banyak nasabah atas ucapan manis sebuah perusahaan ataupun sekelompok oknum tertentu yang menjanjikan tingkat pengembalian investasi yang begitu tinggi (hingga 6-8%) di saat seperti ini. Begitu banyak orang telah menjaminkan sertifikat tanah, kendaraan bermotor, dan bahkan SK Pengangkatan demi memperoleh pinjaman uang dari bank atau lembaga keuangan lainnya; sehingga mereka bisa menginvestasikannya di sana dan berpikir akan memperoleh keuntungan dari selisih tingkat pengembalian investasi dengan suku bunga pinjaman.</p>
<p>Sebenarnya ini bukan kali pertama terjadi, sudah ada begitu banyak contoh kejadian dengan modus serupa di negeri ini. Namun pertanyaannya, mengapa masih saja ada banyak anggota masyarakat yang jatuh ke janji palsu para penipu itu?? Ternyata tawaran keuntungan besar tanpa kerja keras tetap sangat menarik bagi kebanyakan orang, sehingga akal sehat mereka pun dibutakan. Seharusnya mereka bisa berpikir bahwa dengan janji tingkat pengembalian investasi yang begitu tinggi, si peminjam bisa saja memohon pinjaman kepada bank atau lembaga keuangan lainnya. Kenapa si peminjam malah &#8220;membagi-bagikan&#8221; uang dengan royal kepada orang lain??</p>
<p>Lalu, apakah artinya kita tidak boleh tertarik akan tawaran seseorang untuk berinvestasi dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari suku bunga pada umumnya?? Di sini, kita harus belajar tentang risiko dan berisiko.</p>
<p>Tiap investasi pasti memiliki tingkat risiko tersendiri. Semakin tinggi tingkat pengembaliannya, semakin tinggi pula tingkat risikonya. <i>High risk, high gain</i>. Karenanya, tatkala  mendapatkan tawaran berinvestasi dengan tingkat pengembalian yang tinggi, kita harus sadar sepenuhnya bahwa risiko wanprestasi atas tingkat pengembalian tersebut, atau bahkan kehilangan modal yang diinvestasikan tadi, bakal cukup tinggi pula.</p>
<p>Bilamana kita sadar akan hal tersebut dan siap menanggung risikonya, maka kita harus mempertimbangkan aspek kedua, yaitu apakah investasi ini berisiko bagi kita atau tidak. Apabila saat ini kita memiliki uang sebesar Rp 100 juta dan berniat menginvestasikan Rp 5 juta, maka hal ini tidaklah berisiko karena kita masih memiliki uang Rp 95 juta dan kehidupan finansial kita tidak banyak terpengaruh atas terjadinya risiko terbesar atas investasi tersebut (yaitu hilangnya modal investasi itu). Lain halnya bila saat ini apa yang diinvestasikan kita peroleh dari hasil menjual tanah, mobil, dan motor yang dimiliki, serta meminjam kepada bank atau lembaga keuangan lain. Saat mengalami risiko terbesar, kita akan jatuh miskin, tidak memiliki aset berharga, dan malah dibebani hutang yang harus dicicil setiap bulan selama sekian tahun ke depan.</p>
<p>Yang terakhir, kita juga harus memikirkan apakah investasi ini bersifat konstruktif, bermanfaat bagi orang banyak, tidak merugikan orang lain, dan tidak bertentangan dengan agama, hukum, serta etika bisnis. Apalah artinya memiliki sebuah investasi dengan tingkat pengembalian yang sangat tinggi, namun sebagai rentenir, bandar judi, dll.</p>
<p>Telitilah peluang investasi dengan akal sehat, mintalah pendapat orang lain yang berkompeten di bidang ini, dan jangan lupa, investasikan waktu dan sumber daya Anda sebelum mulai berinvestasi yang sesungguhnya.</p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=331&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_331" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=331&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/11/investasi-risiko-dan-berisiko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Pengelolaan Keuangan</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/09/puasa-dan-pengelolaan-keuangan/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/09/puasa-dan-pengelolaan-keuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Sep 2006 08:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/09/puasa-dan-pengelolaan-keuangan/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak seperti biasanya, saat saya berjalan pagi keliling perumahan pada hari Minggu kemarin, suasana terlihat begitu ramai. Begitu banyak orang, tua dan muda, berjalan kaki santai ataupun naik sepeda motor. Sempat bingung sesaat, namun saya teringat sesuatu. Ya, kemarin adalah hari pertama menunaikan ibadah puasa bagi para saudara kita. Karenanya saya tergerak untuk menulis tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak seperti biasanya, saat saya berjalan pagi keliling perumahan pada hari Minggu kemarin, suasana terlihat begitu ramai. Begitu banyak orang, tua dan muda, berjalan kaki santai ataupun naik sepeda motor. Sempat bingung sesaat, namun saya teringat sesuatu. Ya, kemarin adalah hari pertama menunaikan ibadah puasa bagi para saudara kita. Karenanya saya tergerak untuk menulis tentang pengelolaan keuangan yang berkaitan dengan hal berpuasa.</p>
<p>Ada sekian banyak orang yang melewatkan waktunya dalam menunggu bedug tanda berbuka puasa dengan &#8220;nongkrong&#8221; di mal. &#8220;Adem dan menyenangkan, sehingga tidak terasa sudah waktunya berbuka&#8221;, demikian kata mereka. Betul, suasana di mal yang sejuk dengan sekian banyak toko dan <i>outlet</i> yang memamerkan berbagai produk yang menarik hati, khususnya pakaian dan aksesoris yang sangat pas dikenakan saat Lebaran nanti, tentunya sangatlah menyenangkan. Bagaimana tidak?? Yang ini didiskon 50%, yang itu sedang di-<i>SALE</i>. &#8220;Masakan kita merayakan Lebaran tanpa baju baru??&#8221;, demikian ucap hati sebagai pembenaran dan pembelaan diri. Di sini kita harus ekstra hati-hati, godaan membeli sesuatu yang sebetulnya tidak benar-benar diperlukan sangatlah tinggi. Ingatlah selalu akan prinsip &#8220;<a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/05/butuh-vs-ingin/">membeli karena butuh, bukan karena keinginan semata</a>&#8220;.</p>
<p>Karena ingin membunuh waktu, banyak orang yang memilih nongkrong sambil bermain <i>game</i> yang sangat seru di pusat hiburan yang banyak kita dapati di mal. Ya, memang sangat menyenangkan. Namun hal ini juga sangat boros karena bermain <i>game</i> bukanlah suatu kebutuhan, bukan??</p>
<p>Menjelang waktu berbuka, banyak pula yang sudah bersiap sedia di Pujasera (<i>Food Court</i>), memesan sekian banyak menu berbuka puasa sesuai selera, disiapkan berjajar di atas meja. Seringkali yang dipesan terlalu berlebihan dari yang bisa ditampung di perut; akibatnya banyak yang tersisa. Bukankah ini suatu pemborosan yang tidak pada tempatnya??</p>
<p>Ibu-ibu juga jadi terdorong untuk menambah menu berbuka puasa. &#8220;Ah, khan cuman sekali dalam setahun. Lagian kasihan dong berbuka puasa hanya dengan dua-tiga macam menu, tanpa aneka kolak dan bubur lagi&#8221;, pikir mereka. Padahal, memasuki bulan puasa, harga bahan makanan secara umum meningkat, hingga mencapai puncaknya menjelang hari Lebaran. Otomatis, biaya yang harus mereka keluarkan untuk keperluan dapur bakal meningkat drastis. Mereka lupa bahwa puasa adalah sebuah ibadah, suatu media untuk mengontrol diri dan mengalahkan hawa nafsu. Padahal sebenarnya jumlah makanan yang diperlukan saat berpuasa adalah sama saja dengan hari biasa, hanya saja disantap pada waktu yang berbeda.</p>
<p>Marilah menunaikan ibadah puasa dengan senantiasa mengendalikan diri (dan keuangan tentunya <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> ). Adalah jauh lebih penting menyisihkan uang untuk zakat dan sedekah bagi kaum dhuafa, ketimbang memesan makanan yang berlebihan dan membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan. Kalahkan diri sendiri dan kontrol hawa nafsu.</p>
<p>Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1427H.</p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=319&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_319" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=319&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/09/puasa-dan-pengelolaan-keuangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meminimalkan Risiko</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/09/meminimalkan-risiko/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/09/meminimalkan-risiko/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Sep 2006 02:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/09/meminimalkan-risiko/</guid>
		<description><![CDATA[Saat melakukan pengelolaan keuangan, hal untuk meminimalkan risiko sangatlah penting. Bayangkan sesuatu hal buruk terjadi disaat kita telah sadar arti pentingnya pengelolaan keuangan dan telah mendisiplinkan diri untuk menabung dengan konsep Pay Yourself First, membeli barang berdasarkan kebutuhan saja, melakukan penghematan, dll. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjamin bahwa kita akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat melakukan pengelolaan keuangan, hal untuk meminimalkan risiko sangatlah penting. Bayangkan sesuatu hal buruk terjadi disaat kita telah sadar arti pentingnya pengelolaan keuangan dan telah mendisiplinkan diri untuk <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/02/tabungan-vs-rekening-transaksi/">menabung</a> dengan konsep <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/02/pay-yourself-first/">Pay Yourself First</a>, membeli barang berdasarkan <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/05/butuh-vs-ingin/">kebutuhan</a> saja, melakukan <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/06/hemat-vs-pelit/">penghematan</a>, dll. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menjamin bahwa kita akan terluput dari risiko-risiko kematian, sakit, kebakaran, pencurian, perampokan, dsb. Setidaknya dengan meminimalkan risiko (sebenarnya mungkin lebih tepat dibilang memindahkan risiko ke pihak lain), maka kita dapat mengelola keuangan dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Secara umum, risiko dapat diminimalkan dengan menggunakan jasa pihak ke tiga berupa polis asuransi. Di masa lalu, banyak orang merasa enggan untuk mengikuti asuransi, terutama asuransi jiwa. Untunglah saat ini, pandangan keliru tersebut sudah berubah; banyak dari mereka yang sudah menyadari bahwa asuransi adalah penting bagi mereka sendiri.</p>
<p>Upayakan kita telah meminimalkan risiko dengan mengambil <b>asuransi jiwa</b> (bagi yang menanggung keuangan keluarga), <b>asuransi kendaraan bermotor</b> (terutama bila mobilitas kendaraan bermotor cukup tinggi dan/atau risiko hilang/rusaknya kendaraan bermotor tinggi), dan <b>asuransi properti</b> (terutama bila risiko kebakaran/kecurian cukup tinggi).</p>
<p>Banyak orang dibingungkan dengan pertanyaan &#8220;Berapa besar nilai pertanggungan yang akan di-<i>cover</i> oleh asuransi jiwa kita??&#8221;. Sesungguhnya hal ini sangat subjektif dan tidak ada jawaban yang 100% benar. Ada sebuah patokan umum yang menyatakan bahwa sedikitnya nilai pertanggungan adalah 6x pendapatan tahunan. Ada lagi patokan umum lain yang menyatakan untuk seseorang yang masih <i>single</i> cukup 6-7x pendapatan setahun, dan untuk yang sudah berkeluarga minimal 10x pendapatan setahun. Dalam memutuskan nilai pertanggungan, pertimbangkanlah kewajiban lain yang harus diselesaikan (baik seluruhnya maupun sebagian) tatkala kita meninggal dunia; misalnya cicilan rumah, kendaraan bermotor, hutang lain, kebutuhan pendidikan bagi anak-anak, dll. Bila dana terbatas, Anda bisa memulai dari nilai pertanggungan yang paling memungkinkan untuk saat itu. Suatu saat tatkala kondisi keuangan membaik, Anda bisa membeli polis asuransi jiwa lagi; namun ingat, tingkat premi akan semakin mahal seiring dengan pertambahan usia kita.</p>
<p>Untuk asuransi kerugian seperti mobil dan rumah, Anda tidak bisa menentukan nilai pertanggungan dengan semaunya. Jangan sampai menggunakan nilai pertanggungan dibawah nilai harta benda yang sebenarnya (<i>Under Insured</i>) karena akan merugikan kita sendiri saat mengajukan klaim. Untuk mengantisipasi pengaruh inflasi, Anda bisa menaikkan sekitar 2-5% dari nilai pasar. Namun demikian nilai pertanggungan juga jangan jauh melebihi nilai harta benda yang sebenarnya (<i>Over Insured</i>) karena pihak asuransi akan mengganti sesuai harga pasar yang sebenarnya saat terjadi kerugian total (<i>total loss</i>).</p>
<p>Pelajarilah konsep asuransi dengan seksama. Mintalah agen asuransi menjelaskan dengan detil tentang ketentuan asuransi agar Anda tidak kecewa di kemudian hari. Berhati-hatilah dengan penjelasan agen asuransi dan prospektus asuransi; catat dan simpanlah semua penjelasan agen asuransi; bacalah prospektus asuransi dengan teliti. Pelajari kondisi perusahaan asuransi tersebut, carilah informasi pengalaman pengajuan klaim dari para nasabahnya. </p>
<p>Beli karena produk dan perusahaannya. Jangan pernah membeli asuransi karena rasa kasihan dan sungkan terhadap agen asuransi yang kebetulan teman Anda. Ingat, teman Anda belum tentu bekerja selamanya di perusahaan asuransi tersebut; namun Anda &#8216;terikat&#8217; dengan polis asuransi (jiwa) bahkan hingga Anda telah meninggal sekalipun (untuk mengurus pengajuan klaim).</p>
<p>Telitilah sebelum membeli. Selamat meminimalkan risiko dengan asuransi!</p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=268&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_268" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=268&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/09/meminimalkan-risiko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Action dan Spekulasi</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/action-dan-spekulasi/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/action-dan-spekulasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jun 2006 02:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/action-dan-spekulasi/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Mei lalu saya mendapatkan telpon dari Bank Mandiri Jakarta, yang pada intinya memberitahukan bahwa permohonan kartu kredit saya tidak bermasalah, namun proses Transfer Balance ke rekening kartu kredit saya di bank lain mengalami kegagalan. Padahal terus terang saya membutuhkan proses Transfer Balance ini semata-mata agar saya dapat diikutsertakan dalam program Bebas Iuran Tahunan Seumur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Mei lalu saya mendapatkan telpon dari <a href="http://http://www.bankmandiri.co.id/" target="_blank">Bank Mandiri</a> Jakarta, yang pada intinya memberitahukan bahwa permohonan kartu kredit saya tidak bermasalah, namun proses <i>Transfer Balance</i> ke rekening kartu kredit saya di bank lain mengalami kegagalan. Padahal terus terang saya membutuhkan proses <i>Transfer Balance</i> ini semata-mata agar saya dapat diikutsertakan dalam program Bebas Iuran Tahunan Seumur Hidup!! Tentu saja saya minta beliau untuk membatalkan saja proses aplikasi kartu kredit yang <i>regular</i> dengan kewajiban membayar biaya iuran (walaupun terlihat murah karena dibebankan tiap bulan &lt;g&gt;).</p>
<p>Dari peristiwa ini saya belajar dua hal penting, yaitu <strong>ACTION</strong> dan <strong>SPEKULASI</strong>. Koq bisa?? Simak penjelasan berikut&#8230;</p>
<p>Promo <i>Transfer Balance</i> sebenarnya telah cukup lama saya ketahui sebelumnya, baik melalui iklan di surat kabar terkemuka maupun pemberitahuan kakak saya yang memang piawai mengamati hal-hal semacam ini. Saat itu saya berpikir bahwa tidaklah perlu menambah kartu kredit lagi, toh sudah punya beberapa; sehingga akhirnya saya tunda dan tunda terus. Lagian ada pemikiran saya yang salah tentang <i>Transfer Balance</i>, dimana saya pikir kartu kredit yang lain akan ditutup dan kita harus menggunakan kartu kredit yang baru. Akhirnya awal April lalu, saya mendapatkan informasi yang benar tentang <i>Transfer Balance</i> sehingga saya pun tertarik untuk mengajukan aplikasi. Tapi ya itu tadi, tidak ada tindakan apapun (entah karena kesibukan kantor, entah karena malas melengkapi persyaratan, dll <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> ), sehingga akhirnya saya baru mengajukan form aplikasi pada akhir bulan April dimana tenggat waktu promo sudah hampir berakhir.</p>
<p><strong>NO ACTION = NO RESULT</strong></p>
<p>Andai saya melakukan tindakan jauh-jauh hari, tentu hasilnya akan jauh berbeda. Saya akan bisa diikutsertakan dalam promo tersebut, dan saya bisa menghemat sekian juta rupiah untuk biaya keanggotaan kartu kredit seumur hidup. Bila sebelumnya kita telah melakukan komitmen untuk melakukan tindakan perbaikan untuk perencanaan keuangan pribadi dan keluarga, misalnya dengan <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/02/pencatatan-transaksi-keuangan/">mencatat semua transaksi keuangan</a> maupun melaksanakan konsep <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/02/pay-yourself-first/">pay yourself first</a>; tapi bila tidak ada tindakan, maka kita tidak akan mendapat apa-apa.</p>
<p>Pelajaran kedua yang saya dapat adalah kurangnya nyali untuk melakukan spekulasi. Sebenarnya saya diberitahu staff Bank Mandiri bahwa aplikasi saya untuk kartu kredit dan <i>Transfer Balance</i> sangat besar kemungkinan untuk diterima; namun saya disarankan untuk membayar tagihan kartu kredit di bank lain sebagian saja dan menyisakan tagihan minimal Rp 3 juta di sana. Masalahnya, saya pernah mengalami keterlambatan membayar tagihan kartu kredit karena waktu itu <a href="http://weblogs.hianoto.net/2005/10/singapore-day-1-6-oct-2005/">kami sekeluarga sedang berlibur ke Singapura</a> selama 5 hari dan lupa memindahkan dana dari bank lain ke rekening tersebut sehingga dana yang ada tidaklah cukup untuk di-<i>AutoDebet</i> demi pembayaran tagihan. Saking tingginya denda yang harus kami bayar, saya sampai mewanti-wanti Elly agar jangan sampai terjadi lagi keterlambatan membayar tagihan kartu kredit. Seumur hidup ini cukup satu kali saja mengalaminya. Belajar dari pengalaman itu, saya enggan untuk menyisakan tagihan kartu kredit (apalagi sebesar Rp 3 juta).</p>
<p>Di sini saya tahu bahwa ternyata saya bukanlah jenis orang yang suka berspekulasi. Padahal untuk bisa mencapai sesuatu yang baik, butuh usaha, spekulasi, dan biaya (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/TANSTAAFL" target="_blank"><i>there ain&#8217;t no such thing as a free lunch</i></a>). Sejujurnya, setelah dipikirkan dari sudut pandang yang berbeda, sebenarnya denda keterlambatan tagihan Rp 3 juta masih terhitung sangat murah untuk pembayaran iuran 2 buah kartu kredit <i>Gold</i> seumur hidup. Saya belajar satu hal lagi:</p>
<p><b>Spekulasi itu boleh dilakukan bilamana peluang keberhasilannya cukup besar, biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang diterima dapat dihitung dengan pasti, dan hasil akhirnya cukup menguntungkan</b>.</p>
<p>Kapan ya ada program Bebas Iuran Tahunan Seumur Hidup kayak gini lagi <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=259&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_259" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=259&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/action-dan-spekulasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piala Dunia</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/piala-dunia/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/piala-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jun 2006 07:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/piala-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[Genderang Piala Dunia 2006 telah ditabuhkan. Dengan itu, dimulai pulalah kegiatan menonton bola hingga larut malam, mendiskusikan aksi jawara sepakbola di lapangan, dan seabreg kegiatan lain yang berhubungan dengan sepakbola. Ada dua hal yang ingin saya utarakan berkaitan dengan Piala Dunia 2006 dan pengelolaan keuangan, yaitu menonton bareng di kafe/hotel dan taruhan.
Banyak orang suka nonton [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Genderang <a href="http://fifaworldcup.yahoo.com/" target="_blank">Piala Dunia 2006</a> telah ditabuhkan. Dengan itu, dimulai pulalah kegiatan menonton bola hingga larut malam, mendiskusikan aksi jawara sepakbola di lapangan, dan seabreg kegiatan lain yang berhubungan dengan sepakbola. Ada dua hal yang ingin saya utarakan berkaitan dengan Piala Dunia 2006 dan pengelolaan keuangan, yaitu menonton bareng di kafe/hotel dan taruhan.</p>
<p>Banyak orang suka nonton bola beramai-ramai dengan para penggemar bola lainnya. Kata mereka, sungguh mengasyikkan; bisa bersorak bareng saat terjadi gol, bisa ber-huuuuu ria bila ada tim yang bermain buruk, dll. Nonton bola di kafe/hotel mulai menjadi suatu kebutuhan bagi pecandu bola; sayangnya kegiatan ini membutuhkan dana tambahan yang tidak sedikit pula, mulai dari <i>cover charge</i>, minuman, makanan kecil, dll. &#8220;<i>Ah, Piala Dunia khan cuman diadakan empat tahun sekali, masak sih cuman nonton TV di rumah?? Mana seru?!</i>&#8220;, demikian ujar teman saya yang hobi bola. Walaupun bukan seorang penggemar bola, saya bisa memahami betapa menggebu-gebunya keinginan para pecandu bola nonton bola bareng di kafe/hotel.</p>
<p>Sebenarnya, ada beberapa cara untuk tetap bisa mensiasati keinginan nonton bola bareng tanpa banyak mengganggu keuangan pribadi. Pertama, kita perlu mengetahui perkiraan biaya untuk nonton bola bareng di kafe/hotel; lalu kita atur/sepakati frekuensi maksimal nonton bola di kafe sehingga kita mendapatkan angka anggaran dana yang dibutuhkan. Toh tidak setiap pertandingan harus ditonton di kafe/hotel, bukan?? Pilih saja beberapa pertandingan yang Anda favoritkan atau yang Anda rasa penting saja. Setelah itu, kita bisa melakukan penghematan di sana-sini untuk mendapatkan dana tersebut, misalnya mengurangi jumlah rokok yang dihisap setiap harinya, memilih makan siang/malam yang lebih murah tanpa mengesampingkan faktor gizi dan kebersihan, dll. Andaikata hasil penghematan tersebut masih belum mencapai anggaran, maka kita perlu mencoret pertandingan yang paling tidak digemari dari daftar pertandingan favorit/penting tadi. Toh Anda masih bisa menontonnya via TV, bukan??</p>
<p>Paling seru adalah tatkala menonton pertandingan favorit dan kita memasang taruhan atas tim yang dijagokan. Di sini saya tidak berniat mengulas masalah taruhan dari sudut pandang agama ataupun hukum kenegaraan; melainkan dari segi keuangan. Sangat jarang ada orang yang kaya karena taruhan (terkecuali bandar), dan andaikata ada sekalipun, biasanya uang hasil kemenangan tersebut akan habis begitu saja tanpa ada hasil kekayaan yang bisa disimpan dengan baik. Selain itu, taruhan uang (apalagi yang berjumlah besar) sangat berpotensi mengganggu pengelolaan keuangan yang selama ini kita coba lakukan dengan baik. Di saat telah menderita kekalahan, secara emosionil, kita semakin terpacu untuk mempertaruhkan uang yang semakin banyak agar bisa (baca: diharapkan) membayar kekalahan sebelumnya (syukur-syukur memperoleh keuntungan). Saya ingatkan, janganlah pernah berpikir untuk membangun keuangan pribadi dengan hasil kemenangan bertaruh.</p>
<p>Selamat menikmati Piala Dunia 2006 sambil tetap mengelola keuangan!!</p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=269&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_269" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=269&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/piala-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hemat vs Pelit</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/hemat-vs-pelit/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/hemat-vs-pelit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 08:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/hemat-vs-pelit/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang salah mengartikan bahwa pengelolaan keuangan identik dengan pelit. Tentu saja hal ini salah; yang benar adalah bila kita melakukan pengelolaan keuangan dengan baik, maka kita menjadi orang yang hemat. Lah, apa sih bedanya hemat dan pelit itu??
Orang yang hemat adalah orang yang menggunakan uangnya secara bijaksana; sebagian besar terutama untuk hal-hal yang memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang salah mengartikan bahwa pengelolaan keuangan identik dengan pelit. Tentu saja hal ini salah; yang benar adalah bila kita melakukan pengelolaan keuangan dengan baik, maka kita menjadi orang yang hemat. Lah, apa sih bedanya hemat dan pelit itu??</p>
<p>Orang yang hemat adalah orang yang menggunakan uangnya secara bijaksana; sebagian besar terutama untuk hal-hal yang memang benar-benar <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/05/butuh-vs-ingin/">dibutuhkan</a> dan penting. Namun demikian, dia juga tetap tidak mengesampingkan kewajibannya sebagai umat beragama; misalnya persepuluhan, zakat, infak, dll. Selain itu, dia juga tetap memperhatikan kasih kepada sesama manusia; sehingga tetap rela memberikan sebagian miliknya untuk membantu orang lain yang dalam kesulitan misalnya korban gempa Jogjakarta yang baru lalu, korban Tsunami Aceh, dll.</p>
<p>Sedangkan orang yang pelit adalah orang yang berusaha sekuat tenaga untuk meminimalkan penggunaan uangnya; bahkan termasuk untuk kebutuhan yang penting sekalipun.</p>
<p>Sudah jelas khan bedanya?? Pilih jadi orang hemat apa orang pelit?? <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=264&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_264" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=264&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/hemat-vs-pelit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Naik Gaji</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jun 2006 02:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Januari, April, dan Mei merupakan bulan-bulan yang dinanti kebanyakan kaum pekerja. Kenapa?? Karena pada bulan-bulan itu, banyak perusahaan melakukan evaluasi kinerja dan gaji. Nah kali ini saya ingin diskusi sedikit tentang kenaikan gaji dan hubungannya dengan pengelolaan keuangan pribadi.
Kenaikan gaji cenderung mengakibatkan kenaikan pengeluaran. Hal ini sangatlah logis karena kita mulai memikirkan untuk membeli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Januari, April, dan Mei merupakan bulan-bulan yang dinanti kebanyakan kaum pekerja. Kenapa?? Karena pada bulan-bulan itu, banyak perusahaan melakukan evaluasi kinerja dan gaji. Nah kali ini saya ingin diskusi sedikit tentang kenaikan gaji dan hubungannya dengan pengelolaan keuangan pribadi.</p>
<p>Kenaikan gaji cenderung mengakibatkan kenaikan pengeluaran. Hal ini sangatlah logis karena kita mulai memikirkan untuk membeli hal-hal yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Misalnya seorang karyawan (sebut saja Burhan) dengan gaji Rp 1 juta yang digunakannya untuk membayar kontrak rumah, biaya makan dan transportasi, dan sesekali menonton bioskop atau membeli pakaian. Saat Burhan mendapatkan kenaikan gaji sebesar Rp 200 ribu, maka dia mulai berpikir untuk membeli handphone bekas dengan cara menabung selama 3 bulan berturut-turut. Tahun depan, saat memperoleh kenaikan sebesar Rp 300 ribu, maka dia ingin membeli sepeda motor; kali ini dengan cara mengangsur. Kedengarannya cukup <i>familiar</i> bukan?? <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sekarang, mari kita coba melihat kenaikan gaji dari sisi lain. Bila selama ini kita tetap bisa hidup dengan standar gaji yang lama, kenapa kita tidak mencoba untuk menyimpan selisih gaji baru dengan lama ke <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/02/tabungan-vs-rekening-transaksi/">rekening tabungan</a>?? Minimal bila kita memang benar-benar membutuhkan dana tambahan, maka upayakan (baca: paksakan) untuk menabung sebagian selisih gaji baru dan lama tersebut. Dengan demikian, kita akan bisa menabung dengan baik dengan tanpa mengurangi kualitas hidup saat ini. Selain itu, kita tetap terlatih untuk senantiasa hidup hemat dan menggunakan uang dengan bijak.</p>
<p>Hal lain yang sering kita temui adalah <i>meng-ijon-kan</i> kenaikan gaji. Maksudnya begini, kita sudah memperkirakan bahwa dua bulan lagi kita akan menerima kenaikan gaji; dari pengalaman yang lalu, gaji naik rata-rata sekitar 15%. Menimbang saat ini gaji yang diterima adalah Rp 1 juta, maka kita memperhitungkan sejak dua bulan mendatang, kita akan memperoleh tambahan dana sebesar Rp 150 ribu. Pertimbangan ini membuat kita berani membeli TV baru dengan cicilan Rp 135 ribu selama sekian bulan ke depan. Perlu saya ingatkan, hal ini sangatlah buruk karena tidak ada seorangpun yang menjamin bahwa kita akan menerima kenaikan gaji Rp 150 ribu dua bulan mendatang.</p>
<p>Marilah kita secara bijak menyikapi penerimaan kenaikan gaji sehingga keuangan kita menjadi lebih baik dan <a href="http://weblogs.hianoto.net/2006/02/tabungan-vs-rekening-transaksi/">tabungan</a> kita semakin bertambah.</p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=263&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_263" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=263&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/06/naik-gaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Butuh vs Ingin</title>
		<link>http://weblogs.hianoto.net/2006/05/butuh-vs-ingin/</link>
		<comments>http://weblogs.hianoto.net/2006/05/butuh-vs-ingin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 May 2006 07:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hianoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://weblogs.hianoto.net/2006/05/butuh-vs-ingin/</guid>
		<description><![CDATA[Anda sedang mempertimbangkan untuk membeli TV baru karena TV yang ada sekarang sudah dimonopoli anak untuk menonton film kartun kesayangan, sedangkan pada saat yang sama Anda ingin menonton sinetron atau infotainment tentang artis kesayangan Anda?? Atau Anda justru sedang berpikir untuk menambah koleksi gaun malam dan tas cantik yang akan dipakai untuk ke acara resepsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda sedang mempertimbangkan untuk membeli TV baru karena TV yang ada sekarang sudah dimonopoli anak untuk menonton film kartun kesayangan, sedangkan pada saat yang sama Anda ingin menonton sinetron atau <i>infotainment</i> tentang artis kesayangan Anda?? Atau Anda justru sedang berpikir untuk menambah koleksi gaun malam dan tas cantik yang akan dipakai untuk ke acara resepsi pernikahan dll?? Bagaimana dengan satu set perhiasan bergemerlap untuk melengkapi gaun malam dan tas cantik yang baru tadi??</p>
<p>Pengelolaan keuangan menegaskan bahwa sebaiknya kita membeli barang karena kita memang membutuhkannya. Namun sayangnya, seringkali keputusan kita membeli sesuatu adalah terutama didasarkan pada hasrat/keinginan saja. Bila kita hendak mengatur keuangan pribadi dengan baik, maka kita harus pandai-pandai mengevaluasi apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut atau hanya sekedar ingin; misalnya ingin tampil &#8216;wah&#8217;, ingin terlihat kaya (walaupun saya lebih cenderung memilih untuk jadi kaya beneran ketimbang sekedar terlihat kaya <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> ), dan segudang keinginan lainnya.</p>
<p>Wah jadi pengelolaan keuangan sama dengan menyiksa diri dong?? <img src='http://weblogs.hianoto.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Sebenarnya bukan demikian.. Justru dengan pengelolaan keuangan, kita belajar menggunakan uang secara bijak; bukan sekedar dihambur-hamburkan saja. Lebih baik berhemat sekarang untuk memiliki tabungan yang cukup saat dipergunakan di kemudian hari.</p>
<p>Toh kita masih bisa ke resepsi pernikahan menggunakan gaun malam, tas, dan perhiasan yang ada. Toh kita masih bisa menonton TV bersama keluarga secara bergiliran; justru ini adalah sarana untuk kumpul bersama keluarga. Bayangkan bila setiap kamar tidur memiliki TV sendiri, maka kehidupan berkeluarga menjadi sepi karena setiap anggota keluarga masuk ke kamar tidur masing-masing untuk menikmati acara TV yang digemarinya.</p>
<p>Bila Anda setuju dengan ini, bukalah lembaran baru dengan membeli barang yang benar-benar dibutuhkan. Setidaknya bila Anda tetap membeli barang berdasarkan keinginan, pertimbangkanlah masak-masak terlebih dahulu; niscaya Anda akan memetik hasilnya di kemudian hari.</p>
<p class="akst_link"><a href="http://weblogs.hianoto.net/?p=261&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_261" class="akst_share_link" rel="nofollow">Share This</a>
</p><img src="http://weblogs.hianoto.net/?ak_action=api_record_view&id=261&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://weblogs.hianoto.net/2006/05/butuh-vs-ingin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
